
Sepanjang perjalanannya menuju ke rumahnya bersama dengan Tante Rina, Nando diam tidak banyak bicara, begitu pula sebaliknya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Nando, apa kau serius ingin menikahi wanita malam itu?" tanya Tante Rina tiba-tiba.
"Namanya Sandra Tante, bukan wanita malam!" sahut Nando.
"Yah terserah deh, tapi kan memang dia wanita malam dulu, kau harus mengakuinya dong!" cetus Tante Rina.
"Dulu memang iya, tapi kan sekarang tidak, Tante jangan pernah lagi menyebut Sandra dengan julukan wanita malam!' ujar Nando.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Tante Rina.
"Iya Tante, Sandra itu adalah Ibu dari anakku, jadi aku tidak suka kalau ada yang menyebutnya wanita malam!" jawab Nando.
"Memanganya berapa usiamu? Perkataan ku sok dewasa sekali! Sok Bijak!" tanya Tante Rina.
"Ehm, hampir 22 tahun Tante!" jawab Nando.
"Masih sangat muda untuk menjadi seorang ayah, harusnya dari dulu kau suruh Sandra untuk menggugurkan kandungannya saja!" gumam Tante Rina.
"Tidak akan Tante!" sahut Nando.
"Memangnya kenapa?!"
"Karena saya mencintai Sandra sebelum menikah dengan Vania!" jawab Nando jujur.
Tante Rina terdiam sambil menggerutu dalam hatinya.
Dalam hati Tante Rina sebenarnya sangat sedih, sejak lama Vania selalu memuja dan mengidolakan Nando, hampir semua buku hariannya tertuliskan nama Nando, bahkan impian terbesarnya adalah bisa menikah dengan Nando.
Tapi ternyata Nando sudah memiliki hati yang lain, bukan Vania yang menjadi pemilik hati Nando.
Ada butiran bening yang jatuh dari mata Tante Rina, sebenarnya Tante Rina sangat sayang pada Nando menantunya itu, selain wajahnya imut dan menggemaskan, sikap nya juga sangat manis terhadap semua orang.
Walaupun Tante Rina seringkali menegur Nando, bahkan memarahinya, namun Nando tidak pernah sekalipun bersikap tidak sopan, apalagi berkata kasar pada Tante Rina.
"Kenapa Mama menangis?" tanya Nando.
"Tidak, lupakan!" Tante Rina buru-buru mengusap air matanya matanya.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah Nando.
Tante Rina nampak cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Nando juga nampak langsung menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Vania nampak duduk dengan bersandar pada kepala dipan tempat tidur besarnya itu sambil berselancar di dunia Maya.
"Eh Nando, sudah pulang?" tanya Vania sambil tersenyum.
Dalam hati Nando heran, tumben Vania tidak menangis atau terlihat lemah, biasanya kalau Nando habis dari luar, Vania terlihat manja dan cengeng.
"Kau sudah minum obat Van?" tanya Nando balik sambil duduk di samping Vania.
"Sudah dong, Oya Nando, tadi aku baru saja membaca artikel lewat situs internet, katanya walaupun aku tidak punya rahim, tapi selama aku masih punya sel telur, itu berarti, aku masih bisa punya anak dengan metode bayi tabung, aku bisa memberikanmu anak Nando!" ujar Vania bersemangat.
Nando hanya tertegun mendengar perkataan Vania, baru hari ini Nando melihat ada semangat hidup dalam diri Vania.
"Oya?" tanya Nando sedikit gugup.
"Iya Nando, aku senang sekali, kau setuju kan kalau kita menjalankan proses bayi tabung?" tanya Vania dengan tatapan mata yang penuh harap.
"I-Iya Van!" singkat Nando
"Jadi, bukan hanya Sandra yang bisa memberikanmu anak, aku juga bisa!" sahut Vania.
"Tapi San ... aku berencana akan ..."
"Aku senang sekali, aku jadi ingin melakukan kembali dengan Nando, aku kangen Nando!" Vania langsung memeluk Tubuh Nando
Justru kalau Nando menolaknya, Vania akan sangat sakit hati. Nando tetap menjaga perasaan Vania.
Perlahan Vania mulai membukakan kancing baju Nando, dengan lembut dia mengecup dada bidang Nando yang putih bersih itu.
Vania mulai mengecup bibir Nando yang kemerahan alami, mengecupnya beberapa kali dengan penuh perasaan.
Nando menahan nafasnya, sebenarnya dia tidak sedang menginginkan hubungan intim sekarang, tapi Nando juga tidak bisa begitu saja menolak ajakan Vania yang terlihat sangat bergairah.
Tanpa sadar Vania membuka pakaiannya sediri, kemudian dia mulai tidur terlentang di hadapan Nando.
"Sayang, walaupun kini aku kurus, tapi aku masih seksi kan?!" tanya Vania.
Nando hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayolah Nando, aku sangat menginginkannya, sangat!" bisik Vania.
Tangannya mulai meremas milik Nando yang masih terasa lembut di tangannya.
Vania terus meremas nya dengan lembut dan penuh perasaan, hingga kembali junior Nando itu membesar dan mengeras.
"Van, apa kau tidak capek? Nanti kau drop lagi!" tukas Nando.
__ADS_1
"Tidak, ayolah Nando, aku sedang ingin ini, Nando ku, suamiku!" Vania kembali mengecup Bibir Nando dan tangannya juga terus bergerilya, akhirnya Nando menuruti keinginan Vania, kembali dia melakukan kewajibannya sebagai suami, memberikan nafkah batin pada Vania.
Nando bergetar saat dia sudah mencapai puncak kenikmatannya, kemudian dia terkulai di samping Vania dengan tubuh polosnya.
Vania tersenyum senang, kemudian dia memeluk tubuh polos Nando yang penuh keringat itu.
"Kau luar biasa sayang, suamiku pejantan tangguh, kau benar-benar perkasa!" puji Vania sambil terus memeluk erat suaminya itu.
Semetara Nando yang mengantuk karena lelah mulai nampak tertidur. Lagi-lagi Vania mengecupi bibir dan wajah Nando.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
Ponsel Vania bergetar, dia langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja itu.
"Halo!"
"Halo Van, ini Kezia, kau ada di rumah kan?" tanya Kezia yang ternyata meneleponnya.
"Kak Kezia? Iya Kak, aku di rumah saja kok!" jawab Vania.
"Kau sehat-sehat saja kan Van?" tanya Kezia.
"Iya Kak, aku sehat kok!" jawab Vania.
"Van, aku mau bicara padamu empat mata saja, kapan kau ada waktu?" tanya Kezia.
"Hmm, nanti malam saja Kak!" jawab Vania.
"Oke, nanti malam aku datang ke rumah ya, Oya, Nando mana?" tanya Kezia.
"Nih ada di sebelah Kak, dia sedang tidur, kecapean dia!" jawab Vania.
"Kecapean memangnya habis ngapain sih?!" tanya Kezia.
"Biasa Kak, namanya juga suami istri, tau dong habis melakukan apa!" jawab Vania.
"Dasar Nando! Buaya!!" sungut Kezia.
"Apa kak?!"
"Tidak, ya sudah deh, jangan lupa nanti malam ya, aku datang ke rumah!' ujar Kezia sebelum menutup teleponnya.
Bersambung ...
****
__ADS_1