
Roy dan Sandra memapah Nando ke dalam sebuah hotel yang terletak tidak jauh dari situ.
Keadaan Nando sudah benar-benar nampak tidak sadar, mulutnya tak berhenti meracau dan tercium aroma minuman keras dari mulut Nando.
"Saya prihatin dengan keadaan Tuan Nando, demi kebahagiaan orang lain dia bahkan mengorbankan perasaannya sendiri!" ucap Roy saat membaringkan Nando di tempat tidur besar yang ada di kamar hotel itu.
"Mengorbankan perasaannya sendiri?" tanya Sandra.
"Asal kau tau saja San, Tuan Nando itu mencintai anda, kau hitung saja sendiri, sudah berapa jumlah uang yang dia keluarkan demi anda!" sahut Roy.
"Tidak Roy, aku tidak pantas untuk dia, Vania sudah tepat, cintanya pada Nando cukup besar, pasti akan bisa mengubah hati Nando, semua orang mendukung mereka!" sergah Sandra.
"Terserah lah! Saya capek mau tidur saja di mobil!" Roy segera melangkah pergi meninggalkan kamar hotel itu.
Sandra memandang wajah Nando yang terbaring. Memang Nando sudah banyak mengeluarkan uang untuknya, rasanya Sandra tidak bisa membayar apa yang sudah Nando berikan padanya, bukan hanya uang, namun sebuah kehidupan, dan yang lebih berharga adalah, sebuah cinta.
Kembali Sandra menangis, ingin rasanya memiliki pria itu, namun dia harus menahan segala rasa yang di milikinya, dia merasa begitu kotor dan hina.
Tiba-tiba Nando membuka matanya, melihat Sandra yang duduk di hadapannya, Nando langsung berusaha bangun dan memeluk Sandra.
"Sandra ... Sandra ... jangan pergi, aku membutuhkanmu!" ucap Nando dengan suara yang nyaris tak terdengar, karena dia masih berada di bawah pengaruh minuman keras.
"Tidurlah Nando, jangan sakiti banyak orang karena ulah mu ini, sudah cukup!" sergah Sandra sambil berusaha mengurai pelukan Nando.
Namun Nando semakin mengeratkan pelukannya, dia bahkan tanpa sadar sudah mencium bibir Sandra, dan mengecupnya lembut.
Dari mulut Nando tercium aroma minuman keras yang menyengat, namun Nando terus mengecup bibir dan wajah Sandra, Sandra pun pasrah karena dalam hati dia juga sangat mencintai Nando.
"Sandra ... aku mencintaimu!" bisik Nando.
Sandra membiarkan Nando memeluk dan menciumnya sambil menangis, hatinya pedih dan perih, bisa ada dalam pelukan orang yang dicintainya tapi tak bisa memilikinya.
"Nando aku janji, ini akan menjadi kenangan terakhir untuk kita!" ucap Sandra yang kini membalas setiap kecupan Nando.
Hingga Nando perlahan mulai membaringkan Sandra, membuka pakaiannya sedikit demi sedikit, Sandra hanya bisa memejamkan matanya sambil terus menangis.
__ADS_1
"Aku orang pendosa, namun malam ini aku melakukan dosa dengan ikhlas, untuk Nando, aku berikan untuk Nando, ini yang terakhir!" isak Sandra.
Punggungnya berguncang menahan tangis dan kepedihan.
Nando mulai mengarahkan miliknya ke milik Sandra yang masih menangis.
"Sandra ... aku mencintaimu ... dalam hatiku aku selalu mencintaimu!" bisik Nando sebelum dia benar-benar memasukan miliknya.
Sandra meringis menggigit bibirnya. Ini kali pertama pria yang menggagahinya masuk tanpa memakai pengaman, selama ini Sandra selalu menjaga rahimnya agar tak tersentuh benih laki-laki.
Namun malam ini, benih seorang laki-laki bahkan sudah masuk ke dalam rahimnya, ada rasa hangat yang Sandra rasakan.
Nando mengerang, kemudian dia terkulai di samping Sandra dengan memejamkan matanya.
Nando yang tidak Memiliki pengalaman sama sekali, terlihat tersengal-sengal, ini pengalaman pertama kalinya dengan seorang wanita.
Hilang sudah keperjakaannya dalam semalam.
"Terimakasih Nando!" ucap Sandra sambil mengecup pipi Nando yang masih terkulai di ranjangnya.
"Sandra jangan pergi ... jangan tinggalkan aku!" lirih Nando. Dia nampak mulai sadar akan apa yang terjadi. Walaupun kepalanya masih sangat berat dan pusing.
"Tapi ... "
"Jangan kecewakan Vania, Tante Rina, Ibumu, Papamu, saudara-saudaramu ... mereka semua ingin melihat kau bersanding dengan Vania! Lupakan saja kejadian malam ini, anggap saja ini hanya sebuah mimpi!" ucap Sandra.
Kini Nando yang terlihat menitikkan air matanya.
Waktu sudah menunjukan jam 3 dinihari.
"Aku pergi Nando, aku harus kembali ke butik, kau istirahat saja di sini, besok pagi kau pulang dengan Roy, dia ada di dalam mobil di parkiran!" pamit Sandra sambil mengecup kening Nando yang masih berbaring.
"Sandra ..." panggil Nando.
Namun Sandra sudah berjalan keluar dari kamar itu tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
****
Hari ini, Lika, Ibunya Nando sudah di perbolehkan pulang ke rumah, setelah beberapa hari lamanya di rawat di rumah sakit.
Namun dia belum bisa berjalan, terpaksa harus memakai kursi roda.
Ricky menggendong Lika dan meletakkannya di kursi roda, wajah laki-laki itu nampak sedih karena istri yang sangat di cintainya kini tak berdaya dan hanya bisa duduk di kursi roda.
Mereka kemudian pulang kembali ke rumah mereka.
Semua keluarga besar telah kumpul di rumah itu, keluarga Kezia kakaknya Nando, juga adik-adiknya yang lain. Nando juga terlihat ada di antara mereka.
"Mulai hari ini, perusahaan properti sepenuhnya di pegang oleh Jo, karena sudah saatnya Papa pensiun dan merawat ibu kalian!" ucap Ricky saat mereka semua berkumpul.
"Nando, Sabtu ini kita akan pergi ke rumah Vania dan melamarnya, setelah itu menentukan tanggal pernikahan kalian!" lanjut Ricky.
"Untuk urusan lamaran dan undangan, biar kakak yang membantumu Do, kau jangan khawatir!" tambah Kezia.
"Kau harus cepat menikah supaya kau tambah dewasa dan fokus mengelola perusahaanmu Nando, biasanya orang yang sudah menikah pikirannya berubah menjadi dewasa dan bertanggung jawab penuh, seperti Jo kakak iparmu!" ucap Lika.
"Iya Bu!" sahut Nando.
"Lagi pula, orang tua Vania juga sudah merestui kalian, jadi jangan di tunda lagi!" cetus Ricky.
"Baik Pa!" jawab Nando.
"Hmm, Nando memang anak Ibu yang manis, sejak kecil kau tak pernah membantah Ibu dan Papa, sini Nak dekat Ibu, Ibu ingin peluk Nando!" kata Lika sambil melambaikan tangannya.
Nando beringsut mendekati Ibunya yang sangat dia sayangi dan hormati itu.
Kemudian Lika membelai rambut Nando dengan penuh sayang.
"Tidak terasa Nando kecilku akan segera menikah, Ibu bahagia sayang, kalau seperti ini, rasanya Ibu akan cepat sembuh dan bisa berjalan lagi!" ucap Lika.
Nando menangis dalam pelukan Lika.
__ADS_1
'Maafkan aku Bu, aku sudah melakukan dosa, maafkan aku ...' batin Nando.
****