
Hari ini di tempat kediaman Vania, terlihat sangat ramai, kerabat dan saudara datang ke rumah itu, karena ini adalah hari pertunangan Vania dan Nando.
Nando terlihat sangat tampan dengan balutan stelan batik modern, begitu juga Vania, terlihat cantik dengan gaun yang bernuansa batik juga.
Mereka baru saja menjalani prosesi pertunangan, di mana keluarga Nando datang dengan membawa berbagai macam seserahan untuk melamar Vania.
Sandra nampak sibuk di belakang, mengatur berbagai menu makanan yang di pesan Tante Rina dari catering yang ternama di kota itu.
Sandra hampir tidak menginjakan kakinya di depan, dia tidak ingin melihat Nando, mencoba untuk mengubur dalam-dalam nama laki-laki itu.
Nando juga tidak berusaha mencari Sandra, mereka telah sepakat untuk saling melupakan satu sama lain, demi kebahagiaan semua orang.
Pada saat Sandra mengatur makanan prasmanan yang akan di santap sebentar lagi oleh para tamu, sebuah tangan menyentuh bahunya. Sandra terkejut lalu membalikan tubuhnya.
"Hei, kamu Sandra kan? Sandra temannya Nando yang dulu mau cari tempat kos dan pekerjaan! Masih ingat aku?" tanya Kezia kakaknya Nando yang baru keluar dari toilet.
"Kak Kezia? Tentu saja aku ingat, kakak pernah menolongku waktu itu dengan mengijinkanku menginap di tempat kakak!" jawab Sandra.
"Kamu kemana saja San? Kata Mbak Rosi pemilik cafe, waktu itu kamu menghilang begitu saja!" ujar Kezia.
"Sekarang aku kerja di butik Tante Rina Kak, dan aku tinggal di butik itu!" sahut Sandra.
"Ooo, syukurlah kalau kau sudah dapat pekerjaan dan tempat tinggal, aku ikut senang!" kata Kezia. Kemudian dia kembali ke ruangan depan dan bergabung dengan keluarga yang lain.
"Jadi kapan pernikahannya akan di laksanakan?" tanya Ricky.
"Terserah pihak laki-laki saja, kapanpun kami siap!" jawab Tante Rina.
"Bagaimana kalau pernikahannya di laksanakan pada akhir bulan ini? Supaya kita bisa langsung cetak undangannya, lebih cepat lebih baik!" usul Lika yang kini duduk di kursi roda nya.
"Bagaimana Nando?" Ricky melirik ke arah Nando yang sejak tadi diam saja.
"Terserah Papa dan Ibu saja!" jawab Nando.
"Vania, kau tidak keberatan kan kalau lebih cepat menjadi istri Nando? Ibu sudah tak sabar ingin punya menantu perempuan ini!" tanya Lika.
Vania menganggukan kepalanya dengan malu-malu. Semua orang terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Syukurlah akhirnya mereka bisa bersatu juga!" ucap Tante Rina.
Setelah di pastikan tanggal pernikahannya, mereka semua melanjutkan acara makan malam bersama.
Aneka hidangan telah tersedia di meja prasmanan yang besar itu. Mereka mulai makan menikmati sajian makan malam.
Nando nampak duduk termenung sambil memandang kolam ikan yang ikannya terlihat berenang kian kemari.
"Kau di sini rupanya Do, aku cari kemana-mana, sudah makan belum?" tanya Vania yang tiba-tiba muncul itu.
"Sudah!" sahut Nando.
"Akhirnya ya Do, rasanya ini seperti mimpi, sebentar lagi status kita akan berubah, Nando akan jadi suami aku, aku bahagia Do, sangat bahagia!" ucap Vania sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nando.
Nando diam saja tanpa bisa merespon semua ucapan Vania, hatinya bingung, entah bahagia atau sedih, semua jadi abu-abu. Tapi Nando cukup bahagia melihat keluarga yang sangat di sayanginya itu bahagia.
"Kok diam saja sih Do? Ya ya ... aku tau dari dulu sifatmu memang cuek dan dingin, tapi Nando bahagia kan?" tanya Vania sambil menatap dalam wajah Nando.
"Iya, bahagia Van!" jawab Nando.
"Syukurlah, aku janji Do, akan jadi istri yang baik buat Nando, dan akan selalu menjaga hatiku untukmu!" ucap Vania.
Nando kemudian memeluk Vania dengan erat, membenamkan kepala Vania di dadanya yang hangat.
Vania begitu bahagia meredakan sentuhan Nando yang selama ini sangat jarang di rasakan nya.
"Aku akan berusaha membahagiakanmu Vania, memberikan seluruh hatimu untukmu!" bisik Nando.
"Terimakasih Nando! Aku sangat bahagia, tidak sabar rasanya menunggu hari itu tiba, hari pernikahan kita, akan ku serahkan semua jiwa dan ragaku untukmu!" ucap Vania sambil mengecup cincin pertunangan mereka, yang kini tersemat di jari manis mereka.
Dari jendela dapur Sandra melihat Nando dan Vania saling berpelukan, walau hatinya begitu bergejolak, namun dia berusaha untuk tetap bisa tersenyum.
Sandra merasakan, bahagia bisa melihat orang yang di cintainya bahagia, setetes air matanya jatuh mewakili perasaannya.
"Eh Sandra, kau di sini rupanya, ayo ke depan, keluarga Nando ingin pamit pulang, Tante akan mengenalkan mu pada keluarga Nando!" ajak Tante Rina yang tiba-tiba sudah ada di dapur.
"Tidak usah Tante, lagi pula saya bukan kerabat atau keluarga Tante, jadi tidak perlu di kenalkan!" tukas Sandra.
__ADS_1
"Lho, siapa bilang kau bukan saudara, saudara bukan hanya bicara masalah darah, selama ini kau telah memberikan Vania semangat dan hidup yang lebih berwarna, ayolah!" Tante Rina menarik tangan Sandra menuju ke depan.
Keluarga besar Nando nampak sudah berdiri dan akan bersiap untuk kembali ke tempat mereka.
Tak lama Tante Rina muncul sambil menggandeng Sandra.
"Ini Sandra, sahabat Vania yang juga membantu saya di butik!" kata Tante Rina memperkenalkan.
"Saya sudah kenal Tante, dia itu teman Nando juga, pernah menginap di rumah saya dan waktu itu ingin mencari pekerjaan!" timpal Kezia.
Semua yang ada di situ terkesiap menatap Kezia.
"Ooh, jadi Sandra ini teman Nando juga, kok tidak pernah cerita si Nando, selama ini yang kami tau hanya Vania yang dekat dengan Nando!" ujar Lika.
"Lho, bukannya Nando masih saudara jauh Sandra?" tanya Tante Rina heran.
"Saudara jauh? Sepertinya bukan, kami pasti mengenali kalau Nando punya saudara jauh!" tukas Ricky. Tante Rina nampak mengerutkan keningnya.
Tak lama Nando dan Vania terlihat baru datang dan bergabung dengan mereka. Nando terkejut saat melihat Sandra ada diantara mereka.
"Sudahlah Pa, ini sudah malam, pasti keluarga jeng Rina capek mau istirahat, kita pulang saja!" ujar Lika yang wajahnya terlihat lelah.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit ya, terimakasih atas waktu, tempat dan jamuan makan malamnya, ayo Nando, kita pulang!" ucap Ricky.
Keluarga besar Nando akhirnya pulang meninggalkan kediaman Vania.
"Vania, kau ganti pakaianmu dan langsung istirahat di kamarmu!" titah Tante Rina.
"Baik Ma!" sahut Vania yang segera beranjak masuk ke dalam kamarnya.
"Sandra, Tante ingin bicara denganmu!" kata Tante Rina sambil menoleh kearah Sandra. Mereka kemudian duduk di ruang tamu yang telah sepi itu.
"Sandra, coba jelaskan padaku, apa hubunganmu yang sebenarnya dengan Nando? Dia bukan saudara jauh mu kan?" tanya Tante Rina.
"Di-Dia ... teman saya Tante!" jawab Sandra.
"Teman? Tante tau siapa kau yang sebenarnya, apakah mungkin Nando berteman dengan seorang wanita malam?" tanya Tante Rina lagi setengah berbisik.
__ADS_1
Sandra tercekat mendengar pertanyaan Tante Rina. Tidak tau lagi dia harus mengatakan apa.
****