Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Sakit Vania


__ADS_3

Vania yang langsung di larikan ke rumah sakit kini nampak di tangani di ruang UGD.


Wajah Vania terlihat semakin pucat. Nando yang menggendong Vania juga nampak berwajah cemas. Begitu juga dengan Tante Rina.


"Apa yang terjadi dengan istri saya Dok?" tanya Nando setelah Dokter memeriksa keadaan Vania.


"Benjolan yang ada di rahimnya pecah, kami harus mengambil tindakan operasi pengangkatan rahim segera!" ujar Dokter.


"Apa Dokter?? Apa sampai separah itu kondisi anak saya?" tanya Tante Rina.


"Iya Bu, selama ini putri ibu mengabaikan sakit yang di alaminya, dia tidak memeriksakan secara dini ke dokter, makanya batu ketahuan setelah menikah, padahal awalnya ini hanyalah sebuah Kista biasa yang kini berkembang!" jelas Dokter.


Tante Rina langsung lemas mendengar pernyataan Dokter tersebut.


"Ya Tuhan Vania, kenapa kau sampai mengalami ini Nak, kenapa?" Tante Rina langsung terisak.


"Mama tenanglah, kita akan berjuang untuk mengobati Vania!" ucap Nando.


"Kata Dokter Vania harus segera di operasi pengangkatan rahim Nando, kau tau itu artinya apa? Itu artinya dia tidak akan mungkin memiliki anak! Kau bayangkan saja perasaannya!" Isak Tante Rina.


"Aku tau Ma, tapi kita harus bagaimana lagi, demi keselamatan Vania kita harus merelakan Vania kehilangan rahimnya!" ujar Nando.


Dari ujung koridor, nampak Ricky dan Lika datang mendekati mereka yang masih berdiri di depan ruang IGD itu.


"Nando, kami dengar Vania sakit, apakah sebegitu parah penyakitnya?" tanya Lika.


"Iya Ma, mulanya kami hanya memeriksakan kesuburan, namun malah menemukan fakta yang lain, kalau kandungan Vania bermasalah, kini malah terjadi pendarahan dan harus di lakukan operasi pengangkatan rahim!" jelas Nando.


"Ya Tuhan, masih semuda itu sudah harus mengalami ujian yang berat, kau harus sabar Nando, tetap dampingi Vania, saat ini dia butuh support darimu!" ujar Ricky sambil menepuk bahu Nando.


"Iya Pa!" sahut Nando singkat.


Seorang suster keluar dari ruangan itu.


"Maaf, hanya boleh satu orang yang melihat kedalam, kondisi pasien masih terlihat shock dan depresi!" jelas suster.


"Nando, kau masuklah ke dalam, biar kami menunggu di sini!" ujar Ricky.

__ADS_1


Nando kemudian menganggukan kepalanya dan masuk kedalam ruangan itu.


Vania masih nampak berbaring dengan selang infus yang kini menancap di tangannya.


Perlahan Nando mendekati istrinya itu dan duduk di sampingnya.


Mata Vania menatap ke langit-langit kamar, pandangannya kosong seperti tanpa harapan.


Nando menggenggam tangan Vania, hangat.


"Vania, kau tidak sendiri, ada aku bersamamu!" ucap Nando.


"Mau sampai kapan kau bersamaku, tetap saja aku tidak bisa memberikanmu seorang anak Nando!" lirih Vania.


"Tidak Van, kau jangan berkata begitu, anak bukan prioritas ku saat ini, yang penting kau harus sembuh dan tidak sakit lagi!" bisik Nando.


Ada yang mengalir di sudut mata Vania.


"Aku sakit Nando, aku juga tidak bisa maksimal melayanimu, maafkan aku Nando!" Isak Vania.


Nando lalu mulai mengecupi jemari Vania, ada rasa belas kasihan yang timbul dari dalam hatinya.


Mereka kemudian saling berpelukan. Vania menangis menumpahkan semua perasaannya saat itu, sakitnya, yang selama ini dia abaikan.


"Jangan tinggalkan aku Nando, aku takut sendirian!" bisik Vania.


"Tidak akan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu!" balas Nando.


****


Sementara itu di rumah Nando, Roy terlihat memarkirkan mobil nya karena dia akan membawa beberapa barang dan pakaian ganti ke rumah sakit.


"Mbok Karsih! Tolong siapakan pakaian ganti Nyonya muda dan Tuan muda Nando, mungkin mereka akan bermalam di rumah sakit beberapa hari lamanya!" ujar Roy.


"Baik Mas Roy!" jawab Mbok Karsih yang langsung dengan cepat naik ke atas tangga menuju ke kamar majikannya.


Sandra dan Mirna yang melihat kedatangan Roy lantas berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Roy, bagaimana kondisi Vania saat ini ?" tanya Sandra.


"Vania mengalami pendarahan di rahimnya, akibat pecah benjolan atau apa gitu, dalam waktu dekat dia akan di operasi pengangkatan rahim!" jelas Roy.


"Apa? Pengangkatan rahim?" tanya Sandra tak percaya.


"Iya, kasihan deh mereka, belum lama menikah sudah mengalami cobaan seberat ini!" sahut Roy yang menghempaskan tubuhnya di kursi ruangan itu.


Tak lama kemudian, Mbok Karsih sudah turun dari tangga sambil membawa sebuah tas besar.


"Ini barang-barang yang di perlukan oleh Tuan dan Nyonya muda Mas Roy!" kata Mbok Karsih.


"Iya Mbok trimakasih!" sahut Roy sambil mengambil tas itu dan mulai beranjak keluar.


Sandra dan Mirna mengikutinya dari belakang.


"Roy! Aku mau ikut, aku ingin melihat keadaan Vania!" ujar Sandra.


"Aku juga mau ikut!" tambah Mirna.


"Hmm, okelah, ayo naik ke mobil!" sahut Roy.


Mereka kemudian langsung meluncur meninggalkan rumah besar itu dan menuju ke rumah sakit tempat Vania di rawat.


Mereka kemudian berjalan beriringan menyusuri lorong yang panjang itu.


Vania baru saja di pindahkan ke ruang perawatan sebelum operasi di laksanakan.


"Vania itu dari dulu selalu ceria, tidak pernah menunjukan kalau dia sakit, padahal aku tau betul kalau dia sering mengeluh sakit di perut bagian bawahnya, aku tidak pernah menyangka bahwa itu akan membahayakan!" ungkap Tante Rina sambil menitikan air matanya.


"Sabar Jeng Rina, anggap saja ini suatu ujian, Vania pasti bisa melewati ini!" hibur Lika.


"Maafkan aku Mbak Lika, akhirnya kau tidak bisa memiliki cucu dari Vania!" lirih Tante Rina.


"Kesehatan lebih penting dari pada cucu, kau jangan khawatir Jeng, kau boleh menganggap si Thomas cucuku sebagai cucumu juga!" sahut Lika.


Roy masuk ke dalam ruang rawat Vania bersama Sandra dan Mirna.

__ADS_1


Mata Tante Rina dan mata Lika langsung tertuju pada perut Sandra yang terlihat membukit.


****


__ADS_2