
Sandra sudah menyiapkan sarapan untuk Nando di meja kamarnya, sementara Nando masih duduk di tempat tidurnya kini dengan memangku Kia.
"Lho Do, kau belum siap-siap? Ayo dong Do! Katanya mau ke kantor?" tanya Sandra.
"Sebentar San!" sahut Nando.
"Kamu kenapa sih Do? Kok kayak orang bingung gitu deh!" tanya Sandra.
"Tadi pembantunya Vania telepon, katanya perut Sandra sakit dan dia minta tolong aku untuk membawanya ke rumah sakit!" jawab Nando.
"Terus? Kenapa kau malah diam di sini? Tidak mau menolongnya??" tanya Sandra.
"San, aku bukan suami Vania lagi, jadi aku tidak berkewajiban untuk menolongnya!" sahut Nando.
"Menolong itu kan tidak harus berstatus suami, sama seperti waktu kau menolongku dulu!" ujar Sandra.
Nando terdiam mendengar ucapan Sandra, dalam hati sebenarnya Nando juga ingin menolong Vania, tapi dia juga tidak ingin Vania semakin sulit melupakannya.
"San, aku mau menghubungi Adi, biar dia saja yang menolong Vania!" kata Nando.
"Memangnya kau tau nomor ponselnya Adi?" tanya Sandra.
"Tau, aku punya kartu namanya!" sahut Nando sambil mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan secarik kartu nama.
Kia mulai menangis karena haus, Sandra langsung mengambil Kia dalam pangkuan Nando.
Sementara Nando langsung meraih ponselnya dan mencoba menelepon Adi.
"Halo!"
"Halo Adi, ini Nando, maaf mengganggu waktumu, saat ini Vania sedang sakit dan butuh bantuan untuk ke rumah sakit, bisakah kau membantunya?" tanya Nando.
"Tanpa kau minta pun aku pasti akan membantunya, ini sekarang aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit!" sahut Adi.
"Ohh, syukurlah, tapi, apa tadi Vania meneleponmu?" tanya Nando.
"Tidak, kebetulan aku datang ke rumah Vania, dia menahan sakit di perutnya, sepertinya sudah lama dia menahan sakit itu, tanpa basa basi aku langsung membawanya ke rumah sakit!" jelas Adi.
"Baguslah, aku harap kau sabar mengambil hati Vania!" ucap Nando.
"Kau tenang saja, tidak usah merisaukannya lagi, dia sudah bukan istrimu kan?" tanya Adi.
"Ya, kau benar, seharusnya aku tidak perlu mencemaskan nya lagi!" jawab Nando sebelum menutup teleponnya.
Nando kembali menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.
"Adi sudah membawa Vania ke rumah sakit, kau tak perlu mencemaskan nya lagi San!" kata Nando.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, sekarang kau sarapan saja dulu, aku sudah menyiapkannya dari tadi!" ujar Sandra yang kini sedang menyusui Kia.
"Ya, aku memang lapar!" Nando bangkit dan langsung menyantap sarapannya di meja.
Setelah sarapan Nando kemudian langsung bersiap-siap dengan pakaian formalnya untuk berangkat ke kantornya.
"Do, pulangnya jangan lama-lama ya, aku takut sendirian di sini, apalagi tidak ada orang yang bisa di ajak bicara!" ucap Sandra sambil memeluk Nando dari belakang sementara Nando memasang dasinya di depan cermin.
"Apa perlu aku panggilkan Kak Kezia untuk menemanimu?" tanya Nando.
"Jangan lah Do, Kak Kezia kan juga punya balita, dia pasti repot!" tukas Sandra.
"Jadi bagaimana? Apa kau mau ikut ke kantor bersama Kia? Sekalian menemaniku bekerja? Di jamin kau tidak akan bosan!" ujar Nando.
"Memangnya boleh?"
"Boleh lah, orang aku yang punya kantornya!" sahut Nando.
"Hmm, boleh juga, sekalian aku juga tau di mana suamiku bekerja, dan seperti apa kantornya, selama ini kau tak pernah mengajakku!" ujar Sandra.
"Ya sudah, sana kau siap-siap, biar Kia aku gendong dulu!" kata Nando semangat sambil mengambil Kia dari gendongan Sandra.
Sandra lalu mulai bersiap-siap, semua perlengkapan Kia juga ikut dia bawa, termasuk stroller dan perlengkapan bayi lainnya, hingga tas bayi itu penuh.
Setelah semua siap, mereka kemudian turun ke bawah menuju ke parkiran, lalu mereka mulai naik ke dalam mobil itu.
"Aku memberikan dia cuti untuk persiapan pernikahannya, biar dia senang!" sahut Nando.
"Kau dan Roy itu kelihatan bukan seperti majukan dan bawahan, tapi mirip seperti sahabat!" ujar Sandra.
"Memang, dulu Roy itu supir pribadi Ayahku, sejak ayahku meninggal dia ikut denganku!" jelas Nando.
"Ooh .."
"Roy itu yatim piatu, sejak remaja dia ikut Ayahku, makanya aku dan dia berteman dan jadi akrab, aku senang akhirnya dia bisa punya pacar dan akan menikah!" lanjut Nando.
"Aku juga senang akhirnya Mirna berjodoh dengan Roy, dulu dia sama seperti aku, tidak pernah bermimpi akan menikah dan punya pasangan hidup yang baik, masa depan begitu suram dan gelap!" ungkap Sandra.
"Lupakan masa lalu, sekarang kau adalah istri seorang Nando, pengusaha muda yang tampan dan kaya raya, Ibu dari seorang anak perempuan yang lucu, menantu dari seorang pengusaha properti yang terkenal!" ucap Nando.
"Yah, aku sangat bersyukur, kau mengangkat ku dari lumpur, Trimakasih Nando!" Sandra kemudian mengecup pipi Nando yang sedang menyetir di sebelahnya.
"Jangan memancing Nyonya, nanti saya tidak fokus bekerja!" goda Nando.
Sandra memukul bahu Nando.
"Dasar!"
__ADS_1
Tak lama mereka sudah sampai di kantor Nando, Sandra terperangah melihat sebuah gedung perkantoran yang tinggi menjulang di hadapannya.
"Jadi, ini perusahaanmu Do?" tanya Sandra kagum.
"Yah, beginilah pengusaha muda yang baru merintis dari gaya lama ke gaya baru!" jawab Nando.
"Kenapa kau tak bilang sebelumnya padaku??" tanya Sandra.
"Kenapa juga aku harus bilang? Aku bukan tipe orang yang sombong dan suka pamer!" sahut Nando.
Mereka berjalan masuk ke lobby menuju ke ruang pribadi Nando, Nando mendorong stroller bayi, Kia nampak tenang tertidur di dalam stroller itu, semua mata menatap ke arah mereka.
"Wah, Pak Nando membawa istri dan anaknya ke kantor!" seru seorang resepsionis yang ada di lobby itu.
"Lho, kok istrinya berbeda dari yang dulu saat Pak Nando menikah di hotel?" tanya salah seorang karyawan yang baru datang itu.
"Sssst, itu istri keduanya! Dengar-dengar Pak Nando sudah bercerai dengan istri pertamanya itu!" timpal karyawan yang lain.
"Padahal Pak Nando sempat berpoligami, tapi akhirnya istri pertamanya di cerai juga, kasihan!" kata sang resepsionis.
"Sudahlah! Tidak usah menggosip pemilik kantor ini, bisa-bisa kita di pecat!" cetus seorang karyawan yang langsung berlalu masuk ke dalam.
Semua orang yang berpapasan dengan Nando dan Sandra saat berjalan menuju ke ruangannya selalu menunduk hormat.
"Kenapa di sini semua orang menunduk hormat padamu? Memangnya kau presiden!" tanya Sandra.
"Ya jelas mereka menghormati ku, aku kan owner nya!" sahut Nando.
Mereka kemudian telah sampai di ruangan Nando yang besar.
Sandra lalu duduk di sofa ruangan itu, sementara Kia masih tenang di dalam stroller nya.
"Wah, ruangan senyaman ini masa kau masih bisa-bisanya membolos sih Do!" ujar Sandra.
"Sekarang tidak akan lagi, karena ada kalian yang menemaniku!" sahut Nando.
Drrrt ... Drrt ... Drrt
Ponsel Nando bergetar, ada gambar Adi dalam layar ponselnya Nando, dengan cepat Nando mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Adi, ada apa?" tanya Nando.
"Nando, bisakah kau ke sini? Vania terus menyebut namamu, kata Dokter, sel Kanker Vania yang dulu tumbuh lagi dan kini mulai merambat ke usus besar, kemungkinan hidupnya tidak akan lama lagi!" jawab Adi sedih.
Tidak ada jawaban dari Nando, hanya perasaan tak menentu yang kini mulai melandanya.
Bersambung ...
__ADS_1
****