Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Belajar Menerima


__ADS_3

Matahari sudah tenggelam ketika Nando sampai di Jakarta.


sepanjang perjalanan Kia nampak begitu tenang, padahal secara usia Kia belum di perbolehkan naik pesawat, namun Nando bisa meyakinkan petugas bandara untuk membawa bayi mungil nya itu dengan alasan darurat.


Mereka kemudian naik ke dalam mobil Nando yang terparkir di parkiran bandara.


"Kita mau pulang ke mana nih Tuan?" tanya Roy saat mereka keluar dari Bandara.


"Kita pulang dulu ke rumah Ibu dan Papa!" jawab Nando.


"Tuan serius?? Yakin tidak ada masalah?" tanya Roy.


"Di rumah orang tuaku mereka lebih aman, kau tau kan Roy, betapa berbudi nya dan baiknya kedua orang tuaku, walau mereka keluarga terhormat, tapi mereka tidak pernah membedakan orang!" jawab Nando.


"Aku akan cari rumah kontrakan saja!" cetus Sandra.


"Aku tak akan membiarkanmu!" sergah Nando.


"Sudah! Sudah! Jangan berdebat, okelah kita pulang ke rumah tuan besar! Saya sudah capek Tuan, ngantuk!" sungut Roy.


Mereka kemudian meluncur ke rumah kediaman Ricky, Papanya Nando.


"Roy, sementara kau jangan katakan pada siapapun kalau aku membawa Sandra dan Kia!" ujar Nando.


"Maksud Tuan, di depan Tante Rina dan Vania??" tanya Roy.


"Iya, aku tidak mau mereka tau!" sahut Nando.


"Beres deh Tuan, asal ada uang pelicin nya, di jamin aman!" ujar Roy.


"Dasar mata duitan!!" cetus Nando.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah besar orang tua Nando. Jantung Sandra berdegup sangat cepat, ini pertama kalinya Sandra akan di bawa secara terang-terangan oleh Nando di rumah ini.


Di ruang tamu yang luas itu, sudah ada Ricky dan Lika yang duduk menunggu kedatangan Nando, juga Kezia dan Jonathan, keluarga kakaknya Nando.


"Selamat malam Papa, Ibu, Kak Kezia, Bang Jo ..." sapa Nando.


Di sebelahnya sudah berdiri Sandra sambil menggendong Kia. Sementara Roy langsung mencuci mobil di halaman luar.


Lika langsung bangkit dan berjalan mendekat ke arah Nando dan Sandra.

__ADS_1


"Jadi ini cucu Ibu? Kalian pasti lelah, ayo sini Sandra, ajak bayimu istirahat di kamar!" ajak Lika yang langsung berjalan menuju kamar tamu. Sandra mengikutinya dari belakang.


Ricky menatap tajam ke arah Nando, Nando hanya menunduk di hadapan Papa dan kakaknya tanpa berani bicara apapun.


"Nando!! Kenapa kau tidak bilang sama Kakak kalau Sandra itu pacarmu dulu?? Pantas saja kau minta aku untuk menampungnya di rumahku!" sengit Kezia.


"Tapi aku tidak pacaran sama Sandra kak!" sangkal Nando.


"Kau ini Do! Sejak dulu kau polos tidak pernah pacaran! Sekalinya berhubungan langsung menghamili perempuan!! Dasar buaya!! Mata keranjang!!" Maki Kezia.


Nando hanya diam saja Kezia mencaci makinya, dia tau kakaknya itu tidak benar-benar membenci dia dan Sandra.


"Dasar mesum!! Masih muda sudah pintar membuat anak!! Bahkan kuliahmu saja tidak lulus-lulus!!" lanjut Kezia.


Jonathan suaminya hanya bisa menepuk bahu Kezia untuk menenangkannya.


"Jo, ajak Kezia ke kamarnya, Papa mau bicara berdua dengan Nando!" titah Ricky.


"Baik Pa!" sahut Jonathan yang langsung berdiri dan membawa Kezia menuju ke kamar mereka.


Sementara Nando masih tetap diam berdiri di tempatnya. Tidak berani dia menatap wajah Papanya itu.


Ricky bangkit dari tempatnya dan berjalan ke arah Nando. Kini mereka berdiri saling berhadapan.


"Maafkan aku Pa, aku khilaf, saat itu, aku sedang mabuk karena minuman keras!" jawab Nando jujur.


Plaakkk!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nando.


Nando meringis sambil memegangi pipinya yang kini kemerahan itu.


"Kapan Papa pernah mengajarimu mabuk-mabukan?? Kalau ada masalah apapun mengapa kau tidak jujur sejak awal??" berang Ricky.


"Maafkan aku Pa! Waktu itu aku bingung, Sandra adalah seorang bekas wanita malam, tidak ada seorangpun yang mau memandangnya, bahkan dia tidak di terima di mana pun! Aku hanya ingin melindunginya, tapi siapa sangka, aku mulai jatuh cinta padanya!" ungkap Nando.


"Lalu, kenapa kau menikahi Vania?!" tanya Ricky.


"Sejak awal, Ibu sangat menyukai Vania, Papa juga, apalagi kalian berteman dengan Mamanya Vania ... saat Ibu sakit, yang di inginkannya hanyalah aku segera menikahi Vania, demi membahagiakan Ibu dan keluarga, aku terima demi kesembuhan Ibu! Karena frustasi aku mabuk, malam itu hanya Sandra dan Roy yang menemaniku, hingga akhirnya ..."


"Cukup!! Jangan bahas masa lalu lagi, Papa, Nando sudah mengakui kesalahannya, sekarang biarkan dia istirahat dulu, mau tidak mau, suka tidak suka, sekarang kita sudah memiliki cucu dari Nando, kita sudah punya dua cucu Pa!" Ujar Lika yang tiba-tiba muncul dari kamar tamu.

__ADS_1


Ricky terdiam, lalu dia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu itu.


"Perbuatan Nando memang keterlaluan dan memalukan, sekarang adalah kita harus memikirkan solusi, bukan terus menyalahkan Nando!" lanjut Lika yang duduk di samping suaminya itu sambil mengelus dadanya, untuk mencoba menenangkannya.


"Nando, sekarang kau pulanglah pada Vania, tadi jeng Rina menelepon, katanya ponselmu tidak aktif sejak siang, Vania saat ini sedang membutuhkanmu! Walau bagaimana, dia adalah istrimu Nando!" ucap Lika sambil menatap ke arah Nando.


"Tapi Bu ..."


"Jangan kau pikirkan Sandra dan anakmu, mereka akan aman di sini, kau jangan khawatir, pergilah Nando, Vania menunggumu di rumah sakit!" titah Lika.


Dengan langkah gontai Nando berlalu dari ruang tamu itu, kemudian berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir dan sudah bersih.


"Kita mau kemana lagi Tuan?" tanya Roy.


"Ke rumah sakit!" sahut Nando.


"Okelah, yuk meluncur!!" Roy langsung menyalakan mesin mobil dan langsung melajukannya keluar dari rumah besar itu.


Sementara Ricky dan Lika masih nampak duduk di sofa ruang tamu itu.


"Aku merasa gagal menjadi seorang ayah!" ujar Ricky.


"Tidak, siapa bilang kau gagal, tidak ada manusia sempurna di dunia ini, termasuk Nando!" sahut Lika.


"Tapi perbuatannya itu sangat memalukan! Melakukan hubungan di luar pernikahan!" tambah Ricky.


"Tapi Nando bertanggung jawab, dan dia terlihat sangat menyayangi anaknya, cucu kita!" ucap Lika.


"Cucu ... aku merasa semakin tua!" gumam Ricky.


"Tapi kau tetap gagah dan tampan!" sahut Lika.


"Terimakasih sayang! Akhirnya kita bisa menua bersama juga!" bisik Ricky yang mulai memeluk erat istrinya itu.


Sementara itu, Sandra yang kini terlihat duduk di tepi tempat tidur besar itu terus memandangi Kia yang terlihat nyenyak tertidur.


Dulu dia pernah tinggal di rumah ini dengan sembunyi-sembunyi, sekarang Sandra bisa menegakkan kepalanya, setidaknya ini lebih baik.


Sandra tersenyum sambil menatap wajah bayi mungilnya itu.


"Ini adalah rumah keluargamu Kia, kau akan mendapat banyak kasih sayang di rumah ini, jadilah wanita terhormat dan bijaksana seperti Nenek Lika!" ucap Sandra pada bayinya.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2