
Setelah sarapan pagi, Nando bersiap pergi ke kantor polisi, untuk melihat penculik yang telah menculik anaknya.
Wajah Vania terlihat pucat, karena semalaman dia terus kepikiran Mamanya, yang bahkan sampai pagi ini belum pulang ke rumah.
"Vania, tadi polisi meneleponku, penculik anakku sudah di tangkap, sekarang aku akan kantor polisi untuk melihatnya!" kata Nando.
"Aku ikut Do!" ujar Vania.
"Jangan Van, lebih baik kau istirahat saja di rumah, wajahmu pucat, aku takut kau malah sakit dan drop, lagi pula kan ini masalah Kia, kau di rumah aja menunggu Mama!" tukas Nando.
"Tapi Do ..."
"Kalau kau menganggap aku suamimu, pasti kau akan menurutiku!" potong Nando cepat.
"Baiklah do, aku senang kau masih menganggap aku istrimu!" ucap Vania.
"Makanya lebih kau istirahat saja, nanti aku akan tanyakan pada polisi soal Mama, kalau Mama sudah pergi meninggalkan rumah sudah 24 jam!" kata Nando.
Vania lalu memeluk Nando dengan erat.
"Terimakasih Ya Do, aku lebih tenang sekarang!" ucap Vania.
Sebenarnya Vania sangat berat melepaskan Nando, dia selalu ingin berada di samping suaminya itu, memeluknya sebanyak yang dia mau, bergelayut manja di dadanya.
Namun Vania harus menyadari kenyataan, bahwa Nando bukanlah miliknya seutuhnya, ada wanita lain yang juga berhak atas dirinya, di tambah lagi seorang anak yang butuh kasih sayang Papanya.
Ada butiran hangat yang mengalir di pipinya.
"Hei, kenapa kau menangis Van?" tanya Nando.
"Tidak Do, sekarang kau pergilah, aku akan menunggumu pulang kembali!' ucap Vania sambil menyeka wajahnya yang basah.
"Baiklah, aku pamit ya Van, jaga dirimu, istirahatlah yang cukup!" balas Nando.
Nando segera beranjak dari tempatnya dan bergegas akan pergi.
"Nando!" panggil Vania. Nando menoleh.
"Ada apa Van?" tanya Nando.
"Do, tidakkah kau ingin mengecup keningku sedikit saja? Aku ... aku ingin sedikit saja merasakan rasanya di cintai olehmu!" ucap Vania.
Nando tertegun mendengar ucapan Vania, walau hatinya seluruhnya sudah di miliki Sandra, tapi ada rasa belas kasihan yang timbul dari dalam hatinya.
Perlahan Nando maju, kemudian mengecup lembut kening Vania.
Vania tersenyum sambil kembali menitikan air matanya, ada sedikit rasa bahagia yang membuncah.
Kecupan yang selama ini sangat di rindukannya, kini dia dapat merasakannya.
__ADS_1
Perlahan Nando kembali berjalan menuju ke depan, Vania mengantarnya sampai di teras.
Roy nampak sudah siap sambil mengelap mobil yang akan di kendarai nya.
"Kau hati-hati ya Do!" seru Vania sambil melambaikan tangannya saat Nando sudah naik ke dalam mobilnya.
Mobil itupun sudah melaju keluar dari rumah Nando, menuju ke kantor polisi.
"Tuan, Minggu depan saya ijin mau ke Surabaya ya, saya mau melamar neng Mirna!" kata Roy tiba-tiba.
"Yah, pergilah Roy, aku mengijinkanmu!" sahut Nando.
"Serius Tuan, sejak kapan Tuan jadi baik dan murah hati??" Roy langsung memeluk Nando senang.
"Sembarangan!! Sejak dulu aku juga sudah baik kali! Tapi ingat! Aku hanya memberimu waktu 3 hari saja, lebih dari pada itu gaji mu ku potong!" sengit Nando.
"Wah, Tuan curang nih, padahal saya minta ijin satu Minggu, mana cukup 3 hati?!" gumam Roy kesal.
"Baru juga lamaran, nanti kalau kau menikah batu aku akan memberimu cuti lebih panjang!" sahut Nando.
"Plus bulan madunya ya Tuan? Saya mah yang lokal saja lah, di Bali, atau di Lombok juga boleh Tuan!" ujar Roy.
"Di taman mini!" cetus Nando.
"Yah kok di taman mini sih, Tuan nggak asyik nih!" sungut Roy.
Nando tertawa melihat ekspresi Roy yang terlihat lucu dan konyol itu.
****
Mereka janjian akan melihat si penculik Kia di tahanan.
"Nih pada mau kondangan atau apa sih? Nengok penjahat saja satu RT!" cetus Roy saat turun dari mobil.
"Tutup mulutmu Roy! Sebaiknya kau jaga mobil saja!" sahut Nando.
Nando kemudian berjalan menghampiri keluarganya yang sudah menunggunya.
"Vania tidak ikut Do?" tanya Sandra.
"Tidak, Vania sedang kurang sehat, apalagi sejak semalam Mamanya belum pulang!" jawab Nando.
"Memangnya Jeng Rina kemana ya?" tanya Lika.
"Tidak tau Bu, makanya aku sekalian mau melaporkan soal Mama Vania ke kantor polisi.
Mereka lalu masuk ke dalam kantor polisi itu, lalu bertemu dengan salah seorang polisi yang menangani kasus penculikan Kia.
"Selamat pagi Pak, apakah semua penjahat itu sudah tertangkap?" tanya Ricky.
__ADS_1
"Kami menangkap salah seorang yang terekam cctv saat menculik bayi itu, menurut pengakuannya, masih ada satu orang lagi otak dari penculikan ini, tapi anehnya dia tidak mau memberitahu!" jawab Polisi itu.
"Kalau begitu, antarkan kami menemuinya!" ujar Ricky.
Polisi itu segera bangkit dan berjalan mendahului mereka, dia berjalan menuju ke salah satu sel tahanan.
Seorang pria nampak meringkuk di sudut sel tahanan itu, saat pria itu menoleh, Nando dan Sandra terperanjat kaget.
"Ayah??" pekik Sandra sambil menutup mulutnya.
Lika dan Ricky, juga Kezia dan Jonathan heran, sebelumnya mereka tidak pernah mengenal Pak Wiryo.
Mereka terkesima saat Sandra memanggilnya Ayah.
"Kau mengenalnya San?" tanya Lika.
"Dia ... Dia itu ayah tiri aku, dia orang yang telah menceburkan aku ke lembah hitam, dia orang yang selalu memeras ku!" seru Sandra sambil menunjuk ke arah Pak Wiryo.
"Jadi, ayah tiri mu ini yang telah menculik Kia cucuku??" tanya Ricky dengan wajahnya yang memerah menahan amarah.
"Ya, aku memang telah menculik anakmu San, kau tau, demi uang aku rela melakukan apa saja, termasuk menculik anakmu ini!" ujar Pala Wiryo terkekeh seperti tidak merasa berdosa.
"Biadab!!"
Bughh!!
Ricky langsung menonjok wajah Pak Wiryo hingga darah segar menetes dari hidung dan mulutnya.
"Papa!!" jerit Lika yang melihat kemarahan suaminya itu.
Sementara Sandra menangis sambil memeluk Kia. Nando juga memeluk Sandra dalam dekapan dadanya.
Tiba-tiba Nando teringat, Vania pernah mengatakan kalau dia pernah melihat Mamanya memberikan uang pada Pak Wiryo, Nando mulai mengerutkan keningnya.
"Hei Pak Wiryo, siapa yang telah menyuruhmu untuk melakukan perbuatan bejat dan jahat seperti itu??" tanya Nando.
"Hmm, kalian mau tau siapa orangnya??" tanya Pak Wiryo sambil mengusap darah yang menetes di bibirnya.
"Cepat katakan sekarang?!" sengit Ricky.
"Aku akan mengatakannya pada kalian, tapi dengan satu syarat!" sahut Pak Wiryo.
"Katakan apa syaratnya!" seru Jonathan yang sejak tadi diam saja.
"Keluarkan aku dari sini, maka aku akan memberitahukan siapa yang sebenarnya menginginkan bayi kalian lenyap!" ujar Pak Wiryo.
Ricky dan yang lainnya terdiam untuk beberapa saat lamanya.
"Jangan keluarkan orang ini! Karena aku tau siapa otak dari penculikan Kia!" seru Nando tiba-tiba.
__ADS_1
Bersambung ...
****