Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Ancaman Pak Wiryo


__ADS_3

Pagi itu setelah sarapan, Nando berencana pergi ke kampusnya sebelum dia ke kantor. Ada beberapa tugas kuliah yang mau dia serahkan.


Sebelum berangkat, Nando menyempatkan diri untuk menengok Sandra di kamarnya.


"San, ini sarapan untukmu!" kata Nando sambil mengeluarkan beberapa bungkus roti dari kantong jaketnya.


"Terimakasih Nando, kau mau kemana?" tanya Sandra.


"Mau ke kampus sebentar, aku janji siang nanti aku sudah kembali!" sahut Nando.


"Semakin lama aku semakin takut Do, beberapa kali pembantumu membersihkan kamar ini, aku yakin dalam hati dia pasti curiga!" ujar Sandra.


"Oke, aku akan pikirkan bagaimana cara kau tetap aman, sekarang lebih baik kau tetap di sini, kunci pintu dari dalam, aku akan telepon kalau aku mau masuk, mengerti!" jelas Nando.


"Baik, untuk sementara aku masih bisa bertahan, sudah kau berangkat sana!" kata Sandra.


Nando menganggukan kepalanya, lalu dia segera keluar dari kamarnya itu. Sandra mulai mengunci kamar itu dari dalam.


Setelah pamit dengan orang tuanya, Nando kemudian segera berangkat dengan Roy asistennya.


Mbok Narti, perlahan menghampiri Lika yang masih berdiri di teras rumah itu.


"Bu ..."


"Iya Mbok, ada apa?" tanya Lika.


"Ada yang mau saya bicarakan Bu!" sahut mbok Narti.


"Bicara saja Mbok, ada apa sih?" tanya Lika makin kepo.


"Begini Bu, waktu saya membersihkan kamar Den Nando, saya melihat ada pakaian dalam wanita yang di jemur di balkon, tapi pas saya balik lagi, pakaian itu sudah tidak ada!" jelas Mbok Narti.


"Pakaian dalam wanita? Masa iya ada pakaian dalam wanita di balkon?" gumam Lika.


"Iya Bu, bukan cuma itu, di tempat sampah juga banyak bekas bungkus makanan dan ada bekas pembalut, aneh deh Bu!" lanjut Mbok Narti.


"Nando bilang kamarnya mulai angker, jangan-jangan ... "


"Jangan-jangan apa Bu? Saya lihat sendiri kok, ini bukan halusinasi, tapi kenyataan Bu!" ujar Mbok Narti.


"Baiklah Mbok, bagaimana kalau kita ke kamar Nando sekarang!" kata Lika.

__ADS_1


Mbok Narti menganggukan kepalanya, lalu mereka segera berjalan menuju kamar Nando.


Ceklek!


Lika mencoba membuka gagang pintu kamar itu, namun pintu itu terkunci.


"Pintunya di kunci Mbok, mungkin Nando mengunci pintu sebelum berangkat tadi!" kata Lika.


"Lho, biasanya kalau saya masuk, pintunya tidak pernah di kunci, kenapa sekarang jadi di kunci ya!" gumam Mbok Narti bingung.


"Sudahlah Mbok, sekarang Mbok Narti istirahat atau lanjutkan memasak saja, mungkin Mbok Narti sedang lelah!" kata Lika.


"Tapi Bu ..."


"Oya Mbok, nanti tolong siapkan kamar Kezia ya, katanya siang ini dia dan bayinya mau main ke sini!" lanjut Lika.


"Baik Bu ..." sahut Mbok Narti yang langsung berjalan ke arah kamar Kezia.


Lika lalu mendekati suaminya yang masih duduk di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya.


"Ada apa sayang?" tanya Ricky.


"Ini Lho Pa, kata Mbok Narti dia melihat pakaian wanita di kamar Nando, saat aku mau mengecek, pintu kamarnya terkunci!" jelas Lika.


"Aku juga tidak yakin sih Pa, atau jangan-jangan, Mbok Narti mulai pikun, dia kan sudah bekerja dengan kita dari Nando masih SD, sekarang Mbok Narti sudah tua dan sepuh, wajar saja kan kalau dia mulai pikun!" ujar Lika.


"Kau benar juga sayang, sepertinya Mbok Narti sudah saatnya pensiun, biarlah kita merawatnya seperti kita merawat nenek dulu, nanti kita cari lagi pengganti Mbok Narti!" kata Ricky. Lika menganggukan kepalanya.


****


Sementara itu, Nando yang baru turun dari mobilnya di depan kampusnya, mendadak terkejut saat ada sebuah tangan yang menepuk bahunya.


Saat dia menoleh, matanya melotot saat melihat siapa orang yang menepuk bahunya itu. Dia adalah Pak Wiryo, ayah tiri Sandra.


"Kau??" tanya Nando kaget.


"Hmm, akhirnya aku menemukan jejakmu, di mana Sandra?!" tanya Pak Wiryo.


"Aku tidak tau!" cetus Nando.


"Bohong!! Jelas-jelas kau yang membawanya pergi, gara-gara dia, si germo tua itu minta ganti rugi uang dariku, Sandra benar-benar anak tak tau diri!" sengit Pak Wiryo.

__ADS_1


"Kau juga Ayah yang tak tau diri! Menjual anaknya demi keuntungan pribadi, tidak berguna!" hardik Nando.


Bughh!!


Tiba-tiba Pak Wiryo menonjok wajah Nando, Nando meringis menahan sakit sambil memegangi pipinya.


Saat itu Roy baru keluar dari mobil nya.


"Huh! Tuan Nando selalu dalam masalah!" sungut Roy.


"Sekarang katakan, di mana Sandra??" tanya Pak Wiryo.


"Aku tidak tau!!" sahut Nando.


"Baik, aku punya cara damai, kau beri aku uang tutup mulut, kalau kau tidak memberikan aku uang, aku akan katakan pada Germo tua itu di mana keberadaanmu dan kampusmu, sehingga anak buah nya mengejarmu ke sini!" ancam Pak Wiryo.


"Berapa uang yang kau butuhkan?!" tanya Nando.


"Tidak banyak, hanya lima puluh juta saja di awal, sebagai uang tutup mulut, kau pasti ingin melindungi Sandra bukan??" sahut Pak Wiryo terkekeh.


Nando lalu mulai membuka dompetnya, lalu menulis di sebuah cek kosong, nominal uang yang di minta Pak Wiryo, lalu memberikannya pada laki-laki tua itu.


"Jangan ganggu aku lagi! Dan jangan pernah mencari Sandra!" dengus Nando.


"Kau tenang saja anak muda, semuanya aman kalau ada uang, tapi kalau uangku habis, aku akan datang lagi padamu!" ujar Pak Wiryo sambil tertawa dan mencium cek itu, kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.


"Dasar tua Bangka tidak tau malu!!" sungut Nando.


"Tuan, lama-lama kau akan bangkrut kalau memberinya uang terus, nanti uang gajiku di potong lagi!" kata Roy.


"Kau juga sama dengan dia Roy! Tidak berguna!!" sentak Nando.


"Eh, Tuan marah beneran??!" tanya Roy.


"Iya! Kau ini banyak bicara sedikit bertindak, apa gunanya badan besarmu itu?!!" dengus Nando.


Dari arah dalam kampus, Vania yang sejak tadi menunggu Nando nampak berjalan mendekati Nando yang masih berdiri di parkiran sambil memegangi pipinya yang kembali memar.


"Ya ampun Nando, kenapa lagi pipimu? Sebenarnya kau ada masalah apa sih? Ayo sini aku bersihkan dulu pipinya, aku lap ya pakai sapu tangan!" Dengan cepat Vania membasahi sapu tangannya dengan air mineral, lalu di bersihkan nya dan di usapnya pipi Nando yang memar itu.


"Terimakasih Van!" ucap Nando.

__ADS_1


"Iya, kau ini berkelahi dengan siapa sih Do, selama ini kau tidak punya musuh, lain kali lebih baik menghindar saja, duuh, ini pasti sakit ya!" Vania terus mengusap pipi Nando dengan sapu tangannya, beberapa kali matanya yang bening terus mencuri pandang pada wajah Nando yang memang sangat tampan itu.


****


__ADS_2