
Siang itu, Nando dan Sandra memutuskan akan pindah dari apartemennya ke rumah Nando yang kini telah selesai di pugar.
Rumah besar itu, kini telah berganti rupa dan warna.
Taman bunga yang dulu pernah ada kini semakin semarak dengan aneka tanaman bunga berwarna-warni.
Kolam renang yang dulu hanya berbentuk persegi panjang kini berubah menjadi wahana air yang pasti di sukai oleh anak-anak, dengan aneka seluncuran dan permainan, mirip seperti tempat wisata.
Sandra terperangah menatap rumah Nando yang begitu cepat dan kilat di kerjakan oleh tukang profesional.
Dia baru ingat kalau Papa Ricky, Papanya Nando adalah seorang developer terkenal, tentu saja dia memiliki tukang bangunan yang handal, tidak seperti tukang pada umumnya.
"Bagaimana sayang? Apa kau suka dengan rumah kita yang baru ini?" tanya Nando.
"Wah, ini sih Kia pasti suka berlama-lama main air, aku tidak menyangka, semuanya bisa berubah secepat ini!" sahut Sandra kagum.
"Semuanya ini adalah hadiah untukmu sayang, hadiah untuk seorang istri satu-satunya yang sangat di cintai oleh suaminya!" ucap Nando.
"Terimakasih suamiku sayang, aku tidak tau lagi harus berkata apa padamu, kau seperti anugrah yang di kirimkan Tuhan untukku, dan aku sangat terharu!" balas Sandra yang matanya mulai berkaca-kaca.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah besar itu, Pak Tejo dan Mbok Karsih menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya, akhirnya rumah ini tidak sepi lagi! Yuk Non Kia main sama Mbok karsih!" kata Mbok Karsih yang langsung mengambil Kia dari gendongan Sandra, agar Sandra dan Nando lebih leluasa menikmati desain terbaru dari rumah ini.
Di bagian dalam rumah itu juga berubah, cat yang dulu berwarna krem kini berubah menjadi putih dan bersih, penataan ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan juga terlihat berbeda, semua furniture di ganti, juga gorden dengan warna senada.
Dan yang paling menakjubkan lagi adalah di setiap dinding rumah itu, kini terpasang Foto Nando, Sandra dan juga Kia. Sandra tersenyum, membayangkan dia adalah ratu di rumah ini, yang melayani suami dan anak dengan sepenuh hati.
Dulu kehidupan normal seperti ini hanyalah sebuah impian dan khayalannya sebelum tidur, sekarang seolah semua mimpi telah menjadi kenyataan.
"Hei, kenapa kau menangis? Apakah kau tidak suka dengan desain baru nya? Kalau kau tidak suka, besok akan aku suruh tukang untuk merombaknya lagi!" ucap Nando sambil mengusap air mata Sandra yang sempat terjatuh dari matanya.
Sandra langsung memeluk Nando dengan erat.
"Nando ku sayang, aku sangat bahagia! Sampai aku tak bisa lagi harus berkata apa!" ucap Sandra sambil terisak.
"Ssst, kau memang tidak perlu berkata apapun, cukup menikmatinya saja, kini kau lah wanitaku satu-satunya, ku serahkan hatiku dan hidupku hanya untukmu!" bisik Nando.
Dia kemudian membimbing Sandra untuk naik ke atas menuju ke kamarnya.
Kamar itu begitu luas, bentuknya sangat berbeda dengan sebelumnya. Semua lantainya transparan.
Di lantai kamar itu terlihat ada ikan yang berenang kian kemari, di sudutnya ada sebuah akuarium besar dengan aneka ikan hias di dalamnya.
__ADS_1
Berada di kamar itu seolah berada di lautan lepas, dengan suara gemericik air yang terus berbunyi sangat indah di lihat mata dan di dengar oleh telinga.
Di sudut yang lain juga ada jendela besar dengan sebuah balkon yang saat di buka akan terlihat taman bunga di halaman depan, sangat indah di lihat.
"Ini kamar Kita sayang, Kia pasti juga akan sangat senang berada di kamar ini lama-lama!" ucap Nando.
"Kamar ini bagus, semua nya berubah, tempat tidurnya juga berubah, sayang, kau sengaja membuat ini semua?" tanya Sandra.
"Iya dong, supaya kau tidak selalu ingat Vania saat berada di kamar ini!" sahut Nando.
"Iya, kau tau saja kalau aku selalu di hantui bayangan Vania, bukan apa-apa, aku kan cuma ..."
"Cemburu kan? Aku tau kalau kau itu cemburu sayang, makanya aku berusaha untuk mengubah rumah ini menjadi istana buatmu, supaya kau bahagia dan tidak ingat Vania lagi!" ujar Nando.
Sandra kemudian duduk di tepi ranjang itu, ranjang yang berukuran besar dengan kelambu di setiap sisinya, menambah suasana romantis di kamar itu, dengan cahaya lampu yang remang.
"Bagaimana tempat tidurnya?" tanya Nando.
"Bagus!"
"Kau suka?"
"Sangat, aku sangat suka!"
"Mulai apaan sih? Jangan macam-macam!" cetus Sandra.
"Sebentar saja, ayolah ..."
Nando yang tidak sabar langsung membaringkan Sandra dan mulai mencumbuinya kembali.
Sandra tidak bisa menolak keinginan Nando yang satu ini, Nando itu selalu terburu-buru dalam bercinta, mungkin karena minim pengalaman.
Belum apa-apa Nando sudah membuka pakaiannya sendiri dan memperlihatkan miliknya yang sudah tinggi menjulang dengan ujung yang kemerahan, membuat Sandra harus menahan nafas untuk melihatnya.
"Kau ini, selalu begini sayang, besok-besok kau harus belajar bagaimana memulai suatu hubungan suami istri, bukan langsung hantam kromo seperti ini ..."
Sandra lalu bangun dan membantu Nando untuk berbaring.
Pengalamannya sebagai wanita malam membuat dia tau bagaimana cara untuk memuaskan suami.
Perlahan Sandra mulai menyentuh dan mengecup milik Nando dengan lembut, lalu memijitnya perlahan.
"San ... aku gemetar nih keenakan!" bisik Nando dengan Nafas tertahan. Sandra tersenyum.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok
Pintu kamar itu tiba-tiba di ketuk.
Sandra langsung melepas milik Nando dan kemudian langsung merapikan pakaiannya.
"Sial!! Mengganggu kesenangan orang saja!" geram Nando.
"Ssst, kecilkan suaramu, siapa tau Kia rewel dan haus!" bisik Sandra yang langsung berjalan ke arah pintu.
Dengan kesal Nando kembali memakai pakaiannya dan memasukan miliknya ke dalam dengan paksa karena sesak.
"Ada apa Mbok Karsih? Kia rewel ya?" tanya Sandra yang melihat Mbok Karsih sudah berdiri di depan pintu sambil menggendong Kia.
"Oh, bukan Nyonya, tapi di bawah ada orang yang mau ketemu Nyonya!" kata Mbok Karsih.
"Siapa?" tanya Sandra.
"Tidak tau Nyonya!"
"Baiklah, aku turun sekarang!"
Sandra lalu mulai melangkah turun dari tangga menuju ke bawah, Nando mengikutinya dengan wajah cemberut karena hasratnya belum tuntas.
"Yuna?!!" seru Sandra saat melihat siapa orang yang menunggunya.
"Eh, Mbak Sandra, ini lho Mbak, aku mau serahkan kunci butik ini untuk Mbak Sandra, aku mau pulang kampung Mbak!" kata Yuna sambil menyerahkan sebuah kunci ke arah Sandra.
"Kunci butik??"
"Iya Mbak, Mbak Vania menyuruh saya untuk memberikan kunci butik ini untuk Mbak Sandra, supaya Mbak Sandra bisa lanjutkan mengelolanya, sayang Mbak, sudah banyak langganan!" jelas Yuna.
"Lalu, kenapa kau mau pulang kampung?" tanya Sandra.
"Saya mau menikah Mbak, mungkin nanti saya akan tinggal di kampung, dan tidak akan balik lagi!" jawab Yuna.
Sandra tercenung memandang kunci butik yang kini ada di tangannya itu.
Bersambung ...
****
Besok episode terakhir ya guys ...
__ADS_1
Yuk dukung yuk .. 😉😘