
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, terdengar suara anak-anak TK bernyanyi lagu mari pulang, dengan kembali berbaris rapi di kelas.
Alina masih duduk menunggu Love, gak berapa lama Love nampak berlari kecil menghampiri Alina.
"Mama!"
Dengan cepat Love melompat ke pangkuan Alina.
"Sudah pulang Love, tadi belajar apa?" tanya Alina sambil membelai rambut Love.
"Belajar huruf, belajar gambar dan lagu!" jawab Love bersemangat.
"Oya? Lagu apa?" tanya Alina.
"Lagu kasih Ibu, tapi aku belum hapal lagunya, nanti Mama ajarin ya!" kata Love.
"Siap! Nanti pulang sekolah habis makan kita belajar lagi ya, nanti Mama ajarin!" sahut Alina.
"Kita pulang naik apa Ma?" tanya Love.
"Hmm, kita naik taksi ya, yuk jalan sekalian Mama pesankan taksi!" kata Alina sambil menuntun Love menuju ke luar sekolah.
Alina mulai membuka ponselnya, hendak memesan taksi online yang ada di aplikasi ponselnya itu.
Tin ... Tin ... Tin ...
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping mereka, kaca mobil itupun terbuka.
"Alina! Ayo naik! Sekalian pualng sama-sama!" seru pemilik mobil yang ternyata Aga itu.
"Trimakasih Ga, kami naik taksi saja!" tolak Alina.
"Sekalian, dari pada naik taksi! Ayolah!" ujar Aga sedikit memaksa.
Mobil di belakang sudah nampak mengantri, karena tidak enak Alina lalu mengajak Love naik ke mobil Aga.
"Kita naik mobil siapa Ma?" tanya Love.
"Kita naik mobil teman Love, siapa namanya tadi, Aiden ya!" jawab Alina.
"Iya sayang, Om ini juga temannya Mama, Aiden, ayo kasih samalm sama Tante dan teman barumu!" ujar Aga.
Aiden, anak laki-laki yang nampak pendiam itu lalu menoleh ke belakang dan menyalami Alina dan Love.
"Hmm, Ga, kami turun di jalan raya depan saja, nanti dari situ kami naik taksi sebentar, bukankah kau harus masuk kantor?" kata Alina yang merasa sungkan.
"Sudahlah Lin, aku antar saja kau sampai di rumah, sekalian tau rumahmu, iya Kan Aiden? Aiden mau tau rumah Lovely kan?" tanya Aga sambil menoleh ke arah Aiden yang duduk di sebelahnya.
"Iya Ayah!" sahut Aiden.
Alina tak bisa mengelak lagi, sebenarnya dia agak risih jikalau Aga mengantarnya pulang bersama Lovely, tapi dia tidak ada pilihan dan bertekad tidak akan lagi menumpang di mobil Aga.
Tak lama kemudian Alina sampai di rumah Stefan. Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang rumah itu.
"Maaf Lin, suamimu kerja di mana?" tanya Aga.
"Di Bank swasta!" sahut Alina.
"Oh!"
"Aku duluan ya Ga, trimakasih!" ucap Alina.
__ADS_1
"Terimakasih Om! Aiden!" seru Lovely sambil melambaikan tangannya.
Aga tersenyum sambil membalas lambaian tangannya, setelah itu mobilnya bergerak perlahan meninggalkan rumah itu.
Alina lalu menuntun Love masuk ke dalam rumahnya.
"Om yang temannya Mama?" tanya Lovely.
"Iya Love, tapi sudah ya, tidak usah di omongin lagi!" tukas Alina.
"Kenapa Ma? Aku kan jadi punya teman baru!" kata Love.
"Iya, maksudnya kita bicara yang lain saja, tadi katanya Love mau nyanyi lagu kasih Ibu? Yuk kita belajar sama Mama!" ujar Alina.
"Eh, si montok sudah pulang, tebak hari ini Mbak Inah masak apa ayo?" tanya Bi inah yang tiba-tiba nongol dari dapur.
"Masak ayam goreng!" tebak Love.
"Salah!"
"Masak Mie goreng!"
"Salah!"
"Lalu masak apa dong Mbak!!?" tanya Love mulai kesal.
"Masak ayam Krispy, pasti si montok suka kan??" sahut Inah.
"Yeaaaay!! Ayam crispy! Aku suka! Aku suka!" seru Love sambil melonjak senang.
"Eh, tapi Love ganti baju dulu dong, cuci tangan habis itu makan deh!" ujar Alina.
Love lalu langsung naik ke atas menuju ke kamarnya hendak mengganti seragamnya dan mencuci tangannya.
"Tadi, tadi aku di antar teman Mbak!" sahut Alina.
"Teman? Lho kok tumben, selama ini kalau mengantar jemput Love selalu naik taksi atau angkot!" kata Inah heran.
"Iya, temanku itu baru pindah Mbak, baru sebulan!" sahut Alina.
"Ooooh!" Inah membulatkan mulutnya.
****
Sore itu, Alina menunggu Stefan pulang kerja.
Dia dan Love sudah mandi dan wangi, hidangan makan malam sudah siap, rumah sudah rapi, kamar Stefan juga sudah sangat rapi dan harum.
Tin ... Tin ...
Terdengar suara klakson mobil Stefan.
Inah lanhsung dmehan sigap membukakan gerbang, mobil Stefan masuk dan langsung terparkir di garasi.
"Papa!"
Love berlari-lari kecil menyambut Papanya pulang.
Stefan langsung menangkap love dan menggendongnya.
"Hmm, anak Papa sudah harum, pasti sudah mandi!" kata Stefan.
__ADS_1
"Iya dong Pa! Kata Mama harus mandi dulu sebelum Papa pulang!" sahut Love.
Stefan menciumi wajah putrinya itu, ada rasa sayang yang mendalam yang terpancar dari wajahnya.
"Kak Stefan mandi dulu ya, air hangatnya sudah aku siapkan di kamar mandi!" ucap Alina.
"Iya Lin, Love ikut Mama dulu ya, Papa mau mandi, bau!" ujar Stefan sambil menyerahkan Love ke dalam gendongan Alina.
Alina lalu membawa Love ke ruang keluarga untuk menemaninya menonton film kartun anak-anak.
"Love, sudah hafal lagu kasih Ibu? Kalau sudah hafal boleh dong di tunjukan ke Papa!" kata Lina.
"Belum terlalu hafal Ma!" sahut Love.
"Mumpung Papa lagi mandi, yuk kita hafalin sekarang!" Ajak Alina.
"Ayo Ma!" sahut Love bersemangat.
Mereka berdua kemudian mulai menghafal lagu.
Tak lama Stefan turun dari tangga atas, dan langsung duduk bergabung dengan Alina dan Lovely.
"Wah, sedang apa nih?! Seru sekali kelihatannya!" tanya Stefan sambil duduk di samping Love.
"Ini lho Pa, Love mau nyanyi katanya!" sahut Alina.
"Nyanyi? Nyanyi apa? Papa mau dengar dong!" kata Stefan.
"Tidak mau! Aku belum hapal semua, besok pagi saja deh!" tukas Love.
"Tidak hafal tidak apa-apa kok, Papa cuma mau dengar suara Love!" desak Stefan.
Love kemudian berdiri dan mulai menyanyi.
"Kasih Ibu, kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali ..."
Tiba-tiba Love terdiam karena lupa syairnya.
"Bagai sang Surya menyinari dunia!" sambung Stefan dan Alina bersamaan.
Kemudian mereka bertepuk tangan dengan gembira.
"Wah, Love ternyata pintar menyanyi! Papa bangga padamu sayang!" ucap Stefan sambil memeluk buah hatinya itu.
"Iya dong, anak siapa dulu!" sambung Alina.
"Oya, tadi pulang dari sekolah kalian naik apa? Naik taksi atau angkot?" tanya Stefan.
Alina tiba-tiba terdiam, bingung mau menjawab apa.
"Tadi kami di antar sama Om temannya Mama Pa!" celetuk Love.
"Di antar Om? Om Teman Mama yang mana?" tanya Stefan bingung.
"Itu lho Pa, teman Mama yang anaknya satu sekolah sama aku!" sahut love polos.
Stefan lalu menoleh ke arah Alina seolah meminta penjelasan.
"Itu Kak, teman SMP dulu, dia baru pindah ke Jakarta, tapi tadi terpaksa ikut tawarannya, karena ..."
"Oooh!" potong Stefan cepat.
__ADS_1
Bersambung ...
****