Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Pengakuan Adi


__ADS_3

Adi terhenyak saat turun dari dalam mobilnya, Vania ada di depan gerbang berdiri dengan seorang wanita yang sudah dia kenal sebelumnya.


"Sita?? Ngapain kau datang kesini??" tanya Adi sambil menatap tajam Sita.


"Ya aku ikutin wanita ini, ternyata gara-gara dia kau memutuskan hubungan kita!!" dengus Sita.


"Adi, kau selesaikan masalahmu dengan wanita ini! Lagi pula aku capek mau istirahat!" ujar Vania yang langung melangkah pergi masuk ke dalam rumahnya.


"Vania!! Wanita itu bukan siapa-siapa aku! Kau dengarkan aku dulu!" seru Adi.


"Sudahkah Di, kau urus saja dia, kepalaku tambah pusing!" sahut Vania yang langsung masuk kedalam.


Adi menatap tajam pada wanita yang ada di hadapannya itu.


"Kau wanita tak tau malu! Aku sudah memutuskanmu kau masih menggangguku!!" sengit Adi.


"Adi, apa alasanmu memutuskan aku? Bukankah aku ini calon istrimu? Aku masih mencintaimu Adi!" rajuk Sita.


"Kau dengar Sita! Kita tidak cocok, kau punya kepribadian buruk dan aku tidak mencintaimu!! Kau paham?!!" sengit Adi.


Sita hanya terdiam dan terpaku, jatuh sudah harga dirinya, Adi kemudian langsung masuk ke dalam menyusul Vania, sementara Sita pergi sambil menangis.


Vania nampak duduk di sofa ruang tengah rumahnya.


Adi yang menyusulnya langsung duduk di sebelahnya.


"Van, mau kah kau mendengarkan penjelasan ku, supaya tidak ada lagi dusta diantara kita?!!" tanya Adi.


"Di, kau bicara saja, aku akan mendengarkan mu!" sahut Vania.


"Aku akui memang dulu aku pernah menjalin hubungan dengan Sita, tapi lama kelamaan aku menyadari bahwa di antara kami tidak ada kecocokan!" jelas Adi.


"Kenapa kau bisa bilang begitu?" tanya Vania.


"Sita selalu pamer ke semua rekan-rekan seprofesinya, kalau aku calon suaminya, dia bangga padaku karena aku adalah seorang pengacara, sampai dia menulis status di media sosialnya memamerkan aku, seolah dia mau seluruh dunia tau kalau aku ini calon suaminya, tapi aku sangat tidak suka!" ungkap Adi.


"Kenapa kau tidak suka? Seharusnya kau senang dong di promosikan!" ujar Vania.


"Bukan hanya itu, Sita juga terlalu ambisius dan materialis, setiap kali kami jalan, semua barang dia beli dan belum puas kalau apa yang di inginkannya belum tercapai, aku capek Van, dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaanku!" lanjut Adi.

__ADS_1


"Aku mengerti Adi, kau tak perlu menjelaskannya lagi!" ucap Vania.


"Terimakasih Van, saat pertama kali melihatmu, aku merasa kau adalah wanita yang berbeda, kau sangat terhormat dan sopan, walaupun agak sedikit cuek! Tapi aku mengagumimu!" tambah Adi.


"Jangan kau terlalu banyak memujiku Adi, nanti kau akan menyesal!" sahut Vania.


"Menyesal? Apa maksudmu?" tanya Adi.


"Aku ini wanita yang tidak sempurna Di, kau tau kan aku sakit dan kini rahimku di angkat, aku tidak akan bisa hamil sampai kapanpun, karena itu, jangan buang waktumu untuk mengejarmu!" jawab Vania.


Adi lalu menggenggam tangan Vania hangat, seolah memberikan kekuatan.


"Van, aku sudah pernah katakan padamu, aku bisa menerima segala kekuranganmu, aku akan melengkapi semua kekuranganmu itu, kalau hanya masalah anak, toh aku juga di besarkan di panti asuhan, kita bisa mengadopsi anak Van, atau kita juga bisa ikut program bayi tabung, kita pinjam rahim seseorang, jaman sekarang semua serba mungkin!" ucap Adi.


"Adi ... beri aku sedikit waktu untuk berpikir, aku belum bisa cepat-cepat mengambil keputusan!" sahut Vania.


"Aku akan menunggumu Van, kau tenang saja, aku tau kau belum bisa cepat move on dari Nando, aku akan belajar sabar menunggumu!" ucap Adi.


Vania mulai menitikkan air matanya, selain Nando yang bisa menerima dia apa adanya, ternyata Adi pun bisa menerima segala kekurangan Vania, membuat hati Vania menghangat seketika.


Adi lalu mulai merengkuh tubuh Vania dan memeluknya erat.


****


Pagi itu Nando bersiap akan pergi ke kantor nya, dia sudah berpakaian rapi dengan dasi yamg melingkar di lehernya, Nando kelihatan sangat dewasa.


Mereka kemudian sarapan bersama di meja makan itu, kebetulan Ricky juga sudah bersiap akan meninjau kantor propertinya.


Sandra juga duduk menghadap meja makan itu sambil memangku Kia.


"Nando, kalau kau sudah resmi bercerai dengan Vania, lalu rumahmu yang di sana bagaimana?" tanya Lika tiba-tiba.


"Sebenarnya rumah itu mau aku berikan pada Vania Bu, tapi Vania menolaknya, jadi waktu itu aku hanya memberikan Vania uang saja!" jawab Nando.


"Oh begitu, Ibu berharap Vania akan menemukan kebahagiaannya, Ibu sedih kalau ingat dia, apalagi sekarang Mamanya di penjara!" ungkap Lika.


"Kenapa rumah itu tidak kau tempati saja bersama Sandra? Sayang kan rumah sebesar itu harus kosong!" ujar Ricky di sela-sela makannya.


Nando lalu menoleh ke arah Sandra.

__ADS_1


"Bagaimana San? Kau mau tinggal di rumah itu?" tanya Nando.


"Maafkan aku, kalau aku sih terserah Nando saja, dia kan kepala rumah tangga!" jawab Sandra.


"Tapi kalian jangan buru-buru pindah dulu, Ibu kan masih kangen sama Kia, sebenarnya kalian tinggal saja di rumah ini, supaya lebih ramai!" usul Lika.


"Aku juga mau nya begitu Bu, tapi istriku ini kelihatannya ingin tinggal berdua saja denganku!" goda Nando.


"Benar begitu San?" tanya Lika.


"Nando bohong Bu, dia yang mau mengajak aku dan Kia pergi, katanya biar mandiri dan tidak mau merepotkan Ibu dan Papa!" sahut Sandra.


"Siapa juga yang bilang repot, Ibumu selalu ingin dekat dengan cucunya, makanya kalian jangan jauh-jauh!" cetus Ricky.


Setelah selesai sarapan, Nando dan Ricky kemudian langsung berangkat ke kantor mereka masing-masing.


Lika mendorong kursi roda Sandra kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Sandra, kalau kau butuh apa-apa, jangan sungkan bilang sama Ibu ya!" kata Lika.


"Seharusnya aku yang merawat Ibu, melayani ibu, tapi ... aku malah menyusahkan Ibu karena kakiku yang lumpuh ini!" keluh Sandra yang tiba-tiba berwajah mendung itu.


Lika lalu mengusap bahu Sandra.


"Sandra, jangan sungkan pada Ibu, Ibunya Nando kan juga Ibumu, di sini kita akan saling memperhatikan satu sama lain!" jawab Lika bijak.


"Aku kagum pada keluarga Ibu, kalau tau begitu, sejak dulu saja kita tidak usah sembunyi-sembunyi!" ucap Sandra.


"Sembunyi-sembunyi? Apa maksudmu?" tanya Lika.


"Dulu, Nando itu pernah menyelamatkan aku dari kejaran anak buah Mami Vero, mucikari tempat aku bekerja sebagai wanita malam, karena Nando takut ketahuan keluarganya yang terhormat, dan tidak ingin mempermalukan keluarganya, dia menyembunyikan aku di kamarnya!" ungkap Sandra.


"Apaa?? Jadi ... Dia pernah menyembunyikan mu di kamarnya??" tanya Lika tak percaya.


"Iya Bu, tapi tidak lama kok, hanya sekitar dua harian, setelah itu dia membawaku pergi dari sini ke rumah Vania, sejak saat itu, aku ikut keluarga Vania dan bekerja di butik Tante Rina!" kenang Sandra dengan mata berkaca-kaca.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2