Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Malam Pertama Di Rumah Sakit


__ADS_3

Semua tamu dan kerabat sudah pulang ke tempatnya masing-masing, kini di kamar perawatan itu, hanya ada Vania dan Adi.


Adi membantu Vania untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. Setelah itu Adi kembali membaringkan Vania dan menyelimutinya, selang infus masih tertancap di tangan Vania, walaupun sudah tidak lagi di pasang ventilator.


Setelah selesai, Adi kemudian duduk di tepi ranjang Vania, sambil mengusap lembut rambut Vania yang kini terlihat mulai menipis.


"Mulai sekarang kau adalah istriku Vania, jadi jangan sungkan meminta apapun padaku!" ucap Adi.


"Terimakasih Adi ... dan aku minta maaf, seharusnya malam ini kau bisa menikmati malam pengantin, seperti layaknya pengantin yang baru menikah, tapi ..."


"Sssst, lupakan malam pengantin kita, aku akan terus menunggumu sampai kau sembuh, dan aku yakin kau pasti akan sembuh!" potong Adi.


Beberapa saat lamanya mereka saling diam, dengan pikiran masing-masing yang saling berkecamuk.


"Adi ..."


"Ya Vania!"


"Aku ingin pulang ke rumah, aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku di kamar ini, ini terlaku menyakitkan!" ucap Vania.


"Tapi ... apakah Dokter akan mengijinkanmu? Di sini, kau akan lebih aman dan cepat untuk di tangani!" tukas Adi.


"Adi, aku ingin mengukir sebuah kenangan bersamamu, tapi kenangan itu bukan di sini, bukan di kamar ini!" ucap Vania.


"Lalu, apa maksudmu?" tanya Adi tak mengerti.


"Aku ingin melakukan suatu perjalanan bersamamu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku di tempat yang indah, bukan di sini!" jawab Vania.


"Kau mau kemana Vania?" tanya Adi.


"Aku ingin pergi keliling dunia!" jawab Vania.


"Keliling dunia? Sampai berapa lama?" tanya Adi.


"Sampai habis sisa umurku!"


Adi terdiam mendengar permintaan Vania, entah dia harus bagaimana, dia hanya ingin membahagiakan wanita di hadapannya itu, menemani sisa-sisa hidupnya, yang entah sampai berapa lama lagi.


"Kau tau Adi, aku tak memiliki siapapun di dunia ini, Aku tau Mama sudah tiada, walaupun yoda ada orang yang memberitahuku, tapi firasat ku mengatakan Mama telah pergi, dan ternyata benar, Mama memang telah pergi!" wajah Vania berubah mendung.


"Vania, maafkan aku ..." ucap Adi.


"Sudahlah Adi, aku sudah ikhlas menerima semuanya, dan aku ingin menghabiskan hari-hariku di tempat yang indah bersamamu, dalam kebahagiaan, bukan di kamar ini dalam kesakitan!" ungkap Vania.


"Baiklah Vania, aku akan mencoba menuruti keinginanmu, aku akan konsultasikan ini pada Dokter, semoga dia mengijinkan mu melakukan perjalanan!" ucap Adi.


Vania kemudian menggeser posisi berbaringnya, memberikan tempat untuk Adi.


"Berbaringlah di sini Adi, kau pasti capek selalu duduk di situ menemaniku!" kata Vania.

__ADS_1


Perlahan Adi mulai membaringkan tubuhnya di samping Vania, sempit memang, tapi rasanya lebih hangat dan nyaman.


"Vania kau belum mengantuk, tidurlah, aku akan menjagamu!" bisik Adi.


"Iya, aku masih mau mengobrol denganmu, Di mana Ibu Nuri, sudah pulangkah?" tanya Vania.


"Iya Van, dia langsung pulang setelah acara pernikahan kita selesai tadi, dia ingin bertemu dengan Dicky, sahabatku sesama di panti dulu, aku bahkan tidak sempat mengantar Bu Nuri!" jawab Adi.


"Aneh sekali malam ini, kenapa tidak ada Dokter atau suster yang masuk ke kamar ini? Biasanya mereka akan datang beberapa kali dalam sehari!" gumam Vania.


"Mereka tidak akan datang Van, karena malam ini adalah malam pertama kita!" jawab Adi.


"Adi, boleh aku minta sesuatu padamu?" tanya Vania.


"Tentu saja, kau mau minta apa Vania?'


"Aku ingin tidur di peluk olehmu malam ini, apakah kau mau melakukannya untukku?" lirih Vania.


"Memangnya, kau mau kalau aku memelukmu sepanjang malam ini?" tanya Adi seolah tak percaya, karena yang Adi tau, dalam hati Vania masih penuh nama Nando.


"Adi, sekarang aku adalah milikmu, kau melakukan apa saja padaku itu adalah hak mu, termasuk untuk memelukku!" jawab Vania.


Perlahan Adi menghadap ke arah Vania, menatapnya dan mulai memeluknya dengan erat. Ada rasa hangat dan nyaman yang Vania rasakan saya itu.


"Trimaksih Adi!" ucap Vania lirih.


****


Malam ini Nando juga belum dapat memejamkan matanya, entah mengapa dia teringat akan Adi dan Vania yang kini masih berada di rumah sakit.


Kia nampak tertidur pulas setelah menyusu di antara Nando dan Sandra, seolah bayi itu merasa aman ada orang tua yang menjaganya.


Nando membalikan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, namun dia masih belum bisa untuk memejamkan matanya.


Sandra tau suaminya itu belum dapat tidur, karena gelisah bolak balik di tempat tidur.


"Hmm, ada yang belum bisa tidur nih, dari tadi bolak balik terus!" sindir Sandra.


"San, kasihan juga ya Adi dan Vania!" kata Nando tiba-tiba.


"Lho, kasihan kenapa? Mereka kan sudah bahagia, sudah suami istri!" sahut Sandra.


"Iya benar, tapi coba kau bayangkan saja, Vania saat ini sedang sakit, pasti mereka tidak bisa menikmati malam pertama mereka, itu sangat menyedihkan San!" ujar Nando.


"Sayang, aku mau tanya nih, dulu waktu kau dengan Vania, kau melakukan malam pertama?" tanya Sandra.


"Tentu saja!" sahut Nando. Sebuah bantal melayang ke kepala Nando.


"Dasar mesum!!" sungut Sandra.

__ADS_1


"Kau marah? Dulu kan aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai suami, kau bayangkan saja, kalau aku tidak melakukannya, apa kata Vania dan orang tua kami waktu itu??" ujar Nando.


"Tapi kau menikmati nya kan??"


"San, aku ini laki-laki normal, kalau kucing saja akan langsung memakan ikan yang ada di depannya, masa aku tidak?"


"Iiih!! Memangnya kau kucing??" Sandra mulai kesal.


"Tapi kau tenang saja San, kau tetap menang, karena sudah mencuri start duluan!" goda Nando sambil mencubit pipi Sandra.


"Menyebalkan!!" cetus Sandra.


"San, yuk malam ini kita praktek malam pertama!" ajak Nando dengan senyum menggoda.


"Malas!" cetus Sandra.


"Yah Sandra, ayolah, supaya aku bisa tidur!" rayu Nando.


"Tidak mau! Kau ingat malam pertama dengan Vania, makanya kau mengajakku, iya kan??" sengit Sandra.


Nando langsung bangun dari posisi tidurnya saat melihat Sandra marah Beneran.


"Lho, kok jadi marah sih! Kan aku cuma cerita jujur dan apa adanya!" ujar Nando heran.


"Mulai sekarang, aku akan marah kalau kau masih menyebut wanita lain! Siapapun orangnya!" ketus Sandra.


"Kau kenapa sih Sayang? Belakangan kenapa jadi sensitif dan gampang tersinggung??" gumam Nando sambil mencoba mengusap kepala Sandra, namun tangan Sandra menepiskannya.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt


Ponsel Nando bergetar, Nando kemudian mengambil ponselnya di atas meja dan mulai mengusap layar ponselnya itu.


"Halo!"


"Halo, selamat malam Pak Nando, mohon maaf mengganggu, kami dari kepolisian rumah tahanan, ingin menginformasikan kalau tahanan yang bernama Pak Wiryo telah melarikan diri dari sel tahanan, karena itu kami menghimbau Pak Nando sekeluarga tetap waspada!" kata seorang polisi.


Nando lalu menoleh ke arah Sandra yang masih cemberut.


"San, Pak Wiryo melarikan diri dari penjara!" ujar Nando.


"Apa? Benarkah??" tanya Sandra seolah tak percaya.


Bersambung ...


****


Menjelang Part Part terakhir guys ...


Yuk dukung yuk ...😁😉

__ADS_1


__ADS_2