Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Kondisi Sandra


__ADS_3

Nando masih nampak duduk terpekur di depan ruang UGD itu, Sandra masih di dalam sedang di tangani oleh Dokter.


"Kia!"


Tiba-tiba Nando teringat Kia putrinya, dia ingin menelepon ke rumah, namun setelah merogoh di kantongnya ,ternyata Ponselnya ketinggalan di rumah.


Seorang Dokter keluar dari tuang UGD. Nando dengan cepat berjalan mendekati Dokter itu.


"Dokter! Bagaimana keadaan istri saya!?" tanya Nando sambil mengguncang tubuh Dokter.


"Tenang Pak! Saat ini istri anda sedang di tangani Dokter, ada pendarahan di kepalanya, saat ini dia masih belum sadar!" jelas Sang Dokter.


"Aku ingin melihat istriku! Aku mohon Dokter!" pinta Nando sambil mengatupkan tangannya di depan dadanya.


"Baiklah, anda boleh masuk untuk melihat kondisinya, tapi jangan membuat keributan atau kegaduhan!" sahut Dokter memperingatkan.


"Baik!"


Nando langsung masuk ke dalam ruangan itu, Fitri nampak berbaring dengan banyak alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.


Kepalanya di perban, namun masih terlihat ada darah yang terus merembes. Wajahnya terlihat sangat pucat.


Perlahan Nando mendekati Sandra, dia duduk di samping ranjang itu, menggenggam hangat tangan Sandra.


"San, maafkan aku, mengapa kau jadi seperti ini San? Aku mohon bukalah matamu! Aku membutuhkanmu! Kia membutuhkanmu!" ucap Nando sambil mengecup jemari Sandra.


Tidak ada jawaban apapun dari mulut Sandra, dia belum sadarkan diri, hanya terdengar suara alat monitor jantung yang terpasang langsung ke tubuh Sandra.


Hati Nando teriris perih, betapa beratnya mempertahankan kebahagiaannya dengan Sandra.


"San, kalau Vania ingin minta cerai dari aku, aku akan menceraikannya, setelah itu kita akan pergi jauh dari sini, aku, kau dan Kia!" ucap Nando.


"Setelah itu aku akan merajut mimpi-mimpi kita, membesarkan anak-anak kita, hanya kau dan aku bukan yang lain!" lanjut Nando yang kembali mulai menitikkan air matanya.


Sebuah tangan menyentuh bahu Nando, Nando menoleh kebelakang.

__ADS_1


"Bang Jo?" Nando terperangah melihat kehadiran kakak ipar nya itu.


"Dari mana Bang Jo tau aku ada di sini?" tanya Nando.


"Aku lihat berita kecelakaan lalulintas, aku kaget saat melihat Sandra yang jadi korban, lalu aku langsung ke rumah sakit ini mencarimu!" jawab Jonathan.


"Apa kah Papa dan Ibu sudah tau?" tanya Nando. Jonathan menggelengkan kepalanya.


"Aku belum sempat memberitau mereka!" sahut Jonathan.


"Bang, tolong Kia Bang, Kia ada bersama Mbok Karsih, Kia pasti haus mencari susu Ibunya, saat ini Sandra masih belum sadar, tolong beritahu Ibu untuk menjaga Kia!" mohon Nando.


"Kau tenang saja Do, aku pasti akan memberitahukan mereka semua, tapi ... di mana Vania?" tanya Jonathan.


Nando tertegun, sejak dia panik dengan kondisi Sandra dia bahkan tak menoleh terhadap Vania, sampai sekarang tidak tau bagaimana kondisi Vania.


"Aku tidak tau Bang!" jawab Nando.


"Ya sudah, kalau begitu aku pamit pulang, kalau kau butuh apa-apa hubungi saja aku, tapi kau jangan larut dalam suasana Do, kau harus bisa menjaga kesehatanmu sendiri, demi istri dan anakmu!" ujar Jonathan.


Nando kembali beralih pada Sandra yang masih terbaring lemah, sampai saat ini dia belum sadar juga, entah sampai kapan dia akan sadar.


Tiba-tiba ada gerakan tangan Sandra di telapak tangan Nando.


"Sandra?" Nando segera berlari mencari Dokter atau suster.


"Suster! Dokter! Tangan Sandra bergerak!" teriak Nando.


Seorang Dokter dan beberapa suster nampak datang ke ruangan Sandra. Dokter mulai memeriksa Sandra.


"Ada gerakan yang merespon, tapi dia masih belum sadar, tunggu saja sampai beberapa jam kedepan, mufah-mudahan ada perkembangan!" kata Dokter.


"Jadi dia belum sadar?" tanya Nando kecewa.


"Tenang Pak Nando, perlahan istri anda pasti akan segera pulih, lebih baik Pak Nando berdoa saja untuk kesadaran istri Bapak!" usul Dokter.

__ADS_1


Nando hanya bisa menganggukan kepalanya sambil kembali menggenggam tangan Sandra.


****


Adi menuntun Vania memasuki rumahnya yang cukup besar dan minimalis. Lalu menuntunnya duduk di sebuah sofa yang ada di ruang tamu.


"Vania, kau beristirahatlah dulu di sini, tenangkan pikiranmu, jangan takut, aku tak akan meninggalkanmu!" ucap Adi.


"Terimakasih!" ucap Vania lirih.


"Jangan sungkan, kau bisa istirahat di kamar tamu yang ada di situ, kalau kau butuh apapun jangan sungkan menghubungiku, kamarku ada di atas!" kata Adi.


Vania hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab ucapan Adi.


"Hari sudah malam, sebaiknya kau istirahat saja di kamar, mari aku antar!" Adi lalu menuntun tangan Vania menuju ke sebuah kamar tamu yang ada di lantai bawah itu.


Vania menurut saja saat Adi membawanya untuk beristirahat di kamar itu, sebuah kamar tamu yang cukup nyaman untuk beristirahat.


"Aku salah! Aku jahat! Aku yang membuat Sandra celaka! Aku jahat!!" tiba-tiba Vania berteriak histeris.


Adi yang baru saja hendak meninggalkan kamar itu langsung berbalik arah, dia memegangi tangan Vania yang hendak menjambak rambutnya sendiri.


"Vania! Ada apa denganmu?? Kenapa kau bisa seperti ini??" tanya Adi sambil memegang bahu Vania yang nampak depresi itu.


"Aku jahat!! Aku salah!! Aku yang membuat Sandra celaka!! Sandra!! Maafkan aku, aku salah!" jerit Vania.


Adi langsung merengkuh Vania dalam pelukannya.


"Maafkan aku Vania, sebenarnya, apa yang terjadi dengan kalian?! Katakanlah padaku!" seru Adi.


Vania hanya terlihat menangis sesenggukan tanpa bicara apa-apa lagi.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2