Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Belajar Melupakan


__ADS_3

Di sebuah rumah sederhana di kota Surabaya, Sandra menaruh barang-barangnya di kamar barunya.


Dia akan menjalani kehidupan barunya di kota ini bersama Mirna.


"Kalau kalian lelah istirahat saja dulu, tadi Tante sudah masak, jadi kalian bisa makan di meja makan itu, jangan sungkan di sini ya, anggap saja rumah sendiri!" ucap Tante Tatik, tantenya Sandra, adik ibunya yang terkecil.


Tante Tatik bekerja di sebuah pabrik garmen yang ada di kota itu. Di usianya yang sudah sangat matang, Tante Tatik masih melajang, entah mengapa dia tidak mau menikah dan lebih memilih hidup sendiri.


"Terimakasih Tante!" sahut Sandra dan Mirna.


"Apakah masih ada lowongan di pabrik garmen Tante? Aku ingin bekerja!" tanya Mirna.


"Baiklah, nanti aku akan bilang sama pimpinan ku, supaya kau bisa bekerja, tapi Sandra, kau di rumah saja ya, perutmu itu sudah terlihat besar, nanti kau malah jadi gunjingan tetangga di sini!" ujar Tante Tatik.


"Baik Tante!" sahut Sandra.


"Mirna, besok pagi kau boleh ikut aku ke pabrik!" kata Tante Tatik. Mirna mengangguk senang.


"Terimakasih tante, aku senang akhirnya bisa dapat pekerjaan halal juga!" seru Mirna.


Mereka kemudian mulai beristirahat di kamar itu. Sementara Tante Tatik terlihat kembali ke dapur untuk membuat sesuatu.


"Mirna, kau sudah menghubungi Roy?" tanya Sandra.


"Belum San, aku matikan ponselku sejak kemarin, aku takut kalau dia tanya keberadaan kita!" jawab Mirna.


"Terimakasih Mir, kau bisa berhubungan dengan Roy kapanpun, hanya satu hal yang aku minta darimu, jangan beritahu keberadaanku, aku mau belajar melupakan Nando!" pinta Sandra.


"Baiklah San, kau tenang saja, aku akan jaga baik-baik rahasiamu, walaupun dengan Roy sekalipun!" jawab Mirna.


****


Seorang Dokter datang untuk memeriksa kondisi Vania, yang kini terbaring di sebuah kamar perawatan.


Tangan Vania terlihat di pasang infus, Vania nampak masih belum sadar diri sejak tadi pagi dia di bawa ke rumah sakit.


Nando beringsut mendekati Dokter yang sedang memeriksa kondisi Vania. Ada sedikit rasa bersalah yang menggelayuti Nando.


"Bagaimana kondisinya Dok? Mengapa dia bisa pingsan begitu lama?" tanya Nando.


"Dia pendarahan lagi, efek dari operasi tempo hari, tapi ini tidak membahayakan, yang membahayakan justru kondisi psikisnya!" jelas Dokter.


"Kondisi psikis? Apa maksud Dokter?" tanya Nando.

__ADS_1


"Kesedihan dan tekanan seringkali membuat orang menjadi drop, tekanan darah naik dan pusing, akibatnya bisa pingsan, apalagi saat kondisi tubuh sedang masa pemulihan seperti ini!" jawab Dokter.


"Lalu, apa yang harus di lakukan Dokter?" tanya Nando lagi.


"Selain merawat tubuh jasmaninya, batinnya juga perlu di perhatikan, jangan membuat dia stress atau depresi, itu hanya akan memperlambat proses kesembuhannya!" jawab Dokter.


"Tuh dengar Nando! Mulai saat ini kau fokus saja pada kesembuhan Vania, dia itu istrimu, sudah seharusnya kau menjaga perasaannya!" celetuk Tante Rina.


"Iya Ma!" sahut Nando.


Tak lama kemudian Vania mulai mengerjapkan matanya, tubuhnya kembali terasa lemah.


Matanya menatap dalam ke arah Nando, yang kini duduk di sampingnya.


Tangan Vania berusaha menggenggam tangan Nando yang di rasa dingin. Vania lega, setidaknya saat ini Nando masih berada di sampingnya.


"Fernando suamiku, Nando ku, terimakasih ya ... kau masih ada di sini!" ucap Vania lirih.


"Iya Van, aku di sini, maafkan aku ya!" balas Nando.


"Kau jangan khawatir Vania, suamimu ini tidak akan kemana-mana, dia itu hanya milikmu seorang, kau harus percaya itu!" timpal Tante Rina.


"Benarkah? Nando, berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku, aku sangat takut kehilanganmu Nando, aku sangat sayang padamu, sejak dulu ... Nando adalah impianku, harapanku, masa depanku!" Vania mulai menangis.


Tiba-tiba Nando teringat ucapan Dokter barusan, kesehatan Vania berhubungan dengan kondisi psikisnya, bagaimana mungkin Nando akan melukai hati Vania?


Apalagi kini mereka sudah menjadi sepasang suami istri, ada janji suci dan tanggung jawab yang harus dia penuhi.


"Aku tidak akan meninggalkanmu Vania, percayalah padaku, sekarang kau istirahatlah!" bisik Nando.


Ada senyum yang tersungging dari bibir Vania yang kini terlihat pucat.


"Terimakasih Nando, kau suami yang baik!" ucap Vania sambil mengecup tangan Nando yang sejak tadi menggenggam tangannya.


Drrt ... Drrrt ... Drrr


Suara getaran ponsel Nando terdengar dari saku bajunya. Nando langsung merogoh sakunya dan mengusap layar ponselnya itu, di lihatnya Ibunya yang meneleponnya.


"Halo Ibu!"


"Nando, Ibu barusan dengar kabar dari jeng Rina, katanya Vania masuk rumah sakit lagi, bagaimana keadaannya sayang?" tanya Lika ibunya.


"Baik Bu, Ibu di mana sekarang?" tanya Nando.

__ADS_1


"Ibu masih di rumah Nando, sedang menunggu Papamu, setelah itu kami akan ke rumah sakit menjenguk Vania!" jawab Lika.


"Terimakasih Bu, aku tunggu!" ucap Nando sebelum mematikan ponselnya.


Kira-kira satu jam kemudian, Lika dan Ricky datang ke rumah sakit. Wajah mereka terlihat cemas.


Sementara Vania nampak tertidur.


"Nando, di mana Jeng Rina?" tanya Lika.


"Mama pulang ke rumah Bu, mau mengambil pakaian ganti!" jawab Nando.


Nando lalu mengambil sebuah sertifikat yang ada di dalam tasnya yang sudah dia bawa sejak tadi saat ke rumah sakit.


"Ini serifikat rumah prostitusi yang terbakar itu Pa, terserah mau di apakan lahan itu, aku sudah tidak menginginkannya lagi!" ujar Nando sambil menyerahkan sertifikat itu.


"Bagaimana sertifikat ini bisa ada di tanganmu Nando?" tanya Ricky.


"Itu bukan hal yang penting Pa, tolong Papa urus ini, atau minta tolong Bang Jo untuk mengurusnya!" jawab Nando.


"Baiklah, Papa mau ke parkiran dulu menaruh ini sebentar, sekalian membeli makanan, kau pasti lapar kan Do! Tadi kami buru-buru jadi lupa bawa makanan deh!" ujar Ricky yang langsung beranjak keluar dari ruangan itu.


Lika menatap lekat wajah Nando, instingnya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa Nando tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Nando, bisa ikut ibu sebentar ke depan? Kita duduk di bangku koridor depan ya, ada yang mau ibu bicarakan padamu!" ucap Lika.


Nando menganggukan kepalanya, kemudian dia beranjak dan berjalan mengikuti Lika keluar dari ruangan.


Mereka kemudian duduk di bangku koridor yang ada di depan ruangan itu.


"Ada apa denganmu Nando? Ibu melihat kau tidak bahagia, wajahmu yang mengatakan itu!" tanya Lika.


Nando langsung merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya sambil menangis.


"Maafkan aku Bu ... maafkan aku ... sebenarnya ... aku mencintai wanita lain Bu, tetapi wanita itu bukan Vania!" ucap Nando sambil menangis.


Lika terhenyak mendengar pengakuan Nando, tubuhnya tiba-tiba bergetar.


****


Halo Guys ...


Bagi yang ingin tau kisah masa kecil Nando dan masa lalunya, bisa baca novel Author yang berjudul "Pelabuhan Terakhir"

__ADS_1


Terimakasih 🙏😉


__ADS_2