Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Semakin Tertekan


__ADS_3

Hari sudah jauh malam, namun Tante Rina belum juga pulang ke rumah.


Vania mulai khawatir dan gelisah.


Sedari tadi Vania mondar mandir di ruangan kamarnya itu, dia juga belum bisa memejamkan matanya.


Sementara Nando masih nampak tidur nyenyak di tempat tidurnya.


Beberapa kali Vania menelepon Tante Rina, namun sekali pun Tante Rina tidak pernah mengangkat teleponnya.


Akhirnya Vania terpaksa membangunkan Nando.


"Do, bangun Do! Mama belum pulang! Antar aku cari Mama Do!" seru Vania.


Nando mengerjapkan matanya, lalu menatap Vania dengan matanya yang terlihat merah.


"Apa? Mama belum pulang? Memangnya Mama kemana sih?" tanya Nando sambil mengucek matanya.


"Mana aku tau Do, aku telepon tidak pernah di angkat Mama!" sahut Vania.


"Kita mau cari Mama kemana Van? Mama itu sudah dewasa, dia pasti pergi punya tujuan, bukan seperti anak yang hilang!' ujar Nando.


"Aku tau Do, tapi Mama tidak pernah mengatakan apapun padaku, sikapnya aneh! Antar aku ke butik Mama, aku mau tanyakan soal Mama pada Yuna!" kata Vania.


"Baiklah, ayo kita berangkat Van!" Nando segera beranjak dari tempat tidurnya kemudian langsung keluar dan berjalan menuju ke parkiran depan.


Vania mengikuti di belakangnya. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan Nando mulai mengemudikan mobil itu.


Mereka langsung meluncur ke butik Tante Rina.


Yuna, asistennya Tante Rina nampak sibuk membereskan baju dan bersiap akan menutup butiknya itu.


Nando langsung memarkirkan mobilnya di depan butik itu. Kemudian mereka turun dan langsung masuk ke dalam butik.


Yuna nampak terkejut melihat kedatangan mereka.


"Yun, apakah kau melihat Mama? Kapan terakhir Mama ke butik?" tanya Vania tanpa basa basi.


"Ibu Rina beberapa hari ini jarang ke butik Mbak, padahal dulu dia selalu datang ke butik untuk mengontrol!" jawab Yuna.


"Yun, apakah kau melihat ada yang aneh pada Mama? Dia sampai sekarang belum pulang ke rumah lho Yun!" tanya Vania lagi.

__ADS_1


"Waktu itu saya lihat Mbak, beberapa kali Bu Rina ketemu sama pria, kelihatannya sih Pria itu selalu minta uang sama Bu Rina, tapi saya tidak berani nguping Mbak!" jawab Yuna.


"Bagaimana ciri-ciri dari pria itu?" tanya Nando.


"Orangnya berkumis dan berjenggot, kurus tinggi, kulitnya coklat, dan selalu merokok!" jelas Yuna.


"Kenapa semua ciri-ciri orang itu mirip sama Pak Wiryo ya?!" gumam Nando.


"Kau mengenal orang itu Do?" tanya Vania.


"Iya Van, ciri-cirinya sama persis dengan Pak Wiryo!" sahut Nando.


"Siapa Pak Wiryo?"


"Pak Wiryo adalah Ayah tiri Sandra, sejak dulu dia selalu memeras Sandra, dan Pak Wiryo ini juga yang menjerumuskan Sandra ke lembah hitam, dia orang yang licik dan berbahaya!" jawab Nando.


"Lalu, apa tujuan dia memeras Mama? Lalu kenapa Mama malah menghilang sekarang?" tanya Vania cemas.


"Tenang Vania, kamu jangan panik, ingat kesehatanmu lebih baik sekarang kita pulang, kau kan juga harus istirahat!" ujar Nando menenangkan.


"Tapi ..."


"Mama pasti baik-baik saja, dia sudah dewasa dan tau apa yang harus dilakukan, kau jangan khawatir ya, untuk masalah Pak Wiryo, nanti aku yang akan mencarinya, waktu itu aku pernah melihat Pak Wiryo jadi tukang parkir di parkiran rumah sakit, aku akan mencarinya ke sana besok!" ucap Nando.


Mereka akhirnya kembali pulang kerumah, meskipun dalam hati Vania masih cemas akan Mamanya yang tak kunjung kembali itu.


"Berarti selama ini orang yang suka menelepon Mama itu Pak Wiryo ya?" tanya Vania.


"Bisa Jadi, tapi apa dasar Pak Wiryo untuk memeras Mama ya?" gumam Nando.


"Sebelumnya Mama tidak pernah punya masalah dengan siapapun, tapi kenapa belakangan Mama jadi tidak jujur padaku, apakah aku yang terlalu sibuk dengan masalahku sendiri?!" Vania mulai meneteskan air matanya.


Nando hanya bisa menggenggam tangan Vania untuk sekedar menenangkannya.


****


Sementara itu, Sandra masih menimang Kia di kamarnya, walaupun Kia sudah sembuh dan pulih, tapi malam ini Kia agak rewel, mungkin karena tidak ada Papanya yang bersama dengannya.


"Cup cup cup sudah dong Kia, jangan rewel terus, Papa kan sedang bersama Mama Vania, ayo bobo dong sayang, Mama capek nih!" ucap Sandra pada bayinya.


Namun Kia masih juga rewel, Sandra tidak mungkin menelepon Nando, dia tau saat ini Nando sedang bersama Vania, dan malam ini adalah hak Vania, bukan Kia.

__ADS_1


Akhirnya Sandra membawa Kia keluar dari kamarnya, mungkin suasana luar membuat Kia lebih tenang.


Di luar kamar, Kia terlihat sedikit tenang, bayi itu sebenarnya mengantuk, hanya saja dia belum dapat tidur.


Karena terlalu lelah, Sandra ketiduran di sofa ruang tamu rumah itu dengan Kia yang ada di pangkuannya.


****


Pagi datang menjelang, Nando melonjak kaget saat di dengarnya suara ponsel yang berbunyi di meja kamarnya.


Vania terlihat masih pulas tertidur, karena semalam Vania memikirkan Tante Rina yang masih belum kembali.


Perlahan Nando mengusap layar ponselnya itu.


"Halo!"


"Halo Pak Nando, maaf mengganggu pagi-pagi, kami hanya ingin menginformasikan, bahwa penculik anak anda telah kami tangkap, sekarang dia ada di tahanan kantor kami!" jelas polisi itu.


"Oya? Benarkah Pak? Bagaimana bisa pelaku di ketahui dan di tangkap secepat itu?" tanya Nando heran.


"Karena kami melihat dari rekaman cctv taman tempat bayi Kianandra di culik, makanya kami langsung bisa dengan mudah meringkusnya!" jelas polisi itu.


"Terimakasih banyak atas kerjasama nya Pak, kalau begitu saya akan memberitahukan kabar ini ke keluarga saya!" ucap Nando sebelum menutup teleponnya.


Tanpa menunggu lama, Nando langsung memencet nomor telepon rumahnya, berniat akan memberitahu kabar gembira ini, penculik Kia sudah tertangkap.


"Halo!" terdengar suara Lika yang mengangkat telepon rumah.


"Halo Ibu, Sandra sudah bangun Bu?" tanya Nando.


"Pagi-pagi kok mencari Sandra, dia ketiduran di sofa bersama Kia, kelihatannya belum lama tertidur, biarkan saja lah Nak!" jawab Lika.


"Bu, aku mau memberitahukan kalau penculik Kia sudah tertangkap Bu! Siang ini aku akan ke kantor polisi melihat siapa orang yang telah menyakiti anakku, akan ku beri perhitungan dia!!" cetus Nando.


"Apa? Sudah tertangkap? Kalau begitu Ibu akan bilang Papa, Ibu juga ingin tahu siapa yang sudah membuat cucu Ibu sakit hingga di rawat!" tambah Lika.


Baiklah Bu, nanti siang sebelum jam makan siang, kita janjian di kantor polisi, setelah itu aku akan traktir kalian semua makan di restoran, untuk merayakan di tangkapnya penjahat itu!" ujar Nando.


"Oke, Ibu juga akan beritahu kakakmu Kezia dan Jo, mereka juga pasti mau ikut!" ujar Lika senang.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2