
Hari ini Nando dan Sandra bersiap akan pindah dari rumah orang tuanya.
Sandra sudah bisa berjalan pelan-pelan, lepas dari kursi rodanya, walaupun kakinya kadang masih terasa nyeri.
Mereka kembali ke rumah Nando yang lama, rumah besar yang sempat kosong beberapa waktu lamanya.
Di rumah ini, rumah hadiah pernikahan Nando dan Vania dulu dari Dicky, masih terlihat sunyi dan sepi.
Foto pernikahan Nando dan Vania bahkan masih menempel di dinding ruangan itu, entah mengapa hati dan perasaan Sandra jadi tidak enak.
"San, kita naik yuk ke kamar, barangkali Kia sudah cepek mau baringan di kamar, nanti Roy akan membelikan lagi semua perlengkapan bayi untuk Kia, mulai hari ini rumah ini adalah istana kita!" ucap Nando.
Sandra hanya menganggukkan kepalanya, Nando yang menggendong Kia lalu menuntun Sandra naik ke atas menuju ke kamar Nando.
Kamar itu adalah kamar Nando dan Vania dulu, Nando nampak biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa, namun Sandra merasa sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
Nando mulai membaringkan Kia, sementara Sandra hanya duduk di sisi pembaringan itu.
Sama seperti di ruang tamu depan, di dinding kamar itu juga ada foto pernikahan Nando dan Vania.
Dulu waktu Nando dan Vania menikah memang di rayakan secara besar-besaran, jadi wajar saja mereka memiliki foto yang bagus dan indah dengan fotografer yang terkenal.
Sangat berbeda saat Nando menikahi Sandra, pernikahan sederhana yang hanya di langsungkan di rumah dan di hadiri oleh beberapa orang kerabat saja.
Ada butiran bening yang menetes di pipi Sandra.
"Hei, ada apa sayang? Kenapa kau menangis?" tanya Nando.
Sandra diam saja tanpa bicara, Nando memandang ke sekeliling kamar, saat dia melihat dirinya ada dalam foto pernikahan dengan Vania, barulah dia sadar.
"Ya Tuhan, aku sampai tidak memperhatikan hal ini, jadi ini yang membuatmu menangis??" ucap Nando.
Dia langsung berdiri dan mengambil foto-foto itu, lalu di taruh nya di atas meja.
Kemudian Nando keluar dari kamarnya dan memanggil Mbok Karsih.
"Mbok Karsih!! Mbok!!" panggil Nando.
Dengan tergopoh-gopoh Mbok Karsih datang menghampiri Nando.
"Iya Tuan muda! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mbok Karsih.
__ADS_1
"Tolong kau suruh Pak Tejo untuk mencopot semua foto-foto yang ada di dinding, copot semua dan jangan ada satupun yang tersisa!" titah Nando.
"Baik Tuan!" jawab Mbok Karsih yang segera berlalu dari tempat itu.
Nando kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Sekarang sudah tidak ada lagi foto-foyo itu, kau jangan khawatir!" ucap Nando sambil mengusap rambut Sandra.
"Nando, aku ... aku ... tidak ingin tidur di kamar ini, aku pasti akan ingat Vania, semua miliknya bahkan masih ada di kamar ini, aku semakin merasa berdosa, telah merebut suaminya, aku benar-benar jahat!" Isak Sandra.
Nando lalu merengkuh bahu Sandra dan memeluknya dengan erat.
"Kalau kau tidak suka rumah ini, kita akan pindah dari sini!" bisik Nando.
"Jangan Do, rumah ini adalah pemberian dari Papa, dia pasti akan sedih kalau kita pergi dari sini!" tukas Sandra.
"Lalu aku harus bagaimana agar kau tidak merasa seperti ini lagi?" tanya Nando.
"Kita pindah kamar saja, kamar di kamar tamu yang di lantai bawah itu, jadi aku tidak melihat kamar ini!" jawab Sandra.
"Tapi kan kamar di bawah tidak sebesar dan senyaman kamar ini sayang, tapi baiklah, asal kau senang di manapun aku tidak masalah!" ujar Nando.
Dia kembali menggendong Kia dan menuntun Sandra keluar dari kamar itu.
"Iya San, aku paham!" sahut Nando.
Mereka kembali menuruni tangga dan sekarang duduk di ruang keluarga.
Pak Tejo di bantu Roy sedang mencopoti foto-foto yang terpajang di seluruh dinding rumah itu.
Tak lama kemudian, mereka selesai mencopot semua foto yang ada di rumah itu.
"Pak Tejo, dan juga kau Roy, tolong panggil tukang profesional, minta mereka untuk memugar kamar yang di atas, renovasi sedemikian rupa hingga bentuknya berbeda dari yang sebelumnya!" ujar Nando.
"Siap Tuan!" sahut keduanya.
"Bagus! Usahakan secepat mungkin selesai!" tambah Nando.
"Nando! Kau tak perlu seperti itu! Untuk apa merenovasi kamar, kita bisa kok tidur di kamar yang ini!" sergah Sandra.
"Kamar ini kamar tamu sayang, aku ingin kamar kita menjadi satu dengan kamar Kia, kamar yang besar dan nyaman, kau tenang saja, nanti tempat tidur, lemari dan semua yang ada di kamar itu akan aku keluarkan, sehingga kau tidak terus teringat Vania!" ujar Nando.
__ADS_1
"Kau berlebihan Do!" cetus Sandra.
"Biarin! Asal kau bahagia!" sahut Nando.
"Dulu kau bisa menyelamatkan aku dari lembah hitam, itu sudah yang paling bahagia dalam hidupku, tanpa kau perlu melakukan banyak hal, aku sudah bahagia!" ucap Sandra.
"Selain aku perduli padamu, aku juga mulai jatuh cinta padamu!" sahut Nando.
"Apa yang membuat kau jatuh cinta padaku, aku kan wanita malam, aku bukan perawan seperti Vania, aku ini bekas banyak orang, apa kau tidak jijik padaku?" tanya Sandra.
Nando terdiam, dia juga bingung mau menjawab apa, pertanyaan yang dari dulu sangat sulit di jawab Nando.
"Aku juga tidak tau San, cinta itu memang aneh, tidak masuk logika manusia, tapi dia selalu ada dan mampu membuat orang melakukan apapun demi cintanya!" jawab Nando.
"Trimakasih ya Do!" ucap Sandra.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Nando.
"Terimakasih untuk cintamu!" sahut Sandra sambil mengecup pipi Nando yang putih kemerahan.
"Uluh Uluh Tuan!! Jangan buat orang beper dong! mentang-mentang sudah dapat yang di cinta!" protes Roy yang masih ada di situ sedang membereskan foto dan memasukannya ke dalam kardus.
"Ah kau ini! Bisanya mengintip saja!" sungut Nando.
"Siapa yang mengintip? Wong kalian melakukannya depan mata saya!" sahut Roy.
"Eh Roy, Mirna kos di mana? Ajaklah dia main ke sini, aku sangat ingin sekali mengobrol dengannya!" tanya Sandra.
"Neng Mirna lagi saya pingit, jadi dia tidak boleh keluar dulu sebelum saya resmikan, pokoknya undangan siap meluncur, jangan lupa amplopnya yang tebal ya Tuan?!" sahut Roy.
"Ya aku akan kasih kau amplop daun pisang supaya tebal, kau puas!!" cetus Nando.
"Tuan mah tega sama saya, awas saja kalau saya tidak di kasih hadiah bulan madu! Saya mogok jadi asisten Tuan!" ancam Roy.
"Memangnya kau mau bulan madu ke mana? Ancol? Taman Mini? Atau Ragunan? Tenang saja, aku pasti akan kasih kau tiket bulan madunya!" ujar Nando sambil tertawa.
"Enak saja! Minimal saya minta bulan madu ke Bali lah! Ya kali ke ragunan!" sahut Roy.
Tiba-tiba Nando terdiam, dia ingat kalau dia juga belum pernah mengajak Sandra bulan madu.
"San, kau mau bulan madu kemana?" tanya Nando sambil menoleh ke arah Sandra.
__ADS_1
Bersambung ...
****