Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Sakit Keras


__ADS_3

Sandra mendekati suaminya itu saat terlihat ada perubahan di wajah Nando.


Air muka yang tadi ceria kini berubah sedikit mendung.


"Nando, apa yang terjadi?" tanya Sandra.


"San, kata Adi, sel kanker Vania sudah menjalar ke usus besar, Vania tidak akan bertahan lama hidupnya!" ucap Nando.


"Apa? Benarkah Do?" tanya Sandra seolah tak percaya.


"Iya San, dulu saja, Vania sudah keliahatan begitu lemah, setelah rahim di angkat baru dia kelihatan pulih, siapa sangka, sakitnya terus menjalar sampai sekarang!" ungkap Nando.


"Nando, nanti setelah dari sini, kita jenguk Vania ya Do!" Ajak Sandra. Nando menganggukan kepalanya.


Nando kemudian kembali duduk di depan meja kerjanya, menyalakan laptop dan mulai memeriksa laporan.


Ceklek!


Seorang sekertaris masuk sambil membawa setumpukan map di tangannya.


"Selamat pagi Pak Nando, ada proyek dari investor asing, mohon di baca dan di pelajari dulu proposal nya Pak!" kata Dea, sekertaris Nando itu sambil menyodorkan map itu.


"Letakan saja di meja, nanti aku akan mempelajarinya!" sahut Nando.


Dea lalu meletakan berkas itu di meja kerja Nando.


Sekilas dia melirik ke arah Sandra dan Kia yang masih ada di dalam stroller bayinya.


"Ehm, enak ya Pak, kerja di temani anak istri!" ujar Dea.


"Iya dong, kau kenapa? Iri?" tanya Nando.


"Bukan Pak, cuma heran, tumben bapak ajak anak istri ke kantor!" sahut Dea.


"Apa urusanmu?? Kantor kantor aku, sekarang kau keluar saja kalau sudah tidak ada urusan lagi!" cetus Nando.


"Iya iya, saya keluar Pak!" sahut Dea yang langsung beranjak meninggalkan ruangan itu.


"Kau ini arogan sekali terhadap bawahan!" ujar Sandra yang merasa tidak enak.


"Biar mereka bisa menjaga mulut mereka supaya tidak kebiasaan berkomentar sembarangan!" sahut Nando.

__ADS_1


"Komentar sembarangan apa sih? Wajar kali mereka bertanya seperti itu, dan menurutku pertanyaan itu wajar saja!" kata Sandra.


"Oke oke, kau santai dulu sayang, sekarang aku mau selesaikan pekerjaanku dulu oke, nanti siang kita makan sama-sama di cafe bawah!" ujar Nando sambil kembali menatap layar laptop yang ada di hadapannya.


****


Sementara itu, Adi masih duduk di samping ranjang Vania, kini du tangan Vania kembali terpasang selang infus, kondisinya kembali lemah.


Wajah Adi nampak sendu menatap Vania, wanita yang belakangan ini selalu mengisi pikirannya.


Adi menggenggam hangat tangan Vania, seolah ingin menyalurkan kekuatan baru.


"Akhirnya, aku kembali lagi ke rumah sakit ini, aku pikir aku akan sehat selamanya!" gumam Vania.


"Kau pasti akan sehat Van, pasti! Kau harus yakin pada dirimu sendiri, kata orang, hati yang gembira itu adalah obat yang manjur, semua kesembuhan berasal dari hati dan pikiran!" ucap Adi.


"Yah, kau benar Di, dulu aku merasa sangat sehat, seolah penyakit hilang dari tubuhku, ketika aku habis di operasi, aku pikir aku akan bisa hidup seribu tahun lagi, tapi kini ..." Vania menghentikan ucapannya, ada butiran bening yang menetes dari pelupuk matanya.


"Kau merasa bisa hidup seribu tahun lagi, karena kau berpikir, akan bahagia hidup bersama Nando, benar begitu kan?" tanya Adi, sorot matanya dalam menatap Vania.


Vania terdiam, tidak menjawab pertanyaan Adi, dalam hati dia mengakui, bahwa sampai saat ini, Nando masih menjadi pusat pikirannya, Vania benar-benar belum bisa melupakan Nando, cinta pertamanya.


"Adi maafkan aku, aku rasa ada yang tidak beres di otakku ini, sekarang katakan padaku, bagaimana cara aku bisa melupakan Nando? Mantan suamiku itu?" tanya Vania dengan mata yang merah dan basah.


Adi terus menggenggam tangan Vania, sambil mengusap lembut punggung tangan Vania dengan ibu jarinya.


"Jawabannya cuma satu, kau buka hatimu untukku dan biarkan aku yang masuk menggantikan Nando, jangan kau ingat-ingat lagi dia, walau kenangan manis sekalipun ..." jawab Adi.


"Apa aku bisa?" lirih Vania.


"Bisa, asal kau mau, sekarang aku yang ada di hadapanmu, yang ada di sisimu, juga yang akan selalu mendampingi mu, dan tidak akan meninggalkanmu!" bisik Adi.


Vania hanya bisa menangis, tidak bisa menjawab apapun, satu-satunya jalan dia memang harus bisa menerima kehadiran Adi di sisinya.


"Adi, tapi aku ini sakit, usiaku juga tidak mungkin lama lagi, apa yang kau harapkan dari perempuan sakit seperti aku??" tanya Vania.


"Seberapa lama kita hidup, yang membuat kita semangat adalah kenangan indah, dan ijinkan aku mengukir kenangan itu, kau masih percaya kan kalau mujizat itu ada?"


Vania menganggukkan kepalanya, Adi mengecup tangan Vania, dalam hati dia berjanji tidak akan meninggalkan wanita malang ini, menemaninya hingga maut memisahkan mereka.


****

__ADS_1


Ceklek!


Pintu ruangan perawatan Vania terbuka, seorang suster mengantarkan dua orang yang datang menjenguk Vania.


Dia adalah Ricky dan Lika, mantan mertuanya.


Vania terkesiap melihat kedatangan mantan mertuanya itu, yang tidak pernah dia duga sebelumnya.


Adi berdiri dari tempatnya, memberikan kesempatan Ricky dan Lika untuk berada dekat dengan Vania.


"Vania, rupanya kau ada di sini, Nando memberitau kami kalau kau di rawat di sini, kau yang kuat ya Van!" ucap Lika sambil memeluk Vania.


"Bu, kenapa kalian datang menjengukku? aku tidak layak kalian jenguk, Mama sudah berbuat jahat pada cucu kalian, aku sudah menyebabkan Sandra kecelakaan, aku malu!" ujar Vania sambil memalingkan wajahnya.


"Vania, kami tidak pernah menyalahkan mu, lagi pula Mama mu juga sudah mendapat ganjarannya, kami tidak pernah membencimu Vania, kau jangan bilang begitu!" sergah Lika.


"Benar Vania, walau bagaimana, kami tetap Mertua mu, walaupun kini hanya mantan, tapi hubungan kekeluargaan tidak bisa dihilangkan begitu saja, kami perduli pada mu!" tambah Ricky.


"Terimakasih Pa, Bu, aku benar-benar malu, juga menyesal ..."


"Kau tidak salah Vania, mungkin keadaan yang memang membuat kita Seperti ini, tapi kau harus tau, kami semua tidak ada yang membencimu, kami menyayangimu!" ucap Lika.


"Nando, di mana dia? Kenapa dia tidak datang ke sini?" tanya Vania.


"Vania, Ibu dan Papa tau bagaimana perasaanmu pada Nando, tapi kau juga harus sadar sayang, Nando kini sudah bersama Sandra dan Kia putri mereka, kalau kau memang sayang pada Nando, tentunya kau juga bahagia melihat dia bahagia!" jawab Lika.


"Kau harus bisa menerima orang yang benar-benar tulus padamu, bahkan kini ada di depan matamu!' tambah Ricky sambil menoleh ke arah Adi yang sedari tadi diam saja.


Lika memberi kode agar Adi datang mendekat. Adi kemudian beringsut mendekati Vania.


"Papa dan Ibu merestui mu bersama Adi, anggap saja kami adalah orang tuamu, jangan sungkan meminta bantuan apapun pada kami!" ucap Ricky.


"Iya Van, kami juga menyayangimu seperti anak kami sendiri!" tambah Lika.


Tak lama kemudian, Lika dan Ricky pamit dan keluar dari ruangan itu, kini hanya tinggal Adi dan Vania yang masih terdiam di tempatnya.


"Orang tua Nando memang luar biasa!" ucap Adi.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2