Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Resmi Bercerai


__ADS_3

Keluarga Ricky tengah berkumpul di ruang keluarga sore itu.


Sandra yang masih duduk di kursi roda nampak sedang memangku Kia, sementara Nando duduk di sebelahnya.


Mbok Narti datang tergopoh-gopoh dari arah depan.


"Ini ada surat buat Den Nando!" kata Mbok Narti sambil menyodorkan sepucuk surat ke arah Nando.


Nando kemudian membuka dan membaca isi surat itu.


"Itu surat apa Do?" tanya Ricky.


Semua mata menatap ke arah Nando.


"Aku dan Vania telah resmi bercerai, ini suratnya!" jawab Nando.


"Syukurlah kalau di lancarkan prosesnya, Ibu tidak menyangka akan secepat ini!" ujar Bu Lika.


"Tentu saja cepat, yang mengurus kasus perceraian aku dan Vania itu kan si Adi!" sahut Nando.


"Si Adi siapa?" tanya Ricky.


"Adi pengacara, dia itu teman Vania, waktu itu dia datang memintaku unyuk melepaskan Vania, Vania juga memintaku untuk menceraikannya, ya sudah, aku setuju saja dan tanda tangan!" jawab Nando gamblang.


Namun wajah Sandra menyiratkan kesedihan, entah mengapa dia merasa bersalah telah merebut Nando dari Vania, padahal dulu Vania sering mengungkapkan isi hatinya pada Sandra yang sudah di anggap lebih dari sekedar sahabat.


"Kau kenapa sayang?" tanya Nando sambil menggenggam tangan Sandra.


"Tidak, bisakah mengantarku ke kamar Do?" pinta Sandra.


"Tentu saja, Ayo!" Nando segera beranjak berdiri dari tempatnya.


"Kalian mau kemana?" tanya Kezia.


"Ke kamar Kak, mungkin Sandra lelah, dia butuh istirahat!" sahut Nando.


"Kalian ke kamar saja, Kia tinggal saja di sini, Thomas masih ingin bermain dengan Kia katanya!" ujar Kezia.


Nando kemudian mengambil Kia dari pangkuan Sandra, lalu menyerahkannya pada Kezia kakaknya.


"Nanti kita makan malam bersama Do! Jangan lupa!" seru Ricky saat Nando mulai mendorong kursi roda Sandra menuju ke kamarnya.


Nando lalu mengangkat Sandra dari kursi roda ke tempat tidurnya.


"Nah, sekarang kau bisa istirahat sayang!" ucap Nando sambil mengecup kening Sandra.


"Terimakasih ya Do!"'balas Sandra. Nando tersenyum ke arah Sandra.

__ADS_1


"San, sekarang aku milikmu seutuhnya, sudah tidak ada lagi orang ketiga di antara kita!" bisik Nando.


"Nando, Vania itu bukan orang ke tiga, asal kau tau saja, dia yang lebih dahulu mencintai kamu!" sahut Sandra.


"Ya aku tau San, tapi sekarang dia sudah punya pengganti aku, si Adi itu, aku lihat dia tulus orangnya, bisa menerima Vania apa adanya!" ujar Nando.


"Kalau Adi aku percaya dia bisa menerima Vania, tapi aku tidak yakin Vania bisa begitu saja menerima Adi, karena aku tau hatinya hanya penuh oleh dirimu!" ucap Sandra.


"San, sudahlah ... saat ini, hanya ada aku dan kau, jadi aku mohon, bicara saja tentang kita, tentang anak-anak kita, masa depan kita ..." ungkap Nando.


Sandra kemudian mulai memejamkan matanya, kendati pikirannya terus mengarah kepada Vania, di mana kini Vania tinggal, apakah benar Vania sudah menemukan kebahagiaannya sendiri?


Mata Sandra melotot saat tiba-tiba Nando mencium bibirnya. Ciuman itu begitu lembut dan hangat, terasa begitu dalam dan bergairah.


"Nando, kau ini ..."


"Ssst, mumpung tidak ada Kia, ayo kita mainkan San!" bisik Nando dengan suara bergetar menahan hasrat yang terpendam.


"Do, bisakah kau tahan sedikit keinginanmu??" tanya Sandra sambil melepaskan pelukan Nando.


"Tidak bisa San, ini sudah kepalang tanggung!" jawab Nando yang kembali memeluk dan mencium Sandra dengan lembut dan perlahan.


"Nando, ini masih sore, di luar masih banyak orang!" sergah Sandra.


"Biarkan saja mereka, sore ini aku sangat menginginkannya, sangat dan sangat!" ucap Nando sambil mulai membuka resleting celana jeans nya, karena sudah sangat terlalu sesak.


****


Kini rumah itu telah kosong, semenjak Vania menikah dengan Nando, Vania dan Tante Rina sudah tidak tinggal di rumah ini lagi.


Vania kemudian masuk ke dalam rumah lamanya itu, dia menghempaskan tubuhnya di sofa, seorang asisten rumah tangga datang menghampirinya.


"Wah, Non Vania sudah kembali, syukurlah akhirnya rumah ini tidak sepi lagi!" kata Mumun, asisten rumah tangga itu.


"Kamarku sudah di siapkan Mun?" tanya Vania.


"Sudah Non, semuanya sudah siap!" jawab Mumun.


Vania lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya dan mulai membaringkan tubuhnya.


Banyak foto-foto Nando yang terpasang di dinding kamarnya itu.


Dulu di kamar ini, dia selalu mencurahkan perasaannya di buku hariannya.


Tanpa terasa, butiran bening kembali jatuh dari pelupuk mata Vania, kini dia kembali seorang diri, tanpa ada suami dan Mamanya yang menemani.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt

__ADS_1


Ponsel Vania bergetar, dia mengambil ponselnya yang ada di sebelahnya, Adi ternyata yang meneleponnya.


Kemudian Vania mengusap layar ponselnya itu.


"Halo!"


"Halo Van, kau sudah pulang ke rumahmu? Kenapa tidak bilang aku? Kan aku bisa mengantarmu?" tanya Adi.


"Aku sudah banyak merepotkanmu Di, lagi pula aku hanya membawa diriku saja kok kembali ke rumah, kau jangan cemas!" jawab Vania.


"Baiklah, nanti malam aku mampir ya ke rumahmu!" kata Adi.


"Terserah!" jawab Vania, kemudian dia mematikan ponselnya itu.


Baru saja Vania hendak kembali berbaring, pintu kamarnya di buka dari luar, Mumun datang dan langsung menghampirinya.


"Maaf Non, di depan ada orang yang ingin bertemu Non Vania!" kata Mumun.


"Siapa Mun?" tanya Vania.


"Tidak tau Non, tapi dia perempuan!" jawab Mumun.


"Baiklah, aku ke depan sekarang!" Vania langsung bangkit dan berjalan ke arah depan, seorang wanita sudah berdiri menunggunya di depan gerbang rumahnya.


Vania mengerutkan keningnya, dia baru melihat wanita itu, Vania lalu mulai berjalan mendekatinya.


"Selamat sore, apakah anda mencari saya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Vania.


"Apa benar kau yang bernama Vania?" tanya wanita itu.


"Ya Benar, saya Vania, ada apa ya?" tanya Vania balik.


"Perkenalkan, saya Sita, calon istri dari Adi, saya datang ke sini ingin memperingatkan kau supaya jangan lagi mendekati Adi, karena Adi itu calon suami saya!" ujar wanita yang adalah Sita itu.


"Calon istri Adi? Tapi Adi tidak pernah menceritakan apapun tentang anda Mbak, maaf, saya ini bukan siapa-siapa Adi, jadi Mbak jangan salah paham!" ujar Vania.


"Hmm, pantas saja Adi selalu menghindar dari aku, sikapnya dingin dan cuek, ternyata kau biang keroknya!" cetus Sita.


"Maaf Mbak, kalau sudah tidak ada yang perlu di tanyakan lagi, saya mau istirahat!" kata Vania. Dia mulai beranjak dari tempatnya.


"Dasar wanita perebut calon suami orang!!" seru Sita. Vania menoleh.


"Siapa yang merebut? Adi sendiri yang datang padaku, selesaikan saja masalahmu dengan Adi!" sahut Vania.


Tiba-tiba mobil Adi sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah Vania.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2