
Di rumah sakit itu telah berkumpul seluruh keluarga besar Ricky.
Mereka sangat terkejut saat mendengar Kabar kalau Kia di temukan dalam kondisi sakit, apalagi harus di rawat intensif di rumah sakit.
Di ruang NiCu itu, hanya boleh di tunggu paling banyak dua orang, mereka masuk satu persatu untuk melihat keadaan Kia.
Mereka semua duduk di bangku depan ruangan NiCu itu.
"Kurang ajar penculik itu! Berani benar dia menyakiti cucuku!" dengus Ricky.
"Sabar Pa, sekarang kita fokus saja pada Kia, supaya dia cepat sembuh dan kembali pulang kerumah!"sahut Lika menenangkan.
"lagian aneh deh, apa modus di penculik itu? Kalau dia ingin uang, ke apa dia tidak telepon minta tebusan?" tanya Kezia bingung.
"Do! Apa kau selama ini pernah punya musuh?!" tanya Ricky sambil menoleh ke arah Nando.
"Tidak Pa!" jawab Nando.
"Tapi kenapa bisa anakmu yang jadi korban? Atau kau pernah menyakiti hati orang lain?" tanya Ricky lagi.
"Papa sudah ah! Nando sedang sedih anaknya sakit, kau malah mengintrogasi dia!" sergah Lika.
"Yang penting sekarang Kia sudah bersama kita, itu jauh lebih penting!" timpal Jonathan.
"Sesekali kau harus belajar seperti kakak iparmu itu Do, dewasa!" cetus Ricky.
Tanpa terasa hati sudah jauh malam, namun keluarga besar Nando masih nampak mengobrol di bangku depan ruangan itu.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, kasihan si Thomas terlalu lama di tinggal di rumah!" pamit Kezia.
"Kalian hati-hati ya!" ucap Lika.
"Terimakasih kak, sudah mau datang ke sini!" kata Nando.
"Pokoknya kalau ada kabar apapun jangan lupa menghubungi aku!" ujar Kezia
"Iya Kak!" sahut Nando.
Kezia dan Jonathan kemudian bergegas pulang ke rumah mereka.
"Papa dan Ibu kalau lelah istirahat saja di rumah, biar aku dan Sandra yang menjaga Kia!" kata Nando.
"Tapi kau sendiri juga lelah Do!" tukas Lika.
"Apalah artinya lelah ini, di bandingkan kehadiran Kia si samping kami!" ucap Nando.
"Baiklah, kalau kalian baik-baik saja, Papa dan Ibu pulang dulu, kasihan adik-adikmu besok harus sekolah!" kata Ricky.
__ADS_1
"Baiklah Pa!" sahut Nando.
Ricky dan Lika lalu berjalan bergandengan menuju ke tempat parkir.
Setelah semua keluarganya sudah pulang, Nando kembali masuk ke ruangan Kia, Sandra nampak masih berusaha menyusui Kia.
"Bagaimana Kia San?" tanya Nando.
"Kia masih sedikit menyusunya, dia masih belum stabil, kadang masih suka menangis!" jawab Sandra.
"Kasihan Kia, pokoknya aku akan memberi perhitungan pada orang yang telah menyakiti anak kita!" cetus Nando.
"Do, bisakah kau ke apotik dan membelikan pompa ASI? Aku malu pakaianku mulai basah lagi merembes ASI!" kata Sandra.
"Aku bantu saja ya!" tawar Nando.
"Jangan! Nanti bagaimana kalau ada Dokter atau suster yang masuk! Kan malu Do!" sergah Sandra.
Nando kemudian bangkit dan mengunci ruangan itu.
"Do! Apa yang akan kau lakukan? Kata Dokter di larang mengunci ruangan dari dalam, karena Kia masih harus sering di kontrol!" seru Sandra.
"Sebentar saja San!" sahut Nando.
"Nando ini ah!" sungut Sandra.
Baru beberapa menit saja ASI Sandra mulai habis karena Nando yang terlalu kuat menghisapnya.
Setelah selesai Kembali Nando membuka kunci ruangannya.
"Nah, sebentar kan!" ujar Nando.
"Tapi dadaku jadi sakit, kau ini begitu kuat menghisapnya! Dasar modus!" sungut Sandra.
"Tapi aku kenyang San, ASI mu enak juga, sekarang kau tidur saja, biar aku yang menjaga Kia!" ucap Nando yang langsung duduk di samping Kia yang berbaring.
"Ayo kau tidur saja, gantian aku yang menjaga Kia!" ujar Nando.
Sandra menganggukan kepalanya, akhirnya dia merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di sudut ruangan itu.
Sementara Nando masih duduk menunggui Kia yang kini masih terbaring di ranjang nya.
Ada rasa ngantuk dan lelah yang menyerang Nando, namun dia berusaha untuk menahannya.
Ceklek!
Seorang perawat datang untuk memeriksa infus dan kondisi Kia.
__ADS_1
"Selamat malam Pak, maaf mengganggu, mau mengecek infus Kia, dia harus sering di beri ASI Pak, karena ASI baik untuk proses pemulihan bayi!" jelas sang perawat.
"Iya suster, tadi istri saya sudah berusaha menyusuinya, tapi Kia hanya menyusu sedikit sekali, makanya saya habiskan ASI nya Kia ups!" Nando keceplosan, dia menutup mulutnya menahan malu.
Sang perawat hanya tersenyum kemudian dia segera keluar dari ruangan itu setelah mengecek infus Kia.
"Ah sial! Ini kenapa mulut pakai keceplosan segala! Jadi malu aku!" sungut Nando.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
Ponsel Nando bergetar, Vania yang meneleponnya, perlahan Nando mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Van, kau belum tidur?" tanya Nando.
"Belum lah Do, bagaimana bisa tidur? Bagaimana Kia, apa kalian sudah menemukan Kia?" tanya Vania.
"Sudah Van, tapi ... Kia sakit san sekarang dia malah di rawat di rumah sakit!" sahut Nando.
"Apa?? Kia sakit?" tanya Vania kaget.
"Iya Van, seseorang telah menaruh Kia di depan kantor polisi dalam keadaan sakit!" ujar Nando.
"Keterlaluan sekali dia! Lalu bagaimana kondisi Kia?" tanya Vania cemas.
"Dia sedang di tangani oleh Dokter, sekarang sudah lebih baik!" jawab Nando.
"Kalau begitu, aku ke sana ya, Sandra pasti sangat sedih dan terpukul melihat Kia yang seperti itu!" kata Vania.
"Jangan Van, ini sudah malam! Kala mau besok saja!" sergah Nando.
"Baiklah, besok aku akan mengajak Mama untuk menjenguk Kia!" ucap Vania.
"Baiklah, sekarang sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat!" kata Nando sebelum mematikan sambungan teleponnya.
"Kau habis telepon siapa Vania?" tanya Tante Rina yang tiba-tiba masuk ke kamar Vania.
"Mama? aku kira Mama sudah tidur!" ujar Vania.
"Van, Mama masih belum bisa tidur!' kata Tante Rina.
"Sama Ma, apalagi setelah mendengar kabar kalau Kia anaknya Nando masuk rumah sakit, kasihan sekali Kia!" ungkap Vania.
Untuk beberapa saat lamanya Tante Rina terdiam mendengar ucapan Vania.
Bersambung ...
****
__ADS_1