
Nando dan Jonathan kembali keluar mencari Kia dan juga menempelkan selebaran di setiap tempat-tempat umum, seperti di pasar, sekolahan, terminal, stasiun dan tempat keramaian lainnya.
Bahkan selebaran itu masuk ke dalam pelosok kampung, gang sempit dan perumahan-perumahan.
Hampir seluruh pelosok Jakarta sudah di sebarkan selebaran bayi hilang.
Jonathan juga memasang iklan anak hilang di semua akun media sosialnya, kini bayi Nando yang hilang menjadi viral dan menjadi trending topik pembicaraan publik.
****
Tok ... Tok ... Tok
Pak Wiryo nampak mengetuk pintu tumah seseorang sambil membawa satu kantong plastik besar.
Seorang wanita membukakan pintu rumahnya itu.
"Titin, ini susu dan popok bayi, sementara kau jaga bayi itu baik-baik, jangan keluar rumah, atau jangan sampai dia menangis, nanti malah mengundang perhatian tetangga!" ujar Pak Wiryo.
Titin adalah janda tanpa anak tetangga Pak Wiryo yang tinggal di pemukiman padat penduduk.
"Mau sampai kapan Pak?" tanya Titin.
"Nanti aku kabari lagi, pokonya jangan sampai orang tau kalau di rumah ini ada bayi, karena sudah banyak selebaran soal bayi ini!" sahut Pak Wiryo.
"Memangnya ini bayi siapa sih Pak? Kenapa pake di culik segala??" tanya Titin.
"Udah deh, jangan banyak tanya, katanya lagi butuh uang, apa susah ya sih menjaga bayi sebentar, pokoknya bayi ini jangan sampai lecet ya, bisa berabe urusannya kalau dia sampai kenapa-napa!" sahut Pak Wiryo memperingatkan.
"Oke deh Pak, jangan lupa uangnya!" ujar Titin.
"Iya iya, kalau soal duit saja, cepat urusannya!" sungut Pak Wiryo sambil berlalu meninggalkan rumah itu.
Tiba-tiba Kia menangis. Buru-buru Titin menutup semua pintu dan jendela rumah itu, supaya suara Kia tidak terdengar keluar.
"Ssst! Jangan nangis terus dong! Haus ya? Bentar, bikin susu dulu!" Titin langsung membuka kemasan susu bayi pemberian dari Pak Wiryo tadi, kemudian membuatnya di sebuah botol susu bayi.
Beberapa kali mencoba Kia tidak mau meminum susunya itu, karena dia sudah terbiasa minum ASI.
Titin mulai kesal dan habis kesabarannya.
"Ya sudah, kalau tidak mau minum susu tidak apa-apa, nanti kalau haus juga mau!" gumam Titin yang menaruh botol susu itu di atas sebuah meja.
Kia terus menangis, dan akhirnya dia berhenti menangis juga dan tertidur karena lelah menangis.
__ADS_1
Sementara itu, Nando dan Jonathan terus berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain sambil menyebarkan selebaran itu.
Wajah Nando nampak pucat dan lelah, dia kurang tidur, kurang makan, juga kurang istirahat, pikirannya selalu mengingat Kia.
"Do, kita makan dulu yuk di restoran Padang, supaya kau juga ada tenaga untuk mencari Kia, lihat saja tampangmu, sangat memprihatinkan!" ujar Jonathan.
"Tapi aku belum lapar Bang!" tukas Nando.
"Yah kalau kau juga sakit, bagaimana kau bisa mencari anakmu Do, paling tidak kau pikirkanlah orang lain, bukan dirimu sendiri!" cetus Jonathan.
"Baiklah kalau begitu, kita makan dulu Bang!" kata Nando akhirnya.
Mereka kemudian mampir di salah satu restoran Padang yang ada di dekat situ, lalu mulai menyantap makan siang mereka.
"Do, sepertinya pencarian kita hentikan dulu, kita langsung pulang kerumah lagi, nanti sore kita baru akan laporkan ke kantor polisi!" usul Jonathan.
"Bang Jo pulang saja duluan, aku akan terus mencari Kia!" shut Nando.
"Do, kau mau cari Kia di mana lagi?? Jakarta luas Bro! Aku bilang begitu supaya kau tetap semangat dan sehat dalam mencari Kia, tapi kita harus berpikir realistis Do, bagaimana cara menemukan Kia!" ujar Jonathan.
"Iya Bang!"
"Saat ini pikiranmu sedang kalut, kita memang harus pulang Do, nanti sore kita lanjutkan lagi pencarian kita!" ujar Jonathan.
****
Sandra duduk melamun di depan teras rumah itu, pandangannya kosong, seolah dia telah kehilangan separuh jiwanya.
Sejak kemarin Sandra belum menyentuh makanan, semuanya terasa hambar, sudah lelah rasanya dia terus menangis.
Kini Sandra hanya berharap menunggu keajaiban akan datang berpihak padanya.
Seseorang menyentuh bahunya dari belakang.
Vania sudah berdiri di belakang Sandra, kini dia sudah duduk di sampingnya.
"San, aku turut prihatin atas apa yang menimpa dirimu!" ucap Vania.
"Trimaksih Vania!" sahut Sandra masih dengan pandangan lurus ke depan.
"San, bukankah dulu kita bersahabat? Sampai sekarang, aku masih menganggapmu sebagai sahabatku, tempat berbagi suka dan duka!" ungkap Vania.
"Itu dulu!" sahut Sandra.
__ADS_1
"Kenapa kau bilang begitu?" tanya Vania.
"Sekarang bukankah aku ini saingan mu Vania? Aku memang bukan sahabat yang baik, sudah merebut suami dari sahabatku sendiri! Aku tau dalam hatimu kau terluka, tapi kau tidak pernah melampiaskannya padaku!" jawab Sandra.
"San, jujur saja walaupun dalam hati aku kecewa padamu, tapi aku tidak akan pernah bisa untuk membencimu! Aku membenci diriku sendiri, tidak mampu memiliki anak, tidak mampu membahagiakan suami, tidak mampu ..."
"Cukup Vania! Kau jangan terus merasa seperti itu, aku yang salah, seharusnya memang dulu aku pergi saja yang jauh dari kalian, toh aku masih bisa merawat anakku sendiri, sekarang aku malah kehilangan anakku, aku kehilangan anakku Van!" tangis Sandra meledak.
Vania langsung memeluk Sandra dengan erat.
"Kau tidak sendirian Sandra, Nando pasti akan terus berusaha mencari anaknya, aku yakin itu, apalagi aku tau, dia sangat mencintaimu!" bisik Vania.
Vania juga menangis, hatinya perih mengatakan itu pada Sandra, namun dia tulus mengucapkan itu semua walaupun hatinya begitu sakit.
"Maafkan aku Vania, aku bukan sahabat yang baik! Maafkan aku!" ucap Sandra.
Mereka terlihat saling berpelukan dan saling menguatkan.
Mobil Nando dan Jonathan masuk ke dalam pekarangan rumah, mereka heran melihat Sandra dan Vania yang nampak sedang berpelukan.
"Wah, istri pertama dan istri kedua sedang akur!" ledek Jonathan.
Nando tidak memperdulikan ledekan Jonathan, dia berjalan ke arah kedua istrinya itu.
Melihat kedatangan Nando, Sandra dan Vania mengurai pelukan mereka.
"Nando??" sapa mereka bersamaan.
"Kau di sini Vania?" tanya Nando.
"Iya Do, aku ingin sekali mengobrol dengan Sandra, aku turut merasakan apa yang di rasakannya saat ini!" jawab Vania.
"Bagaimana Do? Apakah kau sudah mendapat informasi tentang Kia?" tanya Sandra.
"Belum San, sore ini aku dan Bang Jo mau ke kantor polisi untuk membuat laporan, sudah banyak selebaran yang di sebar dan iklan di media sosial, semoga secepatnya Kia di temukan, hatiku juga sakit, sangat sakit kehilangan anak yang sangat dicintai!" ungkap Nando.
Sandra kemudian bangkit sambil menarik tangan Vania, kemudian Sandra dan Vania memeluk Nando bersamaan.
"Saat Seperi ini, seharusnya kita bersatu untuk mencari Kia, walaupun dia anak kalian, tapi dia juga adalah anakku, anak suamiku!" ucap Vania.
Bersambung ...
****
__ADS_1