Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Hampir Ketahuan


__ADS_3

Nando terkejut ketika pulang ke rumah, sudah ada mobil kakaknya yang terparkir di halaman rumah.


Kemudian dia langsung masuk ke dalam rumahnya itu, di ruang keluarga, sudah berkumpul Ibu dan Papanya, juga Kakaknya serta kakak iparnya.


"Kau sudah pulang Do? Duduklah!" kata Lika, Nando lun segera duduk bergabung dengan mereka.


"Nando, kenapa di kamar Kakak ada pakaianmu? Tempat tidur juga berantakan, kau pakai kamar kakak ya?" tanya Kezia.


"I-Iya kak, panas di kamarku!" sahut Nando.


"Tadi pagi Ibu juga dapat laporan dari Mbok Narti, katanya di balkon kamarmu ada pakaian dalam wanita, tapi setelah mau di cek kamarmu terkunci!" timpal Lika.


Nando mulai gelisah dan mati kutu, dia tidak bisa berkutik, otaknya terus berputar memikirkan cara supaya Sandra tidak ketahuan ada di dalam kamarnya.


"Nando, ambil pakaianmu di kamar kakak, malam ini Kakak sekeluarga mau menginap di sini!" ujar Kezia.


"Iya Kak!" sahut Nando.


"Sekarang coba buka kamarmu, biar kita bisa sama-sama melihat, ada apa di dalam kamarmu!" kata Ricky.


"I-Iya Pa! Tapi aku kebelet mau pipis dulu!" jawab Nando yang langsung bergegas ke toilet yang ada di situ.


Dengan cepat Nando lalu menelepon Sandra melalui ponselnya.


"Halo ..."


"Sandra, keluargaku mau mengecek ke kamarku, kau cepat sembunyi di lemari, singkirkan semua barang mu yang mencurigakan!" ujar Nando setengah berbisik.


"Oke, aku bereskan sekarang, aku akan buka kuncinya!" sahut Sandra.


Kemudian Nando keluar dari dalam toilet itu.


Papa dan Ibunya juga Kakaknya sudah berdiri menunggunya, sementara Jonathan kakak iparnya nampak sedang menggendong bayi mereka.


"Ayo Nando, cepat buka kamarmu!" titah Ricky.


Nando segera berjalan ke arah kamarnya di ikuti oleh mereka.


Nando langsung membuka pintu kamarnya yang kini sudah tidak terkunci itu.


"Lho, tadi pagi kok terkunci pintunya? Kenapa sekarang tidak??" tanya Lika bingung.


"Mungkin cuma perasaan Ibu saja!" kilah Nando.


Mereka lalu mulai masuk ke kamar itu.

__ADS_1


Ricky dan Lika nampak mengamati seisi kamar itu, tidak ada barang atau benda apapun yang mencurigakan di sana.


"Tuh kan Pa, Bu, tidak ada apa-apa di kamarku, tapi ya kalau malam agak horor dikit, makanya aku numpang tidur di kamar Kakak!" ujar Nando sambil menggaruk kepalanya.


Mereka nampak menganggukan kepalanya.


"Tapi ... coba kalian perhatikan, di kamar ini, kenapa seperti ada aroma parfum perempuan ya, bukan seperti bau nya Nando!" kata Lika.


"Masa sih Bu?" tanya Kezia.


"Iya, aromanya beda!" timpal Ricky.


"Aku kan pakai pengharum ruangan, jadi wajar kalau ada aroma bunga di kamarku!" tukas Nando.


"Tapi ini beda Do, tidak seperi bau pengharum ruangan!" kata Kezia.


"Sudah-sudah! Mungkin benar Mbok Narti sudah pikun, jadi dia berhalusinasi, maafin kami ya Do kalau kami mencurigai mu!" ujar Ricky.


"Tidak apa-apa kok Pa!" sahut Nando.


Mereka akhirnya keluar dari kamar Nando. Nando langsung mengunci dari dalam kamarnya itu.


Kemudian Sandra yang bersembunyi di dalam lemari, mulai keluar dari tempat persembunyiannya.


"Nando, pokoknya secepatnya aku harus pergi dari sini! Aku tidak mau keluargamu shock saat mereka tau kalau aku menginap di kamarmu!" seru Sandra sambil menarik panjang nafasnya.


"Sudahlah Nando, lebih baik aku menyerahkan diri saja sama Mami Vero, toh aku juga sudah terbiasa di rumah itu!" sahut Sandra.


"Bodoh! Aku membantumu menjadi wanita terhormat, kau malah mau kembali ke dalam lumpur!" dengus Nando.


"Tapi, mau sampai kapan??" tanya Sandra.


"Vania, ya Vania, aku akan minta bantuan Vania!" gumam Nando.


"Vania? Siapa Vania?" tanya Sandra.


"Vania itu adalah teman kampusku, orangnya sangat baik, aku akan minta tolong supaya kau bisa bermalam di rumahnya beberapa hari, sampai situasi benar-benar aman, kalian kan sama-sama perempuan, pastinya tidak akan ada masalah bukan?" jelas Nando.


"Vania itu pacarmu?" tanya Sandra.


"Bukan sih, aku malas pacaran!" sahut Nando.


"Ooh ..."


"Aku akan hubungi Vania, kalau dia oke, nanti malam bersiaplah, aku akan membawamu pergi dari sini!" ujar Nando.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kamu Nando, tapi aku percaya padamu!" ucap Sandra sambil menatap bola mata Nando yang hitam itu.


Nando kemudian mulai menghubungi Vania.


"Halo Nando, ada apa? Tumben kau meneleponku?" tanya Vania senang. Baru kali ini Nando meneleponnya, biasanya dia sama sekali tidak pernah menelepon Vania.


"Van, aku punya teman wanita sebatang kara, dia mau cari kerja di Jakarta, bisakah sementara dia tinggal di tempatmu?" tanya Nando.


"Teman wanita? Sejak kapan kau punya teman wanita?" tanya Vania balik.


"Ehm, itu, maksudku masih saudara jauh, dari Malaysia!" bohong Nando.


"Oooh ... Kenapa tidak tinggal saja di rumahmu? Kan masih saudara jauh?" tanya Vania lagi.


"Aku tidak enak Van, itu kan saudara dari pihak Ayahku, tapi kalau kau keberatan tidak apa-apa Van, nanti aku carikan dia tempat kos saja!" ujar Nando.


"Hei, siapa yang keberatan? Aku kan cuma tanya, aku malah senang kalau ada yang menginap di rumahku, aku jadi punya teman ngobrol deh!" sahut Vania.


"Terimakasih Van, nanti malam aku akan bawa dia ke rumahmu ya, mungkin sekitar jam 12 an!" kata Nando.


"Hah?? Malam sekali, kamu mau ronda dulu Do??" tanya Vania.


"Sudahlah, jangan banyak tanya, pokoknya tunggu aku jam 12 an ya, nanti aku telepon lagi, bye!" Nando lalu menutup teleponnya.


Kemudian Nando menolah ke arah Sandra yang kini duduk di kursi depan tempat tidur Nando.


"Aman San, Vania bersedia menerimamu!" ujar Nando.


"Tapi aku tidak enak Do!"


"Sudah, nanti kita pikirkan lagi cara lainnya, supaya kau bisa jadi dirimu sendiri, sekarang kau istirahatlah!" ujar Nando.


"Tapi, kau mau tidur di mana Do? Kakakmu kan sedang menginap di sini?" tanya Sandra. Nando nampak berpikir.


"Ya sudah, aku istirahat di sofa ini deh, kau tidur saja di tempat tidurku!" Nando lalu pindah posisi ke arah Sofanya, dia langsung duduk dan merebahkan kepalanya di sandaran sofa itu.


Drrt ... Drrt ... Drrt


Ponsel Nando bergetar, dia langsung merogoh ponselnya, ternyata Roy yang meneleponnya.


"Ada apa Roy?" tanya Nando.


"Tuan, ini saya lagi di jalan, tadi habis beli rokok di minimarket, baru saja keluar saya langsung di pukuli oleh anak buah germo tua itu, mereka menanyakan di mana Tuan dan Sandra, demi kesetiaan saya tutup mulut, tapi sekarang badan saya babak belur Tuan!" lapor Roy.


"Roy! Kau cepat pulang sekarang!" titah Nando.

__ADS_1


"Baik Tuan, saya tunggu sampai mereka semua pergi, atau mereka akan tau di mana rumah Tuan!" sahut Nando. Wajah Nando mulai tegang.


****


__ADS_2