
Setelah empat hari menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi Kia berangsur pulih, dia mulai sehat dan terlihat kembali lincah.
Hari ini Kia sudah di perbolehkan pulang, Sandra dan Nando terlihat sangat senang.
"Pokoknya Mama janji, akan terus menjaga Kia dengan sepenuh hati Mama, tidak akan ada lagi yang akan mengambil Kia dari Mama!" bisik Sandra pada Kia.
Sementara Nando nampak membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang.
Setelah selesai, Mereka kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, lalu menuju ke parkiran, Roy sudah menunggunya di mobil.
"Kita pulang ke rumah sekarang Roy!" titah Nando.
"Pulang ke rumah mana Tuan?" tanya Roy.
"Ya pulang ke rumah Papa lah! Kau ini bagaimana sih?!" hardik Nando.
"Ya maaf Tuan, kan rumah Tuan Nando ada dua, rumah orang tua dan rumah pribadi!" tukas Roy.
"Tapi kau kan tau kalau aku sama Sandra pasti pulang ke rumah Papa!" cetus Nando.
"Saya lupa Tuan kalau istri Tuan ada dua!" sahut Roy.
Mereka kemudian langsung meluncur ke rumah Ricky.
Orang tua Nando menyambut senang kepulangan Kia.
"Sini cucu Nenek, sudah kangen Nenek mau gendong Kia, pokoknya Kia jangan pernah hilang lagi! Nenek tidak rela!" ucap Lika sambil mengambil Kia dalam gendongan Sandra.
"Kalian pasti kurang tidur selama di rumah sakit, sekarang istirahatlah, biar Kia sama Nenek dan Kakek nya dulu!" kata Ricky.
"Iya Pa!" sahut Nando sambil menggandeng tangan Sandra menuju ke kamarnya.
Nando langsung menghempaskan tubuhnya yang lelah itu di tempat tidur. rasanya tubuhnya pegal-pegal karena di rumah sakit tidur sangat tidak nyaman.
Apalagi saat Kia sedang rewel, rasanya matanya sudah tidka bisa dikondisikan lagi.
Kini Nando bisa sedikit bernafas lega, akhirnya Kia bisa melewati masa krisisnya.
Sandra yang juga merasakan penat di sekujur tubuhnya ikut membaringkan tubuhnya di samping Nando.
"Istirahatlah Do, setelah itu pulanglah ke rumahmu, kasihan Vania sudah lama tidak kau sentuh!" ucap Sandra.
"Tapi San, aku masih ingin di sini bersamamu dan Kia!" tukas Nando.
__ADS_1
"Nando, kau harus adil, walau bagaimana kan Vania istrimu juga! Beberapa hari ini kan kau bersama kami!" sahut Sandra.
"San, memangnya kau tidak cemburu apa kalau aku menyentuh wanita lain?" tanya Nando.
"Cemburu? Pertanyaan yang bodoh!" sahut Sandra.
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Vania itu bukan wanita lain, dia istri pertamamu, mana boleh aku Cemburu? Sudah tak ada lagi kata cemburu di kamusku!" ungkap Sandra.
"Sebenarnya, aku hanya ingin menyentuh satu wanita dalam hidupku, tapi aku juga tidak bisa melawan takdir, seandainya saja Vania minta berpisah dari aku, tentu saja aku menyambutnya dengan senang hati!" ujar Nando.
"Sudahlah Nando, sekarang kau tidur saja, nanti kau harus pulang ke rumahmu! Aku tidak ingin terkesan merebut mu, pulanglah!" ucap Sandra.
"Baiklah San, aku akan pulang ke rumah, tapi sebelum itu, maukah kau melayani aku? Sejak di rumah sakit aku selalu menahannya, hasrat ku sudah memuncak sampai ke ubun-ubun!" pinta Nando.
"Kau ini, katanya lelah!" sungut Sandra.
"Lelah tubuh ku yang lain, tapi juniorku tidak!" jawab Nando.
Akhirnya siang itu, Nando kembali menunaikan kewajibannya pada Sandra dengan penuh gairah dan perasaan.
Hingga akhirnya Nando kembali terkulai lemas di samping Sandra, dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
****
Ada sedikit rasa curiga yang menggelayuti hati Vania, belakangan ini sikap Mamanya menjadi aneh dan sulit untuk di tebak.
"Nyonya Vania mau langsung makan? Sudah Mbok siapkan di meja makan!" tawar Mbok Karsih yang tiba-tiba datang mendekati Vania.
"Nanti saja Mbok, aku masih menunggu Mama!" sahut Vania.
"Ya sudah kalau begitu Mbok ke belakang dulu ya!" ucap mbok Karsih sambil berjalan kembali menuju ke dapur.
Vania mulai merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu, hatinya begitu gundah dan sepi, Tante Rina belum pulang, Nando juga tak kunjung datang.
Beberapa hari ini Vania mencoba untuk memahami kondisi Nando dan anaknya yang sakit, namun kembali rasa kecewa dan sedih itu kembali muncul dalam pikirannya, kembali rasa hampa itu datang menghampirinya.
Apalagi Mamanya yang menjadi tempat curahan hatinya kini sering pergi entah kemana, hati Vania semakin sedih.
Tiba-tiba terdengar suara pintu gerbang yang di buka, Vania langsung berjalan ke arah depan, Pak Tejo sedang membukakan pintu gerbang, terlihat mobil Nando yang masuk ke halaman depan rumahnya itu bersama dengan Roy.
Vania tersenyum senang.
__ADS_1
Saat Nando turun dari dalam mobilnya, Vania langsung berlari menyambutnya.
"Nando! Aku kangen!" ucap Vania yang langsung memeluk Nando.
"Terimakasih Van!" balas Nando.
"Kita ngobrol di kamar yuk, sudah berapa lama ini, kita bahkan sangat jarang mengobrol!" kata Vania.
Nando menganggukan kepalanya. Dengan penuh semangat Vania menggandeng tangan Nando berjalan menuju ke kamar mereka.
"Mama di Mana?" tanya Nando.
"Entahlah Do, belakangan ini sikap Mama sangat aneh, seperti menyembunyikan sesuatu dari aku, bahkan akhir-akhir ini Mama sering sekali pergi ke luar!" ungkap Vania.
"Oya?"
"Iya Do, siang tadi saat aku pulang ke rumah, Mama sedang bicara dengan seorang pria asing, yang sebelumnya aku tidak pernah mengenalnya, Mama seperti memberikan sejumlah uang pada Pria itu, tapi saat aku tanya, Mama selalu berkelit!" jelas Vania.
Mereka kemudian masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring di ranjang mereka.
"Kenapa kau tidak menanyakan hal itu langsung pada Mama Van?" tanya Nando.
"Mama selalu menghindar Do, beberapa kali aku pernah memergoki Mama bicara sembunyi-sembunyi, tapi saat ku tanya dia tak pernah mengakui apapun!" sahut Vania.
"Hmm, aneh juga ya!" gumam Nando.
"Do, sudahlah jangan bicarakan Mama lagi, saat ini aku sedang kangen padamu Do, sangat kangen!" ucap Vania.
"Aku kan sudah pulang sekarang!" sahut Nando cuek.
"Iya sih, tapi, aku sangat ingin di ... " Vania mulai membuka kancing kemeja Nando.
Nando merasa tidak menginginkan itu, apalagi dia sudah puas dengan Sandra.
Tapi kalau Nando menolak Vania, itu akan membuat wanita itu sakit hati, apalagi saat ini Vania sedang hampa dan kesepian, di tambah lagi sikap Mamanya yang berubah jadi aneh belakangan ini.
Akhirnya Nando membiarkan saja Vania melakukan apapun terhadapnya, bahkan saat Vania mulai membuka resleting celana Nando dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.
Nando hanya pasrah sambil memejamkan matanya, membayangkan yang melakukan itu adalah Sandra.
Perlahan Vania mulai meremas dengan lembut benda pusaka milik Nando, membuat Nando kembali menahan nafasnya.
Bersambung ...
__ADS_1
****