Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Tidak Ingin Berpisah


__ADS_3

Sandra berdiri menatap Nando dengan tatapan tajam, Sandra tau saat pertama kali Nando melihat bayi mungilnya, ada rasa kasih sayang yang dalam antara Papa dan anak itu.


Nando kelihatan sangat menyayangi Kia dengan segenap hatinya, terlihat dari pancaran bola matanya yang selalu menatap lekat pada bayi mungilnya itu.


Hingga ucapan Nando yang menginginkan untuk menikahi Sandra, sementara Sandra sangat tau, Vania adalah istri sah Nando yang teramat sangat mencintai Nando, bahkan sebelum Sandra mengenal Nando.


"Nando! Jaga ucapanmu, Vania akan sangat sakit hati jika dia mendengar ucapanmu barusan!" ujar Sandra.


"Maafkan aku Sandra, tapi ... aku tidak mau berpisah dengan Kia, aku sangat menyayanginya!" ucap Nando.


Tiba-tiba Tante Tatik datang menghampiri mereka.


"Hei, kalian kenapa kelihatan tegang sekali, makan malam sudah siap, Nando ajak temanmu yang di luar itu untuk makan malam dulu, kalian pasti lapar kan!" ujar Tante Rina.


Tak lama kemudian Roy dan Mirna nampak masuk ke dalam rumah, setelah sekian lama mereka mengobrol di teras luar.


Mereka mulai makan di sebuah meja makan yang ada di ruangan itu. Tante Tatik selain memasak dia juga memesan beberapa makanan.


"Kalian kapan akan kembali ke Jakarta?" tanya Tante Tatik.


"Saya juga tidak tau Tante, maunya sih, lebih lama di sini!" jawab Nando.


"Tuan ingat, istri anda di rumah menunggu lho, tadi Pak Tejo telepon katanya Nyonya Vania tidak mau keluar kamar, dia mengurung diri terus!" ujar Roy sambil menyantap lahap makanannya.


Nando nampak menarik nafas panjang, seolah beban berat kembali menghampirinya.


"Kau kan sudah menengok Kia, sebaliknya kau cepat kembali ke Jakarta saja Nando, Kia akan aman bersamaku, toh aku juga sudah biasa hidup sendiri!" ucap Sandra.


"Betul kata Sandra, kau tenang saja, di sini ada aku dan Tante Tatik yang akan menjaga Kia, anakmu akan aman bersama kami!" timpal Mirna.


Nando diam saja tanpa menjawab apapun, dia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, hatinya sungguh tidak rela melepaskan begitu saja anak dan wanita yang selalu ada di sudut hatinya yang terdalam.


"Tante Tatik, kalau aku ingin menikahi Sandra, apakah kau akan merestuiku??" tanya Nando tiba-tiba.


Semua yang ada di ruangan itu terperangah mendengar pertanyaan Nando, lagi-lagi dia mengatakan hal yang sama. Entah dia sadar atau tidak.


"Nando, tidak pantas kau berkata seperti itu, lanjutkan makanmu!" sergah Sandra.


"Mungkin Tuan Nando sedang lelah!" ujar Roy.


"Aku serius dengan perkataan ku, dulu aku bisa menahan diriku sendiri, tapi sekarang tidak lagi!" ujar Nando.


"Bagaimana mungkin kau mau menikahi Sandra, lalu bagaimana dengan Vania?" tanya Mirna.


"Apakah kau akan menceraikan Vania?" timpal Tante Tatik.

__ADS_1


Nando terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, apa yang di katakannya barusan adalah spontan dari dalam hatinya yang keluar dari mulutnya, tapi ucapannya itu dia ucapkan dengan penuh kesadaran.


"Aku ... aku ..."


"Aku tidak mau menikah denganmu Nando! Kau dengar itu!" potong Sandra cepat.


Nando menunduk dengan wajah sedih. Mereka lalu melanjutkan makan mereka.


****


Sementara itu, Vania yang terus mengurung diri sejak kepergian Nando nampak duduk di tepi ranjangnya.


Biasanya Nando yang selalu menggendongnya naik turun tangga, Nando juga yang selalu membawakannya makanan, kini seolah Vania kehilangan separuh jiwanya karena kepergian Nando.


Rasanya Vania tidak sanggup jika lama-lama berpisah dari Nando, jiwanya terasa hampa, selama ini, sejak dia kehilangan rahimnya, hanya Nando yang terus menemani dan menghiburnya.


Ceklek!


Pintu kamarnya di buka dari luar, Tante Rina datang dengan membawa nampan yang berisi makanan.


"Vania, kau makanlah dulu, kata Mbok Karsih, siang tadi kau tidak menghabiskan makananmu!" ujar Tante Rina sambil duduk di samping Vania.


"Taruh saja di meja makanannya Ma, nanti kalau aku lapar aku akan makan!" sahut Vania.


Sandra akhirnya mulai memakan makanannya itu.


"Nah, begitu dong, kau harus tetap semangat Vania!" lanjut Tante Rina.


"Mama, bagaimana jika Nando tidak kembali? Apakah aku bisa melanjutkan hidupku lagi?" tanya Vania dengan suara lirih, terdengar seperti sedang putus asa.


Tante Rina mulai merengkuh bahu Vania.


"Kau jangan berkata seperti itu Vania! Ingat, ucapanmu adalah doa! Nando pasti kembali, dia sudah berjanji padamu juga pada Mama! Sudahlah, jangan pikir yang aneh-aneh lagi!" sergah Tante Rina.


"Tapi aku takut Ma, ketakutan ku yang terbesar adalah kehilangan Nando ku, kehilangan suamiku ... apalagi aku tau sekarang, dalam hatinya menyimpan nama wanita lain!" Vania mulai meneteskan air matanya.


"Sudahlah Vania, walaupun dia menyimpan seribu nama wanita lain, tetap saja hanya kau istrinya! Kau tenang saja!" hibur Tante Rina.


"Tapi diantara mereka sudah ada anak Ma! Sedangkan aku! Wanita mandul yang tidak mampu memberikan suamiku keturunan!" tukas Vania.


Tante Rina hanya bisa mengusap lembut bahu Vania untuk menenangkannya, padahal jauh di lubuk hatinya, dia juga takut putri kesayangannya itu akan kehilangan suaminya.


****


Sejak selesai makan malam tadi, Nando kembali menggendong Kia sambil sesekali dia mengajak bicara bayi mungilnya yang cantik itu.

__ADS_1


Ikatan batin di antara Nando dan Kia terlihat sangat kuat sekali, Kia juga terlihat nyaman berada dalam pelukan sang Papa.


"Sudah letakan saja Kia di box bayinya, dia juga sudah tidur, terlalu lama kau menggendongnya nantinya dia akan kebiasaan, kata orang bau tangan!" sergah Sandra yang masih nampak duduk di tuang tamu itu.


"San, aku tidak jadi menginap di hotel deh, biar Roy saja yang bermalam di hotel, aku tidur di ruang tamu saja, siapa tau nanti malam Kia terbangun!" ujar Nando.


"Lho, kenapa kau mau tidur di ruang tamu?? Itu sangat tidak nyaman buatmu Nando, kau jangan khawatirkan Kia, dia akan baik-baik saja!" tukas Sandra.


Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, Mirna dan Tante Tatik sudah tidur di kamarnya masing-masing.


Namun Nando masih belum beranjak dari tempatnya, dia masih saja menggendong Kia.


Sementara Roy sudah sejak tadi pergi ke hotel atas perintah Nando.


"Kau tidur saja San, biar Kia bersamaku di sini, nanti kalau dia haus aku akan membangunkanmu!" ujar Nando.


"Tidak Nando, berikan Kia padaku, kau kembali saja ke hotel, kau juga harus istirahat!" sergah Sandra.


"Kau lihat saja, dia nyaman tidur di pelukanku, ijinkan aku bersamanya San, please ..." mohon Nando.


Sandra tidak dapat lagi mencegah Nando, dia juga tidak ada hak untuk membatasi kedekatan Papa dan anaknya.


Drrt ... Drrt ... Drrtt


Terdengar suara getaran ponsel dari saku jaket Nando.


Sandra buru-buru mengambil Kia dari pangkuan Nando. Nando merogoh ponselnya itu, ternyata Vania yang meneleponnya.


"Angkatlah teleponnya Nando, istrimu mencarimu!" ujar Sandra.


Nando lalu mengusap layar yang ada di ponselnya itu.


"Halo Van!"


"Nando, kau di mana sekarang? Aku merindukanmu!" ucap Vania dari seberang telepon.


"Aku sedang bersama ... Sandra dan Kia anakku!" jawab Nando jujur.


Terdengar suara isakan tangis dari seberang telepon.


"Vania? Kau baik-baik saja kan?" tanya Nando bingung.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2