Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Pengakuan Sandra


__ADS_3

Tante Rina menatap dalam wajah Sandra, seolah ingin meminta jawaban dari pertanyaan yang baru saja di ajukannya.


"Ayo San, Tante akan lebih suka jika kau jujur dari awal, katakan pasa Tante, kau ada hubungan apa dengan Nando, calon menantu Tante?" tanya Tante Rina sekali lagi.


"Tante, maafkan aku ... sebenarnya aku, aku pernah di selamatkan oleh Nando saat Mami Vero menyiksa aku, aku berhutang Budi pada Nando!" ucap Sandra lirih.


"Nando menyelamatkanmu? Kenapa dia begitu gigih melindungi mu? Sampai kau pernah di titipkan pada Kezia, dan yang terakhir Nando meminta Vania untuk menampung mu!" tanya Tante Rina.


"Aku .. Aku tidak tau Tante, mungkin dia hanya kasihan padaku!" sahut Sandra.


"Tidak ... aku melihat sorot mata kalian berbeda, walaupun seolah aku tidak memperhatikannya, tapi aku tau, ada sesuatu di antara kalian!" ujar Tante Rina.


"Tidak Tante, aku mohon, jangan bahas hal ini lagi, karena memang tidak ada apa-apa antara aku dan Nando, hanya sebatas teman, percayalah Tante!" ucap Sandra.


"Baik, aku mempercayaimu, kalau bukan karena Vania begitu menyayangimu ... Tapi aku mohon demi Vania, jangan rusak kebahagiaan putriku, kau tau di dunia ini hanya Nando yang dicintainya?" Tante Rina kembali menatap Sandra dengan tatapan penuh permohonan.


"Baik Tante, sedikitpun aku tidak akan pernah merusak kebahagiaan Vania dan Nando, aku cukup tau diri siapa aku, Tante jangan khawatir!" tegas Sandra.


"Bagus! Sekarang kau bersiap kembali ke butik, pesan taksi dari ponselmu, Vania mungkin sudah tidur!" ujar Tante Rina sambil berdiri dan beranjak meninggalkan Sandra yang masih duduk di ruang tamu itu.


Sandra lalu mulai memesan taksi online dari aplikasi di ponselnya.


Dia berjalan menuju gerbang rumah Vania yang terlihat sudah sepi, hanya ada seorang security yang menjaga di gerbang itu.


Tak lama taksi yang di pesan Sandra sudah datang dan Sandra segera naik dan langung menuju ke butik Tante Rina.


Waktu sudah semakin malam, sudah pukul 10 malam, setelah sampai di butik Tante Rina, Sandra segera turun dari taksi yang dia tumpanginya itu.


Baru saja kakinya melangkah menuju ke pintu butik, sebuah tangan menepuknya dari belakang.


Sandra menoleh terkejut saat melihat siapa orang yang menepuknya itu.


"Ayah?!"


"Akhirnya kita ketemu lagi Sandra! Berikan Ayah uang, uang Ayah habis!" ujar Pak Wiryo dengan senyum yang menyeringai.


"Aku tidak bawa uang Ayah!" sahut Sandra.


"Bohong! Kau hidup enak di sini, bajumu bagus, mana mungkin kau tak ada uang!" cetus Pak Wiryo sambil mencekal tangan Sandra.


"Aku mohon Ayah, jangan ganggu aku lagi, biarkan aku hidup tenang!" mohon Sandra.


"Enak saja kau hidup tenang! Kalau begitu, ayo ikut ayah ke germo itu, di sana Ayah pasti akan dapat uang lagi!" pak Wiryo lalu menarik tangan Sandra.

__ADS_1


Sandra berusaha menarik tangannya dari cekalan Pak Wiryo, namun sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.


Satu orang pria turun dan langsung membantu Pak Wiryo menarik Sandra untuk masuk ke dalam mobil itu.


Di dalam mobil itu sudah ada Ical dan Bono, anak buah Mami Vero.


"Ayah!! Kenapa kau menjebakku?!" teriak Sandra.


"Maafkan Ayah San! Ayah terpaksa demi uang!" sahut Pak Wiryo.


"Turunkan aku di sini sekarang!!" jerit Sandra.


Namun mobil itu terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah prostitusi itu.


****


Sementara di rumah besar kediaman keluarga Nando, Nando masih duduk di lantai teras rumahnya sambil mengelus Bubu, kucing kesayangannya itu.


Entah mengapa malam ini Nando tidak dapat memejamkan matanya, padahal seharian ini Nando merasa lelah dengan semua aktifitasnya.


"Tuan belum tidur?" tanya Roy yang tiba-tiba datang menghampirinya.


"Kau sendiri, kenapa masih berkeliaran?" tanya Nando balik.


"Panas Tuan, di kamar saya kan tidak ada AC Seperi kamar Tuan, ya saya cari angin lah keluar, sambil merokok!" sahut Roy sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya itu.


"Maaf Tuan, sudah mau habis batangnya, tanggung!" Roy lalu menghisap kuat-kuat rokoknya, lalu membuang puntung rokoknya ke kebun yang ada di depannya.


"Dasar asisten tidak sopan!" sungut Nando.


"Mentang-mentang sudah mau menikah, Tuan makin arogan saja!" cetus Roy.


"Tutup mulutmu! Kalau kau masih bicara, lebih baik kau kembali ke kamarmu!" hardik Nando.


"Kalau saya diam, Tuan diam, apa jadinya kita ini, saling diam seribu bahasa, saya tau apa yang sedang Tuan pikirkan!" ujar Roy.


"Jangan sok tau!"


"Boleh saya tebak??"


"Jangan asal tebak!! Kalau kau salah bicara bisa terjerat hukum, kau mau di penjara??" sengit Nando.


"O iya Tuan, Tuan kan sudah bertunangan dengan Vania, sebentar lagi pasti akan menikah dong, boleh tidak nih saya dekati si Sandra, lumayanlah walau dia bekas wanita malam, tapi cantik dan seksi juga!" ujar Roy. Nando langsung melotot.

__ADS_1


"Berani kau menyentuhnya akan ku pecahkan kepalamu!!" sentak Nando.


"Becanda Tuan, serius amat sih??!" sahut Roy tertawa.


"Mau pecahkan kepala siapa Do?" tanya Ricky yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.


"Eh, Papa, belum tidur Pa?!" tanya Nando gelagapan.


"Kalian sedang membicarakan apa? Kenapa sudah malam begini belum juga tidur? Nando, bukankah besok kau harus ke kantor??" tanya Ricky balik.


"Iya Pa, sebentar lagi aku tidur, lagi temani Bubu dulu sebentar!" sahut Nando.


"Dan kau Roy? Kenapa kau juga belum tidur??" tanya Ricky.


"Anu Tuan besar, sebagai asisten yang baik, saya berkewajiban menemani Tuan Nando sampai dia tidur, baru saya akan tidur!" jawab Roy.


"Hmm, dasar kalian, cepat tidur!!" seru Ricky sebelum kembali masuk ke dalam rumahnya.


Nando dan Roy kemudian beranjak berdiri dari duduknya, hendak menuju ke kamar masing-masing.


"Tuan!" panggil Roy tiba-tiba, Nando menoleh.


"Ada apa lagi Roy?" tanya Nando.


"Saya tau perasaan Tuan, kalau Tuan butuh bantuan saya untuk mengawasi Sandra, saya siap Tuan!" jawab Roy.


"Kau serius Roy?" tanya Nando.


"Ya kali saya becanda sama Tuan, ya serius lah!" sahut Roy.


Nando langsung memeluk asistennya itu.


"Terimakasih Roy!" ucap Nando.


"Jangan pake peluk juga kali, saya ini laki-laki normal Tuan!" sergah Roy.


"Sekarang aku sudah benar-benar tidak bisa mengontaki Sandra, nomor ponselnya bahkan sudah aku hapus, aku hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja!" ungkap Nando.


"Siap Tuan, nanti saya akan selalu update kabar terbarunya, tentunya rahasia terjamin!" seru Roy sambil mengacungkan ibu jarinya.


"Itu baru asisten handal!" puji Nando.


"Tapi jangan lupa Tuan, saya minta naik gaji dua kali lipat ya, saya juga butuh ke salon supaya ada wanita yang melirik saya!" sahut Roy.

__ADS_1


"Kau tenang saja Roy, nanti aku kasih fasilitas salon terbaik untukmu!" ujar Nando sambil mulai tersenyum kembali.


****


__ADS_2