
Malam itu Nando masih nampak duduk di ruang tamu, satu demi satu orang-orang pulang ke tempat mereka masing-masing.
Seharian ini Nando merasa tubuhnya sangat lelah sekali, padahal seluruh acara di lakukan di rumah, tapi rasanya begitu lelah.
Nando lalu menghempaskan tubuh lelahnya di sofa ruangan itu, semua tenda dan dekorasi sedang di bereskan, terdengar suara tenda yang di bongkar.
"Do, malam ini biar Kia tidur bersama Ibu dan Papa, kalian istirahatlah di kamar!" ujar Lika.
"Iya Bu!" sahut Nando.
"Vania dan Mamanya tidak datang?" tanya Ricky.
"Tidak tau Pa, padahal aku sudah bilang sama mereka!" sahut Nando.
"Hmm, kasihan mereka. Terutama Vania, dia pasti sangat sedih, bagaimana tidak sedih, suaminya menikah lagi dengan wanita lain!" ujar Ricky.
"Itu karena ada seorang anak hasil hubungan Nando dan Sandra, kalau bukan karena Kia, kami juga tidak akan mendesak mu menikah Nando!" tambah Lika.
"Nando, sekarang kau pulang ke rumah mu dulu, temui Vania, walau bagaimana kau telah melukai hatinya!" titah Ricky.
"Tapi Pa ..."
"Kau dengar saja apa kata Papamu Nando, setelah ibu pikir, kasihan juga Vania, hatinya pasti sedang sakit saat ini, sebagai suami, kau wajib untuk menguburnya!" ucap Lika.
Nando terdiam, sebenarnya dia masih ingin di sini, bermain dengan Kia, mengobrol dengan Sandra Yang sekarang sudah sah jadi istrinya.
"Anakmu sudah punya status sekarang, giliran waktu nya kau hibur Vania, kau jangan lupa kalau dia juga adalah istrimu!" lanjut Ricky.
"Baik Pa! Tapi aku mau ijin dulu dengan Sandra dan Kia!" ujar Nando dengan langkah gontai langsung menuju ke kamarnya.
Kamar itu sudah di hiasi dan di dekorasi sedemikian rupa, namun tidak ada seperti cerita pasangan pengantin pada umumnya, yang menikmati malam pertama yang selalu di tunggu para pasangan pengantin.
Nando hanya termangu menatap kamarnya yang terlihat indah itu, ingin rasanya dia memadu kasih dengan orang yang di cintainya. Namun lagi-lagi dia harus mendengarkan perkataan kedua orang tuanya.
"Hei Nando! Kenapa kau malah bengong di situ??" tanya Sandra yang sedang menyusui Kia.
"San, maafkan aku, Papa menyuruhku untuk pulang ke rumah!" jawab Nando sedih.
"Papa benar Nando, seharusnya kau memang pulang, Vania menunggumu di rumah!" sahut Sandra.
"Tapi San, ini adalah malam pertama kita, apakah kita akan melewatinya begitu saja??" tanya Nando.
"Bukankah masih ada malam-malam berikutnya, kita menikah bukan hanya untuk malam ini saja kan?" sahut Sandra.
"Tapi ..."
"Kau harus ingat bahwa kau mempunyai dua orang istri, dan sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, kau harus bersikap adil!" ujar Sandra.
__ADS_1
"Tapi kalau aku pergi malam ini, bukanlah itu tidak adil untukmu??"
"Aku tidak masalah, paling tidak aku dan Kia sudah punya status yang jelas, dan itu sudah cukup membuatku bahagia!" ucap Sandra.
Nando maju dan memeluk Sandra dengan erat, Kia ada diantara mereka.
"Kalau aku boleh memilih, aku hanya ingin menikahi seorang wanita saja dalam hidupku!" bisik Nando.
"Pergilah Nando, ada hati yang harus kau jaga perasaanya, apalagi hari ini Vania tidak hadir, hati nya pasti terluka!" balas Sandra.
Perlahan Nando mengurai pelukannya, dia kini mulai mencium Kia yang masih terlihat asyik menyusu pada dada Mamanya.
"Buka mulutnya Kia, Papa ingin menyusu juga, paling tidak mencicipi sedikit malam pertama!" bisik Nando.
Bayi itu mulai melepaskan hisapannya dari mulut mungilnya, seolah mengerti apa yang Papanya inginkan.
Dengan cepat Nando mulai menghisap dada Sandra dengan kuat, hingga Sandra meringis menahan sakit.
"Nando sudah! Kau ini apa-apaan sih! Kendalikan hasrat mu barang sedikit!" sengit Sandra.
Nando lalu melepaskan hisapannya, ada rasa kurang puas yang terpancar dari matanya.
"Pokoknya besok malam aku harus tidur di sini!" ucap Nando dengan nafas terengah-engah.
"Dasar laki-laki mesum!" cetus Sandra yang kembali menyusui Kia.
"kau pun juga mesum pada Vania! Aku yakin itu!" sahut Sandra.
"Tidak! Vania yang selalu duluan mengajakku, dia yang berinisiatif, akunhanya menurutinya saja!" jawab Nando.
"Sama saja! Kau menikmatinya kan??" sahut Sandra.
"Kalau milik kita di buat enak apakah aku harus munafik? Atau harus aku tolak?? Itu akan lebih menyakitkannya!" ujar Nando tak mau kalah.
****
Malam itu akhirnya Nando kembali pulang ke rumahnya, rumah yang kelihatan sepi karena hari memang sudah jauh malam.
Nando membuka pintu rumahnya dan langsung melangkah menuju ke kamarnya.
Di kamar itu, Vania sudah nampak tertidur dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya. Lampu kamar juga sudah di matikan.
Nando masuk dan mulai membuka lemari pakaian untuk mengganti pakaiannya.
Mendengar ada suara di dalam.kamatnya, Vania mengerjapkan matanya.
"Itu siapa ya? Mama?" seru Vania sambil mengucek kedua matanya.
__ADS_1
"Bukan! Ini aku!" sahut Nando.
"Nando?? Kau pulang?" tanya Vania, wajahnya nampak berbinar.
"Iya, aku mau ganti baju dulu!" jawab Nando sambil mulai mengganti bajunya dengan piyama tidur.
Kemudian Nando langsung membaringkan tubuhnya di samping Vania dengan membelakanginya sambil memeluk gulingnya.
"Kenapa kau pulang ke sini? Bukankah ini adalah malam pertama mu dengan istri keduamu itu?" tanya Vania.
"Sudah, jangan bicara lagi, aku sangat mengantuk!" sahut Nando.
"Nando, ayolah menghadap ke sini, apa kau capek seharian ini, mau aku pijat badanmu?" tanya Vania menawarkan diri.
"Tidak usah Van, aku mengantuk mau tidur saja!" sahut Nando tetap dalam posisi semulanya.
"Baiklah! Selamat tidur Nando!" ucap Vania akhirnya.
Hening
Tidak ada suara sama sekali, mereka seolah tidur tapi masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa kau tidak datang hari ini ke rumah orang tuaku?" tanya Nando memecah keheningan.
"Aku takut tidak kuat Do!" sahut Vania.
"Tidak kuat kenapa?" tanya Nando.
"Mana ada sih wanita di dunia ini yang ikhlas di madu, dari pada aku sedih dan menangis di sana, lebih baik aku tidak usah datang melihatmu!" jawab Vania.
"Tapi kau harus bisa menerima kenyataan ini!" ujar Nando.
"Aku tidak ada pilihan lain, mau tidak mau memang aku harus menerima kenyataan!" sahut Vania.
"Baguslah, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan mu lagi!" ujar Nando.
"Sekarang kau tidurlah Nando, bukankah seharian ini kau sangat lelah??"
"Yah, aku mau tidur, good night Vania!" ucap Nando.
Kemudian Nando mulai memejamkan matanya dan tidak bersuara lagi, dia memang benar-benar lelah hari ini.
Vania bangkit dan mulai membetulkan selimut Nando.
Kemudian perlahan Vani mengecup kening Nando dengan lembut dan penuh perasaan.
"Selamat tidur sayang, mimpi indah ya, aku sayang kamu Nando!" bisik Vania.
__ADS_1