
Sandra di pindahkan ke ruang perawatan khusus, sampai hari ini dia juga belum sadar.
Nando tetap setia berada di samping Sandra. Tidak sedikitpun di beranjak dari sisi istri yang sangat di cintainya itu.
"Pak, ini istrinya sedang menyusui ya, dadanya bengkak Pak, tapi kualitas ASI tidak bagus lagi karena sudah tercampur obat-obatan!" kata Suster yang mengantri infus Sandra.
"Jadi harus bagaimana Sus?" tanya Nando.
"Ya harus di pompa Pak, di keluarkan ASI nya, sementara Bayi Bapak minum susu formula dulu!" jawab Suster.
"Baik Sus, nanti saya keluarkan ASI istri saya!" ujar Nando.
"Apakah Bapak sudah punya pompa asi? kalau belum bisa beli di apotik Pak!" kata suster.
"Tidak usah Sus, saya akan menghisapnya dengan mulut saya sendiri!" sahut Nando.
Suster itu membulatkan matanya, namun setelah itu dia segera beranjak keluar dari ruangan itu.
Nando kemudian mulai mengeluarkan ASI Sandra dengan berurai air mata.
"Ayo bangun sayang, sampai kapan kau menyiksa aku seperti ini, ayo bangun ... sudah cukup, sudah cukup, setelah ini kita akan hidup bahagia, ini adalah penderitaan terakhirmu San!" bisik Nando yang tak kuasa menahan air matanya.
Setelah selesai mengambil asi Sandra dengan menghisapnya, Nando kemudian merapikan kembali pakaian Sandra. Kemudian di kecupnya Kening istrinya itu.
Ceklek!
Pintu ruangan itu di buka dari luar, Ricky dan Lika masuk ke ruangan itu dan langsung mendekati Nando yang masih bersimpuh di sisi Sandra.
Ricky lalu langsung memeluk punggung putranya itu.
"Yang sabar ya Do, ini semua ujian buatmu!" ucap Ricky.
"Nando, apa yang terjadi denganmu dan Sandra Nak? Mengapa bisa seperti ini?' tanya Lika sambil mengusap kedua pipi Nando yang basah.
"Papa, Ibu, maafkan aku! Ini semua salahku, andai saja waktu itu aku tidak membawa Sandra ke rumahku, tentunya ini tidak terjadi pada Sandra!" jawab Nando.
"Memangnya ada apa? Apakah Sandra dan Vania bertengkar?" tanya Lika.Nando menggelengkan kepalanya.
"Aku dan Sandra mengetahui kalau Mama Rina adalah otak dari penculikan Kia, dia menyuruh Pak Wiryo dan membayarnya untuk menculik Kia!" ujar Nando.
__ADS_1
"Apa?? Jadi ...jeng Rina yang melakukan itu pada cucuku??" tanya Lika melotot.
"Iya Bu, setelah kami memberitahu Vania, Vania menjadi shock dan merasa bersalah, lalu dia berniat pergi meningalkan rumah, Sandra mengejarnya, hingga terjadilah kecelakaan itu!" lanjut Nando.
"Ya Tuhan, kenapa bisa terjadi begini ... lalu, di mana Vania sekarang??" tanya Ricky.
"Aku tidak tau Pa, saat itu aku hanya fokus pada Sandra, aku tidak tau kemana Vania pergi!" sahut Nando.
"Nando, sekarang kau urus dirimu sendiri, biar Ibu dan Papa yang akan menjaga Sandra, kau pergilah mandi dan bersihkan dirimu, lihat saja, kau kelihatan kacau begitu!" titah Lika.
"Ini Papa sudah bawakan pakaian ganti untukmu, kau pakailah!" tambah Ricky.
Nando lalu segera beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang tak terurus sejak Sandra masuk ke rumah sakit ini.
Tak lama kemudian, Nando sudah keluar dengan berganti pakaian dan rambut yang basah.
"Nando, kau mandi terburu-buru, kenapa Nak?" tanya Lika.
"Aku takut Bu, aku tidak mau lama meninggalkan Sandra!" jawab Nando.
"Ya ampun sayang, Sandra kan ada Papa dan Ibu yang menjaga, kau jangan khawatir!" ucap Lika.
"Kia bagaimana Bu? Aku kangen sama Kia!" tanya Nando.
"Kia baik-baik saja, sekarang Ibu yang merawatnya, sekarang Kia sudah belajar minum susu pakai dot, ibu sudah belikan susu formula terbaik untuk Kia!" jawab Lika.
"Terimakasih Bu!" ucap Nando.
Ricky kemudian maju dan menyerahkan bungkusan makanan kepada Nando.
"Kau makanlah dulu, urus dirimu sendiri, baru kau bisa mengurus orang lain!" ujar Ricky.
Nando menganggukan kepalanya lalu dia segera memakan makanan yang di bawakan oleh Papanya itu.
Nando makan sangat lahap sekali, dia tidak sadar sudah beberapa lamanya dia tidak makan, dan anehnya dia tidak merasa lapar.
****
Sementara itu, Vania masih duduk terpekur di sisi tempat tidur di kamar yang baginya terasa begitu asing.
__ADS_1
Pikirannya kacau, sehingga dia tidak dapat lagi berpikir jernih, dia sangat membenci dirinya sendiri, setelah apa yang terjadi saat ini.
Vania menangis, menangisi hidupnya, menangisi nasibnya, juga menangisi Mamanya yang ternyata rela melakukan segala cara untuk membuatnya bahagia, namun bukan kebahagiaan yang di dapatkan Vania, justru malah kesedihan dan penderitaan.
Ceklek!
Adi masuk ke dalam kamar itu sambil membawa satu gelas sereal hangat.
"Vania, minumlah, kau memerukan ini untuk nutrisi tubuhmu!" kata Adi sambil menyodorkan sereal hangat itu ke arah Vania.
"Aku tidak lapar!" tukas Vania.
"Aku tau kau tidak lapar, tapi tubuhmu membutuhkan ini!" sahut Adi.
Akhirnya Vania mau tidak mau meneguk sereal itu.
"Terimakasih!" ucap Vania.
"Sama-sama, aku senang jikalau kau mau jujur padaku, menceritakan apa yang kau alami, apa yang kau rasakan, walaupun aku tak dapat membantu, paling tidak hatimu menjadi lega!" ucap Adi.
"Adi, aku ingin bercerai dari Nando, apakah kau bisa membantuku?"' tanya Vania tiba-tiba. Adi terkesiap.
"Bercerai? Apakah Nando menyakitimu?" tanya Adi balik.
"Tidak! Nando tidak pernah menyakitiku, justru aku yang menyakiti dia!" sahut Vania.
"Lalu kenapa kau minta cerai darinya, aku pikir kau sangat mencintai suamimu itu!" tukas Adi.
"Aku memang sangat mencintai Nando, sangat, sampai seluruh hatiku hanya ada namanya, seluruh buku harianku hanya bertuliskan namanya hingga tidak ada tempat untuk yang lain, tapi ... Nando tidak pernah mencintaiku!" Vania mulai terisak.
"Vania, aku mengerti perasaanmu, di dunia ini, hal yang paling menyakitkan adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan!" ucap Adi.
"Saat ini, aku merasa sangat tidak layak menjadi istri Nando, Mamaku jahat, aku malu, Mama telah menculik anak Nando dari Sandra, aku malu, lebih baik aku pergi saja dari kehidupan Nando, aku ingin bercerai darinya!" tangis Vania.
Adi kemudian langsung merengkuh bahu Vania, turut merasakan apa yang wanita ini rasakan.
"Vania, kalau boleh, ijinkanlah aku untuk mengisi sisa-sisa hidupmu!" ucap Adi sambil mengusap air mata Vania.
Bersambung ....
__ADS_1
*****