Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Saling Melupakan


__ADS_3

Nando terus berlari ke arah lampu merah di perempatan jalan raya itu. Roy nampak terengah-engah mengejarnya, karena tubuhnya yang agak gemuk.


Sementara Sandra dan Mirna nampak masih berdiri di bawah lampu merah itu, menunggu taksi yang di pesannya.


Jantung Sandra berdegup kencang ketika sebuah tangan besar memeluknya dari belakang.


"Akhirnya aku menemukanmu!" bisik Nando dengan nafas tersengal-sengal.


Seluruh tubuh Sandra meremang seketika.


Rasanya ingin sekali dia memeluk balas laki-laki itu, menyandarkan kepalanya di dadanya yang hangat, menumpahkan seluruh perasaannya.


Namun semua rasa itu dia tahan dalam dadanya, walaupun Nando adalah Ayah dari benih yang di kandungnya, tetap saja laki-laki itu bukan miliknya, sedikitpun dia tidak berhak walaupun hanya berharap dan bermimpi.


Perlahan Sandra mengurai pelukan Nando, kemudian dia membalikan tubuhnya dan menatap wajah Nando, menatap dengan penuh kerinduan yang di tahannya.


"Kenapa kau pergi dan tidak bilang padaku kalau kau masih hidup Sandra?" tanya Nando dengan mata yang kini telah basah.


"Aku masih hidup atau sudah mati, tidak berpengaruh bagimu kan, sekarang kau kembalilah ke pestamu, semua orang menunggumu, biarkan aku pergi!" ucap Sandra yang juga meneteskan butiran bening dari matanya.


"Sandra ... mana bisa aku membiarkanmu pergi begitu saja, selama ini hatiku selalu mencari dirimu!" bisik Nando.


"Kau pasti bisa Nando, aku hanya seorang mantan wanita malam yang bisa dengan mudahnya di lupakan begitu saja, kau harus sadar sekarang kau adalah suami dari Vania, wanita terhormat yang sangat mencintai mu!" ucap Sandra sambil menyeka air matanya.


Mirna dan Roy yang ada di tempat itu hanya bisa berdiri terpaku dan ikut menitikkan air matanya melihat cinta yang tak bisa saling memiliki.


"Bagiku kau adalah wanita terhormat Sandra!" lirih Nando.


"Hanya dirimu yang mengatakan kalau aku terhormat Nando, terimakasih ... terimakasih ..." ucap Sandra sambil menangis.


"Sandra ... entah mengapa selalu ada bayanganmu di pikiranku, aku merasa ada suatu ikatan yang aku sendiri tidak bisa melepaskannya!" lirih Nando.


"Tapi kita harus bisa saling melupakan Nando, itu satu-satunya jalan yang terbaik untuk kita!" bisik Sandra.


Kemudian sebuah taksi berhenti tepat di hadapan mereka.


Dengan cepat Sandra menarik tangan Mirna untuk naik ke dalam taksi itu.


"Cepat jalan Pak!" ujar Sandra. Taksi langsung melesat meninggalkan tempat itu.


"Sandra!!" panggil Nando.


Laki-laki itu nampak menangis sambil bersimpuh di pinggir jalan itu, wanita yang selalu di nantikannya bahkan pergi begitu saja.

__ADS_1


Roy lalu mendekati Nando dan membantu Nando untuk berdiri.


"Sudahlah Tuan, jangan melow begitu, lebih baik kita kembali ke pesta Tuan, dari tadi Tuan besar menelepon mencari anda Tuan!" ujar Roy.


"Kenapa dia datang dan pergi begitu saja Roy? Kenapa dada ini begitu sesak??" tanya Nando sambil mengusap wajahnya.


"Yah ... begitulah cinta Tuan, penderitaannya tiada akhir ... itu kata pepatah dulu lho Tuan, bukan kata saya, sudahlah, kita kembali saja ke pesta Tuan!" sahut Roy.


Nando menganggukan kepalanya, setelah itu dia melangkah gontai kembali ke pestanya yang sangat meriah itu.


Vania begitu heran saat melihat wajah Nando yang kusut, dan matanya yang kemerahan.


"Nando, apa yang terjadi padamu?" tanya Vania cemas.


"Tidak apa-apa Vania, kepalaku agak pusing sedikit!" sahut Nando yang kembali duduk di kursi pelaminannya.


"Nando, tapi saat sesi foto, kenapa kau menghilang?" tanya Ricky yang beringsut mendekati Nando.


"Aku, agak gerah Papa, jadi cari angin di luar sebentar!" sahut Nando.


"Kau ini, bikin panik orang saja! Sekarang bersiaplah, kita mau foto keluarga!" titah Ricky.


Mereka pun mulai berfoto bersama, mulai dari keluarga mempelai laki-laki, lalu mempelai perempuan, kemudian para rekan dan sahabat, teman kampus juga semua kolega dan rekan bisnis Nando.


Hingga pesta pun usai sudah, para tamu undangan satu persatu mulai pulang, kerabat dan saudara juga mulai meninggalkan gedung itu.


Ricky dan Lika nampak mendekati Nando dan Vania yang terlihat makan malam di meja VIP.


"Selamat sayang, anak Ibu yang ganteng akhirnya sudah jadi suami orang, Ibu bahagia sayang!" ucap Lika sambil mengelus rambut Nando.


"Tetaplah jaga pernikahanmu tetap langgeng sampai kakek Nenek, seperti Papa dan Ibu!" ucap Ricky.


"Iya Pa!" sahut Nando.


"Semoga kalian selalu romantis dan bahagia seperti Kak Kezia dan Bang Jo!" ucap Kezia yang juga mendekati Nando.


"Trimakasih Kak!" balas Nando.


"Sekarang kalian bisa istirahat di kamar pengantin kalian, Nando, kalau ada kendala di malam pertama, kau boleh hubungi aku!" bisik Jonathan.


"Ah Bang Jo bisa saja!" ujar Nando.


Nando dan Vania kemudian berjalan ke kamar pengantin mereka, sebuah kamar besar VIP yang di desain khusus untuk mereka.

__ADS_1


Perlahan Nando membuka pintu kamar itu, harum semerbak bunga langsung tercium di Indra penciuman mereka, taburan bunga mawar merah juga menghiasi sebuah ranjang besar yang ada di kamar itu.


Wajah Vania nampak berbinar, ini pertama kalinya dia akan menyerahkan milik berharganya pada Nando, laki-laki yang sangat di cintainya.


Nando kemudian duduk di sisi ranjang itu, entah mengapa kepalanya agak pusing, perutnya juga terasa mual, mungkin karena dia makan agak terlambat tadi.


"Kau kenapa sayang?" tanya Vania.


"Entahlah Van, kepalaku agak pusing, mungkin aku masuk angin!" sahut Nando.


"Kalau begitu kau duluan ke kamar mandi, ganti pakaianmu, supaya kau lebih nyaman!" ujar Vania.


"Iya Van!"


Nando kemudian langsung beranjak ke kamar mandi. Dia membuka seluruh pakaiannya, menyiram tubuhnya dengan shower air hangat dan berendam sebentar di bathtub, untuk meregangkan otot-ototnya.


Setelah di rasa segar, Nando kemudian mulai memakai piyamanya, setelah itu dia keluar dari kamar mandi.


"Sekarang giliranmu!" ucap Nando.


Vania tersenyum kemudian masuk ke kamar mandi, sementara Nando mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidur besar itu.


Sekitar 15 menit kemudian Vania keluar dari kamar mandi, memakai pakaian tidur yang transparan berwarna hitam, yang memperlihatkan seluruh lekukan tubuhnya.


Lingerie itu adalah pemberian dari Tante Rina, Mamanya.


Perlahan Vania naik ke atas tempat tidur, menyentuh punggung Nando yang kini telah menjadi suaminya itu.


Terdengar suara dengkuran halus, ternyata Nando tertidur.


"Hmm, ada ya malam pertama di tinggal tidur begini! Dasar Nando, dari dulu sifat cuek dan dinginnya tidak pernah berubah!" gumam Vania.


Kemudian Vania menyusul Nando tidur di sampingnya.


Berusaha memejamkan matanya namun Vania tidak bisa langsung tidur. Tiba-tiba Nando berbalik dan langsung memeluknya.


"San ... San ..." terdengar suara Nando yang mengigau.


Vania lalu menepuk pipi Nando yang kini memeluknya erat.


"San?? San siapa??" tanya Vania terkejut.


Nando mulai mengerjapkan matanya, kemudian dia menatap wajah Vania yang kini berada tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


****


__ADS_2