
Nando berlari kecil menuju ke kolam renang, Kia sedang berjemur di sana dengan Lika.
Nando langsung hendak mengambil Kia, namun tangan Lika menepiskan nya.
"Jangan kebiasaan! Cuci tangan dulu sebelum menggendong Kia!" cetus Lika.
"Oke oke, tunggu ya Kia!" Nando langsung menuju ke wastafel yang tidak jauh dari situ untuk mencuci tangan, setelah itu dia segera kembali mendapati Kia dan Lika.
Lika lalu menyerahkan Kia ke dalam pelukan Nando.
"Kau teruskan berjemurnya Nando, tapi jangan lama-lama, matahari sudah mau tinggi, paling lama lima menit lagi!" ujar Lika.
"Iya Bu!" sahut Nando.
Lika kemudian beranjak masuk ke dalam rumahnya, sementara Nando masih menjemur Kia dalam gendongannya.
Setelah lima menit, Nando lalu masuk kembali ke dalam rumahnya.
Sandra nampak sedang menyiapkan air mandi Kia.
"Lho, Kia sudah sama Papa saja!" kata Sandra.
"Iya dong, hari ini Papa akan seharian menemani Kia, juga Mama!" ucap Nando.
Mereka lalu mulai memandikan Kia berdua, sesekali terdengar suara canda tawa mereka, wajah Nando terlihat sangat bahagia.
Setelah selesai mandi, Sandra lalu mulai kembali menyusui Kia.
"Kapan aku dapat jatah?" tanya Nando sambil duduk di pinggir tempat tidur itu dan menyandarkan punggungnya di dipan ranjang itu.
"Hmm, kau ini selalu saja modis Do! Sabar dulu! Tunggu Kia tidur!" sergah Sandra.
Setelah kenyang menyusu, Kia lalu mulai tertidur. Nando tersenyum senang, kemudian Sandra dengan perlahan menaruh Kia di dalam box bayinya.
Dengan cepat Nando langsung mengunci pintu kamar itu lalu memeluk Sandra.
"Sabar kenapa Do? Kau ini selalu saja terburu-buru!" sungut Sandra.
"Kalau untuk urusan yang ini aku mana bisa sabar, aku kangen tau, sudah lama memendam hasrat, aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi!" bisik Nando.
"Bukankah kau bisa menyalurkannya dengan Vania, dia kan istrimu juga!" tanya Sandra.
"Yah, walaupun bisa, tapi ada rasa ya g berbeda, seperti kepuasan batin, ayolah Dan, jangan banyak bicara lagi!" rajuk Nando sambil mulai membuka seluruh pakaian Sandra.
Sandra membiarkan saja Nando melakukan apa yang dia mau, toh mereka juga sudah resmi jadi suami istri.
Dengan lembut Nando mulai mengecup bibir Sandra, lalu kecupannya turun ke bawah, dari leher sampai dadanya.
Sandra menarik nafas menahan gejolak rasa yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
Sesungguhnya dia sangat menikmati sentuhan dari Nando yang kini telah menjadi suaminya itu.
"Pelan-pelan Do!" bisik Sandra saat Nando mencumbunya dengan kuat.
"Yah, aku sudah tahan supaya tidak terburu-buru, kau jangan berisik, nanti Kia bangun!" ucap Nando sambil terus mengecupi tubuh Sandra yang kini polos.
Hingga satu jam mereka saling menumpahkan hasrat, hingga Nando sudah mencapai puncak tertingginya, dia terkulai di tempat tidur dengan nafas yang memburu.
"Ah, ternyata jika di lakukan dengan penuh kesadaran, rasanya jauh lebih nikmat!" ucap Nando.
Sandra segera bangkit lalu membersihkan tubuhnya dan memakai kembali pakaiannya.
Tak lama kemudian Kia nampak menangis sehabis dia bangun dari tidurnya.
"Anak pintar, tidak mengganggu aktifitas Papa dan Mamanya!" puji Nando senang.
Sandra lalu mengangkat Kia dalam gendongannya lalu keluar dari kamarnya meninggalkan Nando yang masih berbaring di tempat tidurnya.
Sandra kemudian membawa Kia berjalan-jalan di sekitar taman rumah itu.
Sejak tinggal di rumah keluarga Nando, Kia nampak sehat dan semakin bagus perkembangannya, apalagi orang-oramg di sekelilingnya amat menyayanginya.
"Kak, aku boleh menggendong Kia tidak?" tanya Tasya adik terkecil Nando.
"Boleh saja, tapi tidak boleh lama-lama ya, soalnya Kia masih bayi, tulangnya masih lunak!" jawab Sandra.
Tasya kemudian duduk di bangku taman itu, Sandra dengan hati-hati meletakan Kia di pangkuan Tasya, Tasya nampak senang.
"Tasya, ikut Papa yuk, Papa mau main ke rumah Thomas!" ajak Ricky.
"Asyiik!! Aku bisa main sama Thomas!" Tasya melonjak senang.
"Sandra, kau bangunkan Nando tuh, kebiasaan tidur siang persis seperti bayi!" ujar Ricky.
"Iya Pa!" sahut Sandra Patuh.
Ricky lalu segera berlalu dari tempat itu sambil menggandeng Tasya.
Ricky itu tipikal orang yang dingin dan cuek, namun sedikitpun dia tidak pernah mengungkit masa lalu Sandra.
Sandra kagum terhadap keluarga besar Nando, selalu baik dan menghargai orang lain tanpa pandang bulu.
Ricky bersama dengan Lika dan Tasya pergi ke rumah Kezia.
Kini di rumah itu hanya ada Mbok Narti, Kedua adik Nando yang lain, juga Sandra dan Nando yang sedang tidur.
"Mbok Narti, titip Kia sebentar ya, aku mau ke kamar sebentar membangunkan Papanya Kia!" pinta Sandra saat melihat Mbok Narti yang baru selesai membereskan dapur.
"Iya Mbak Sandra, sini sama Mbok Narti saja, kita jalan-jalan yuk ke taman, atau ke kolam, atau ke depan, di taman depan biasanya banyak anak-anak bermain!" kata Mbok Narti.
__ADS_1
Sandra kemudian menyerahkan Kia pada Mbok Narti.
Kemudian Sandra mulai masuk ke dalam kamarnya, Nando masih nampak tidur di sana.
"Do, bangun Do! Mau sampai jam berapa kau tidur begini?" tanya Sandra sambil mengguncang tubuh Nando.
Nando mulai mengerjapkan matanya.
"Eh, Sandra, Kia mana?" tanya Nando.
"Kia lagi sama Mbok Narti, mungkin di ajak jalan-jalan, Kia anteng kalau di ajak jalan!" jawab Sandra.
"Nah, kebetulan San, mumpung Kia tidak ada, kita lanjutkan yuk kegiatan yang tadi!" ajak Nando sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kegiatan? Kegiatan apa Do?" tanya Sandra bingung.
"Kegiatan yang tadi, menumpahkan hasrat bersama!" sahut Nando.
"Dasar mesum! Otakmu pasti selalu kesitu!!" sungut Sandra sambil menjitak kepala Nando.
"Aduh! Sakit San!" kata Nando meringis.
Tiba-tiba ponsel Nando bergetar, Nando lalu mengambil ponsel yang ada di samping bantalnya.
"Nando, ayo di angkat! Kok malah bengong!" ujar Sandra.
"Malas San, dari Mamanya Vania, dia pasti menyuruhku pulang!" gerutu Nando.
"Tapi di angkat dulu lah mana tau ada yang penting!" ujar Sandra.
Dengan enggan Nando lalu mengusap layar ponselnya itu.
"Halo ..."
"Halo Nando, Vania Do! Vania!" seru Tante Rina sambil terisak.
"Vania? Ada apa dengan Vania Ma?" tanya Nando.
"Sejak pagi tadi Vania pergi, kata Pak Tejo dia pergi ke mall, ini sudah hampir satu harian tapi dia belum kembali, kata Pak Tejo, dia sudah mencari kemanapun tapi Vania tidak ada, ponselnya juga tidak aktif!" jawab Tante Rina.
"Kemana Vania?" gumam Nando.
"Makanya itu Do, cepatlah kau cari istrimu itu, Mama khawatir, apalagi Vania kan sedang sakit!" mohon Tante Rina.
"Mama tenang dulu, jangan panik, coba hubungi teman-teman kampus Vania, mana tau Vania sedang main!" kata Nando.
"Kau ini Do! Cuek sekali dengan Vania! Pokoknya kau harus cari Vania!!" seru Tante Rina sebelum menutup teleponnya.
Bersambung ...
__ADS_1
****