
Plakk!!
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Sandra.
Sandra meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang kini kemerahan, darah menetes dari hidungnya.
"Kau sudah kebal ya dengan tamparan ku hah??!" sentak Mami Vero sambil menarik rambut Sandra ke belakang.
"Ampun Mami! Sakit!" jerit Sandra.
"Sakit katamu?? Kepalaku lebih sakit karena kau berkali-kali mengecewakan tamuku!! Kau benar-benar tidak tau diri Sandra!" sengit Mami Vero matanya yang merah melotot ke arah Sandra.
"Kasih Sandra hukuman saja Mami! Biar dia kapok!" cetus Windi.
"Apa ini?? Sejak kapan kau pakai pakaian seperti ini?? Di sini kau harus selalu seksi dan menarik, jangan terlihat kampungan!!" Mami Vero menarik pakaian yang di kenakan Sandra, hingga pakaian itu robek.
"Jangan Mami, ijinkan aku berubah, biarkan aku pergi, aku ingin hidup bebas, aku ingin bekerja!" ujar Sandra sambil menangis.
Mami Vero tertawa mendengar perkataan Sandra.
"Kau dengar! Aku sudah membayar mahal dirimu pada Ayahmu, kau adalah asetku! Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja, kau itu mahal Sandra!!" seru Mami Vero.
"Tapi Mami ..."
"Ical! Bono! Bawa Sandra ke gudang belakang, kurung dia!" titah Mami Vero.
"Siap Mami!" jawab kedua anak buah Mami Vero itu bersamaan.
Mereka lalu menyeret Sandra ke gudang belakang rumah besar itu.
"Lepaskan aku!!" teriak Sandra.
Namun dia terus di seret dan di bawa masuk ke dalam sebuah gudang yang gelap di belakang rumah itu, biasanya gudang itu adalah tempat hukuman bagi siapa saja yang melanggar perintah Mami Vero.
Mirna, teman sekamar Sandra nampak mengelus dada melihat kondisi Sandra yang seperti itu.
"Mami, Jangan Kurung Sandra di gudang itu, kasihan Mami, itu gelap dan bau sekali!" mohon Mirna.
"Biarkan saja dia di sana! Itu hukuman yang pantas bagi si pembangkang!!" sahut Kami Vero.
__ADS_1
Seorang pria penjaga pintu gerbang rumah itu datang tergopoh-gopoh menghampiri Mami Vero.
"Mami! Di depan ada anak muda yang ingin bertemu Mami!" seru Joni, si penjaga gerbang depan.
"Siapa Jon?? Ini masih siang, biasanya tamu datang malam-malam!" tanya Mami Vero.
"Tidak tau Mami, dia hanya ingin bertemu Mami!" sahut Joni.
"Baiklah, akan ku temui dia!" Mami Vero kemudian berjalan ke arah depan gerbang rumah sambil mengipasi tubuhnya.
Setelah sampai di depan, Mami Vero menatap tajam seorang pemuda yang kini berdiri di hadapannya.
"Hei, sepertinya aku mengenalmu? Bukankah kau orang yang waktu itu membayar Sandra 30 juta dan mengajaknya berkencan?" tanya Mami Vero.
"Iya Tante, saya Nando, saya ingin kembali mengajak Sandra, di mana dia?" tanya Nando.
"Ooo, jadi kau juga yang membawa Sandra pergi kemarin saat dia sedang bersama tamunya?" tanya Mami Vero lagi.
"Yah, Tante benar sekali, tapi kau jangan khawatir, aku akan membayarmu!" sahut Nando.
"Tidak! Kau membohongiku anak muda! Kau bukan mau memboking Sandra, tapi kau mau membawanya pergi! Kalau bukan anak buahku yang menemukannya, tentunya Sandra tidak akan kembali padaku!" cetus Mami Vero.
"Kenapa kau hanya mencari Sandra? Di sini aku mempunyai banyak sekali wanita cantik dan seksi, kau tinggal pilih yang mana yang kau suka, asal bukan Sandra!" ujar Mami Vero.
"Tapi aku menginginkan Sandra Tante, aku akan membayar mu, jadi kau tidak rugi bukan?!" tanya Nando.
"Membayarku?? Kau pikir kau siapa? Tidak!! Aku tau tujuanmu! Sekarang kau pergilah!" sahut Mami Vero.
"Aku tidak akan pergi sebelum Sandra aku dapatkan!" cetus Nando.
Kemudian Nando langsung menerobos masuk ke dalam pintu gerbang itu, Mami Vero terkejut melihatnya.
"Ical!! Bono!! Bereskan dia!!" teriak Mami Vero.
Dua orang berbadan kekar itu langsung menyerang Nando, Nando berusaha untuk menyerang dan mengambil kesempatan untuk masuk ke dalam, namun Ical dan Bono terus saja menghajarnya.
Di tambah dengan anak buah Mami Vero yang lain, akhirnya Nando di keroyok, hingga kini dia jatuh tersungkur, darah luar dari hidung dan mulutnya.
"Seret dia keluar dan tutup gerbangnya!! Orang ini sangat berbahaya!!" titah Mami Vero.
__ADS_1
Mereka lalu menyeret Nando yang babak belur keluar dari gerbang itu.
Roy yang melihat dari dalam mobil terkejut melihat Nando yang kini tergeletak di depan rumah itu, dia langsung keluar dari mobil dan menghampiri Nando.
"Tuan!! Kau tidak apa-apa? Itulah akibatnya kalau tidak mendengarkan nasihat asisten, ayo Tuan, kita masuk ke mobil!" Roy segera memapah Nando masuk ke dalam mobilnya.
"Roy! Mengapa kau tadi tidak membantuku??" tanya Nando saat dia merebahkan kepalanya di jok mobilnya.
"Kan dari awal saya sudah bilang, kalau ada apa-apa resiko di tanggung sendiri!" sahut Roy sambil mengompres luka memar Nando dengan sapu tangan.
"Kau memang tidak berguna Roy!" dengus Nando.
"Paling tidak berguna untuk tempat curhat Tuan kan!" ujar Roy.
"Kau ini ..."
Tok ... Tok ... Tok
Kaca jendela mobil di ketuk dari luar, seorang wanita berdiri di samping mobil Nando.
Nando segera membuka kaca jendela mobilnya itu.
"Tuan, saya Mirna teman Sandra, saat ini Sandra sedang di kurung di gudang belakang rumah, tadi Mami Vero menghajarnya habis-habisan!" kata Mirna yang diam-diam menyelinap keluar.
"Apa? Sandra di kurung di gudang? Bagaimana kondisinya?" tanya Nando cemas.
"Tidak ada seorang pun yang tau kondisinya tuan, karena gudang itu tertutup rapat dan gelap, tidak bisa di lihat dari luar!" jawab Mirna.
"Apa yang harus kita lakukan Tuan? Kita lapor polisi saja!" tanya Roy.
"Jangan! Kita harus mencari strategi untuk mengeluarkan Sandra dari sana, Mirna, bisakah kau menggambar petak gudang itu? Aku ingin menyusun rencana!" kata Nando sambil menyodorkan kertas dan pulpen.
Mirna mulai menggambar denah letak gudang itu, setelah itu dia menyodorkannya pada Nando.
"Hati-hati Tuan, anak buah Mami banyak sekali, mereka juga memiliki senjata api, mereka itu berbahaya!" ujar Mirna, wajahnya nampak cemas melihat ke arah gerbang.
"Terimakasih atas bantuanmu!" ucap Nando.
"Saya harus pergi Tuan, sebelum ketahuan!" Mirna dengan cepat kembali menyelinap masuk ke dalam rumah itu.
__ADS_1
****