
Malam itu Nando tidur berbaring di samping Sandra sambil memandang foto-foto Kia yang ada di ponselnya.
Sebenarnya ingin sekali Nando datang menjumpai Kia, tapi dia sudah berjanji pada Vania akan menemani nya malam ini, selama ini Nando selalu bisa menepati janjinya, walaupun tidak sesuai dengan hati nuraninya.
"Kau belum tidur Do?" tanya Vania yang ternyata juga belum dapat memejamkan matanya.
"Belum! Aku masih kepikiran Kia, kira-kira dia mencari aku tidak ya? Kia selalu senang jika aku gendong!" jawab Nando sambil matanya tetap menatap ke arah ponselnya.
"Kau sangat suka anak kecil ternyata Do, besok bisakah kau menemani aku ke dokter? Aku mau konsultasi mengenai program bayi tabung!" kata Vania.
"Lebih baik kau fokus saja pada kesehatanmu, tidak usah menambah beban pikiran lagi soal bayi tabung!" ujar Nando.
"Do! Kenapa kau bilang seperti itu? Memangnya salah ya kalau aku juga ingin memberikanmu anak??" tanya Vania yang lagi-lagi matanya mulai memerah.
"Sudahlah Van, kau tak usah iri pada Sandra, ada anak atau tidak darimu, tidak bisa mengubah apapun juga!" sahut Nando.
"Apa maksud mu Do??" tanya Vania.
"Maksudnya, kau bisa punya anak atau tidak, hatiku tetap condong ke Sandra, dari pada kau makin sakit hati nanti, lebih baik sekarang aku bilang jujur padamu!" jawab Nando.
Vania langsung menangis mendengar ucapan Nando yang di rasa begitu menyakitkan baginya.
Baru kali ini Nando bicara begitu lugas dan terang-terangan pada Vania.
"Nando, apakah kau sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Vania terisak.
Nando lalu menoleh ke arah Sandra. Ponselnya dia letakan di samping tempat tidurnya.
"Vania, sejak awal aku selalu menganggapmu teman, sahabat, kau pasti tau itu kan, apa pernah keluar kata-kata cinta untukmu dari mulutku? Kalau kau pernah mendengarnya, katakan padaku!" ucap Nando.
Vania semakin terisak, memang benar apa yang di ucapkan Nando, selama ini Nando tidak pernah sekalipun mengatakan kata cinta untuk Vania, panggilan sayang juga belum pernah keluar dari mulut Nando, namun selama ini Vania selalu mengabaikannya, karena cintanya yang terlalu besar untuk Nando.
"Maafkan aku Vania, aku mungkin bukan laki-laki yang baik untukmu, jangan terlalu dalam mencintai aku, nanti kau akan sakit sendiri!" ucap Nando sambil menatap ke arah Vania.
Vania tidak menjawab, hatinya terlalu sakit, ini adalah seperti petir yang menggelegar di siang bolong, terdengar sangat menyakitkan dan menakutkan.
Vania lalu membenamkan kepalanya di balik bantal, supaya dia bisa puas menangis di sana.
Nando menarik nafas panjang, sebenarnya lak-laki itu tidak tega mengatakan hal yang menyakitkan itu, tapi dia juga tidak ingin Vania terlalu berharap padanya.
__ADS_1
Betapa sakit hati Vania, dia menikah dengan laki-laki yang hatinya tidak pernah ada rasa cinta untuknya, walaupun seribu kali dia bisa menguasai tubuh Nando, memuaskan hasrat Nando, namun tidak bisa dia menguasai hati Nando.
Hatinya hanya milik Sandra seorang, bantal Vania kini telah basah akibat air mata yang terlalu deras mengalir.
"Van, maafkan aku ya, maafkan aku!" ucap Nando berkali-kali.
Vania diam saja tanpa memberikan jawaban apa-apa, hatinya terlalu sakit, orang yang sangat di cintainya tidak bisa mencintainya, cintanya bertepuk sebelah tangan, walaupun kini dia sudah menjadi istri sah dari Nando.
Drrrt ... Drrrt ... Drrt
Ponsel Nando tiba-tiba bergetar, ada panggilan masuk dari Lika ibunya.
Buru-buru Nando mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Bu!" sapa Nando.
"Nando, Kia rewel, sejak tadi dia menangis terus, kasihan Sandra sudah capek mengendong dan menyusuinya, Kia kelihatan agak demam Do!" kata Lika.
"Oke Bu, aku otw sekarang ya!" jawab Nando cepat.
"Ya, kami tunggu, jangan lupa pamit dulu dengan Vania istrimu!" ujar Lika sebelum menutup teleponnya.
"Van, malam ini aku tidur di rumah Ibu ya, Kia demam!" kata Nando.
"Kenapa kau tanya lagi Do? Aku mengijinkanmu atau tidak, tetap saja kau akan pergi kan?!" sahut Vania terisak.
"Yah, tapi kau jangan menangis Van, aku tidak tahan lihat orang menangis!" ujar Nando.
"Sudah, kau urusi saja anakmu sana, tidak usah mengurusi ku lagi!" cetus Vania yang langsung menarik selimutnya menutupi tubuh dan kepalanya.
Nando langsung beranjak dari tempat tidurnya, dia menyambar jaketnya dan langsung keluar dari kamarnya.
Dok ... Dok ... Dok
Nando mengetuk keras pintu kamar Roy yang terletak di samping rumah dekat garasi.
Roy keluar dengan sarung yang masih melingkar di tubuhnya.
"Hoaaam, apaan sih Tuan? Ada maling atau rampok??" tanya Roy yang matanya merah karena habis tidur.
__ADS_1
"Maling kepalamu!! Ayo antar aku ke rumah Papa!" sahut Nando.
"Apa?? Malam-malam begini? Tuan mimpi atau ngigo??" tanya Roy.
"Sudah cepat ganti bajumu!! Aku tidak sedang bercanda tau! Anakku sakit, aku harus datang sekarang juga!!" sahut Nando.
Dengan enggan Roy kemudian mengganti pakaiannya dan berjalan keluar ke arah mobil yang sudah terparkir di dekatnya.
Mereka langsung meluncur ke rumah Ricky.
Tak lama kemudian Nando sudah sampai di rumah orang tuanya itu, tanpa menunggu lagi dia langsung masuk ke kamar Sandra.
Sandra yang sedang menyusui Kia melonjak kaget melihat kedatangan Nando yang tiba-tiba itu.
"Nando?? Kenapa kau masuk tidak ketuk pintu dulu??" sergah Sandra melotot.
"Eh maaf, lagian juga sebentar lagi kau akan jadi istriku, hitung-hitung latihan!" sahut Nando sambil menggaruk kepalanya.
"Hmm, kenapa kau datang kesini? Kau pasti meninggalkan Vania sendirian lagi!" cetus Sandra.
"Tadi Ibu menelepon aku San, katanya Kia rewel, badannya demam, ya aku jelas panik lah!" ujar Nando.
"Tadi Kia memang rewel, tidur susah, menyusu tidak mau, badannya juga hangat, sekarang dia baru mau menyusu setelah kecapean menangis, kasihan dia sudah sangat ngantuk!" jelas Sandra.
"Kalau begitu sini berikan Kia padaku, aku akan menjaganya sampai pagi!" Nando langsung menarik Kia yang masih menyusu, alhasil ASI Sandra langsung muncrat mengenai wajah Nando.
"Nando!! Jangan asal tarik dong!!" sengit Sandra yang berusaha menutupi dadanya yang telanjur menyembul di hadapan Nando.
Nando tersenyum nakal.
"Nanti kalau kita sudah menikah, boleh dong aku cicipi susunya Kia, enak juga!" ucap Nando sambil mengedipkan sebelah matanya.
Buru-buru Sandra menutupi dadanya dengan wajah yang memerah.
"Kau temani Kia di luar saja! Aku capek mau tidur!" sungut Sandra sambil berbaring membelakangi Nando.
"Yuk Kia di luar sama Papa ya, biarin Mama bobo, capek dia! Makanya Kia jangan rewel lagi ya!" bisik Nando pada Kia sambil melangkah keluar dari kamar itu.
Bersambung ...
__ADS_1
****