Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Kabar Tante Rina


__ADS_3

Setelah dari kantor polisi, keluarga Ricky bersiap pulang kembali ke rumahnya, begitu juga Nando dan Roy.


Nando belum memberitahukan tentang kecurigaan nya pada Tante Rina, karena belum ada bukti yang kuat mengenai itu.


"Nando, apa kau mengetahui sesuatu?" Bisik Sandra pada Nando.


"San, sebenarnya ... aku curiga pada Mama Rina, Vania bilang, dia pernah memberikan sejumlah uang pada Ayah tirimu itu, dan sampai sekarang Mama Rina belum juga pulang ke rumah!" ujar Nando.


"Nando, aku mohon kau jangan memberitahukan apapun mengenai Tante Rina pada keluargamu!" ucap Sandra.


"Kenapa San?" tanya Nando.


"Kasihan Vania Do, aku bisa bayangkan bagaimana perasaannya, aku takut Vania akan kembali sakit seperti dulu karena merasa bersalah padamu!" jawab Sandra.


"Tapi San, aku akan sangat marah kalau memang benar Mama Rina terlibat dalam penculikan Kia!" cetus Nando.


"San, kamu mau ikut kami pulang atau bersama Nando?" tanya Lika yang datang menghampiri mereka.


"Aku ... aku ikut Nando saja Bu!" jawab Sandra.


"Baiklah, kalau begitu kami duluan ya!" pamit Lika dan yang lainnya.


Sandra dan Nando menganggukan kepalanya.


Setelah keluarga Ricky dan Kezia sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, Nando kemudian menggandeng Sandra yang sedang menggendong Kia kembali menuju ke sel tahanan di mana Pak Wiryo di tahan.


Pak Wiryo kembali terkejut melihat kedatangan Nando dan Sandra.


"Mau apalagi kau datang ke sini? Masih belum puas mentertawakan aku?!" sengit Pak Wiryo.


"Kau memang pantas di tertawa kan Pak, bahkan itu masih terlalu ringan buatmu yang telah menculik anakku!!" dengus Nando.


"Hmm, kalau bukan demi uang, mana Sudi aku susah payah menculik anak orang!" cetus Pak Wiryo.


"Ayah benar-benar kejam!! Aku pikir setelah kebakaran itu Ayah sudah bertobat, tapi buktinya, ayah malah menyakiti anakku, cucu tiri ayah sendiri!!" seru Sandra.


"San, tadinya aku hanya mencarimu untuk meminta uang, tapi, ternyata aku malah bertemu dengan wanita iblis itu!" ujar Pak Wiryo.


"Wanita iblis? Siapa wanita iblis itu??" tanya Nando.


"Aku tak akan mengatakan, sebelum kalian mengeluarkan aku dari sini!' sahut Pak Wiryo.


"Aku tidak akan mengeluarkanmu dari sini! Ini tempat terbaik untukmu, setimpal dengan perbuatanmu!" cetus Nando.


"Oke, kalau begitu aku pun akan tutup mulut, tidak akan ku beritahu siapa otak penculikan anak kalian itu!" balas Pak Wiryo.

__ADS_1


"Baik, boleh ku tebak? Benarkah otak penculikan anakku itu adalah Mama Rina? Mertuaku sendiri??" tanya Nando setengah berbisik.


Pak Wiryo terperanjat kaget.


"Dari mana kau tau??" tanya Pak Wiryo melotot.


"Tidak penting dari mana aku tau, tapi satu hal yang harus kau tau, sampai kapanpun aku tak akan pernah melepaskan mu dari sini!" sahut Nando sambil menarik tangan Sandra pergi meninggalkan tempat itu.


"Sandra!! Ayah minta maaf!!" teriak Pak Wiryo tiba-tiba.


Sandra lalu menghentikan langkahnya, tapi dia tidak menoleh ke belakang.


"Kalian harus hati-hati dengan wanita ular itu! Dia sangat berbahaya, saat tau aku tertangkap polisi, dia langsung melarikan diri!!" seru Pak Wiryo lagi.


Sandra tidak menjawab, begitu juga Nando, mereka kembali berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke mobil yang sudah menunggunya.


Roy dengan wajah masamnya masih menunggu Nando dan Sandra hingga mereka masuk ke dalam mobil.


"Tuan ini persis seperti kura-kura, lelet!" cetus Roy.


"Sorry Roy, tadi ada yang belum aku bereskan di dalam!" sahut Nando.


"Sekarang kita pulang kemana nih? Ke rumah Tuan besar atau Tuan muda Nando?" tanya Roy.


"Pulang ke rumahku Roy!" sahut Nando.


"Memangnya apa urusanmu!!" sengit Nando.


"Walah, kalau Tuan butuh Obat kuat, jangan sungkan minta bantuan saya ya Tuan?" ledek Roy.


"Sial! Tanpa obat aku juga sudah kuat kali, sudah! Tutup mulut mu dan jangan bicara lagi!" hardik Nando.


"Siyap deh Tuan!" sahut Roy.


Tak lama kemudian mereka pun sudah sampai di depan gerbang rumah besar Nando.


Rumah itu nampak sepi, Pak Tejo kemudian membukakan pintu gerbang yang tinggi itu.


"Vania ada di rumah?" tanya Nando.


"Ada di kamarnya Tuan!" sahut Pak Tejo, dia menatap lekat ke arah Sandra yang sedang menggendong Kia.


Kemudian Nando menggandeng Sandra masuk kedalam rumahnya itu.


Ini adalah pertama kalinya Sandra ke rumah Nando, rasanya dia begitu canggung sekali, dirinya merasa ter hakimi menjadi wanita perebut suami orang.

__ADS_1


"Do, aku kembali saja deh ke rumah Ibu Lika!" kata Sandra yang merasa tidak enak.


"Sudahlah San, semua orang juga tau kalau istriku lebih dari satu, apalagi kau tau aku begitu sayang padamu!" ucap Nando.


"Tapi kan aku tidak enak dengan Vania, coba kau pikirkan bagaimana perasaannya!" sahut Sandra.


"San, saat ini Vania sedang memikirkan Mamanya, aku mengajakmu ke sini, supaya kita bisa saling berbagi dan menguatkan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Vania tau Mamanya ternyata terlibat dalam penculikan anak kita!" ucap Nando.


"Nando! Kau sudah pulang??" terdengar suara Vania yang berjalan ke arah mereka.


Vania sedikit tertegun saat melihat Sandra ada bersama dengan Nando.


"Ehm, ternyata kau bersama Sandra, pantas saja kau pergi begitu lama!" kata Vania.


"Vania, tadi kami bertemu di kantor polisi, sejak semalam Kia agak rewel, makanya aku mengajaknya ke sini, kau tidak keberatan kan?" tanya Nando.


"Tidak, ini rumahmu Do, kau berhak membawa siapapun datang ke rumah ini!" jawab Vania.


"Van, kau jangan khawatir, nanti sore juga aku pulang di antar Roy!" kata Sandra yang merasa tidak enak.


"Kenapa kau harus pulang San? Ini kan rumah suamimu juga!" sahut Vania.


"Sandra, kau ajaklah Kia ke kamar yang ada di depan itu, Kia pasti capek seharian tadi ada di dalam gendongan!" ucap Nando.


"Iya Do!" sahut Sandra yang langsung beranjak dari tempatnya lalu menuju ke kamar yang di tunjuk Nando tadi.


Kini di ruangan itu, hanya tinggal Nando dan Vania berdua saja.


"Nando, apakah ada kabar mengenai Mama? Apakah kau sudah laporkan ke polisi soal Mama yang menghilang?" tanya Vania.


Nando terdiam beberapa saat lamanya, dia sungguh tidak tega mengatakan kalau Mamanya ternyata terlibat dalam penculikan anaknya, bukan hanya terlibat, tapi juga adalah pelaku utama kejahatan itu.


"Kenapa kau diam Do? Apa kau tau sesuatu tentang Mama??" tanya Vania lagi, kali ini dengan nada suara meninggi.


"Maafkan aku Vania, Mama ... Mama ..."


"Mama kenapa Do? Cepat katakan padaku, Mama kenapa??" tanya Vania sambil mengguncangkan tubuh Nando.


"Tadi saat aku ke kantor polisi, ternyata pelaku yang di tangkap karena telah menculik Kia anakku adalah Pak Wiryo, bukan hanya itu saja, ternyata yang menyuruh Pak Wiryo melakukan penculikan terhadap anakku itu adalah Mama!" jawab Nando.


"Apa??"


Vania membulatkan matanya karena terkejut, tak lama kemudian dia pun jatuh pingsan.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2