Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Bertemu Windi


__ADS_3

Pagi itu Nando berhasil menyelesaikan ujian semesternya walaupun sudah mengulang dua kali.


Vania menunggunya di depan pintu kelas Nando.


Nando keluar dari kelasnya sambil menarik nafas lega.


"Akhirnya! Selesai juga tuh ujian yang menyebalkan!" gumam Nando.


"Gimana Do? Kau bisa mengerjakan ujianmu kan?" tanya Vania yang berjalan beriringan dengan Nando meninggalkan kelasnya.


"Yah aku sudah dua kali mengulang masa iya aku tidak lulus!" sahut Nando.


"Kau sudah kaya dan banyak uang, buat apa juga sih kuliah?" tanya Vania.


"Hanya untuk mencetak selembar ijasah, dan supaya aku bangga menunjukan pada orang tuaku dan anak-anakku kelak!" ucap Nando.


"Anak-anak?" gumam Vania.


"Sudahlah, ayo kita cabut, hari ini aku tidak ke kantor, aku mau merayakan keberhasilan dalam ujian, mudah-mudahan setengah tahun lagi aku bisa lulus!" ujar Nando.


Mereka lalu segera naik ke mobil Nando, Roy sudah menunggunya di parkiran.


"Kita mau kemana Do?" tanya Vania.


"Ke butik jemput Sandra!" sahut Nando.


"Sandra? Bukankah Sandra sedang kerja di Butik Mamaku ya?!" ujar Vania.


"Memangnya tidak boleh ijin sebentar?" tanya Nando.


"Ya boleh sih, oke deh, kita jemput Sandra sekarang!" kata Vania.


Mobil itu pun melaju menuju butik Tante Rina. Jalanan agak macet, padahal baru jam 10 pagi.


****


Sementara itu di butik, Tante Rina seperti biasa sedang duduk sambil menatap layar laptopnya, Sandra berdiri menjaga butik bersama dengan Yuna.


Tiba-tiba masuklah sepasang pria dan wanita ke dalam butik itu.


Mata Sandra membulat saat tau siapa mereka. Mereka adalah Windi dan seorang pria dewasa yang kira-kira berusia 50 tahunan, Windi adalah teman sesama wanita malam di rumah Mami Vero.


"Pilihlah pakaian mana yang kau suka sayang, aku akan membayar semuanya!" ucap Pria tua itu.

__ADS_1


"Terimakasih Om!" sahut Windi sambil bergelayut manja di pundak laki-laki itu.


"Sandra! Tolong layani pelanggan baru kita!" teriak Tante Rina.


Sandra langsung gelagapan, dia tidak menjawab teriakan Tante Rina.


Windi mengamati Sandra yang berdiri dengan mengenakan masker itu, keningnya mulai berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sepertinya aku kenal dengan orang ini!" gumam Windi.


"Ada apa sayang?" tanya laki-laki yang ada di samping Windi itu.


Dengan cepat Windi menarik masker yang menutupi sebagian wajah Sandra. Sandra terkejut, Tante Rina juga terkejut melihat kejadian di depan matanya itu.


"Hei! Apa yang kalian lakukan terhadap karyawan saya??" seru Tante Rina.


Windi melotot saat melihat Sandra yang ia kenal berdiri di hadapannya.


"Sandra?? Kau di sini rupanya! Mami Vero sudah stress mencarimu, kau malah enak-enakan kerja di sini!" hardik Windi.


"Windi, please, jangan beritahu Mami Vero kalau aku di sini, aku tidak mau lagi bekerja di rumah itu, aku tidak mau Windi!" mohon Sandra.


Tante Rina yang sejak tadi mengamati mereka menatap dengan heran, lalu dia segera menghampiri mereka.


"Ada apa ini? Mengapa kalian semua jadi ribut di butik saya?" tanya Tante Rina.


Sementara Sandra hanya bisa pasrah sambil menunduk. Kini dia merasa nasibnya sudah di ujung tanduk.


"Kau jangan sembarangan menuduh karyawan ku wanita malam! Kau sendiri yang jalan dengan laki-laki tua itu!" bela Tante Rina.


"Ooh, jadi Tante tidak percaya? Tanyakan langsung saja padanya! Wajah polosnya menipu Tante selama ini, kalau semua pelanggan Tante tau kalau Tante mempekerjakan wanita malam, di jamin usaha Tante akan bangkrut!" cetus Windi.


"Kurang ajar kau menyumpahi butik ku! Pergi kau dari sini! Aku juga tidak sudi di datangi wanita seperti mu! Kau bahkan lebih dari wanita malam! Mulutmu berbisa seperti ular!!" sengit Tante Rina.


"Oke! Aku akan cari butik yang lain yang lebih baik! Sandra! Aku akan adukan kau pada Mami! Ayo Om!" Windi lalu menarik tangan laki-laki tua itu keluar dari butik Tante Rina.


Sandra terlihat menangis sambil menundukkan wajahnya.


Perlahan Tante Rina mendekati Sandra.


"Sandra, apa benar yang di katakan oleh wanita tadi, kalau kau adalah wanita malam?" tanya Tante Rina.


Sandra terus menangis, dia tidak bisa lagi menyangkal dan menutupi dirinya, semua sudah terbongkar.

__ADS_1


"Tante, kalau Tante mau usir saya keluar dari sini, saya ikhlas Tante! Saya memang seorang wanita malam, tapi saya ingin bertobat dan berubah, ingin hidup normal seperti yang lainnya, makanya saya pergi dari tempat maksiat itu, kalau Tante malu dan menyesal saya siap, untuk pergi dari sini!" isak Sandra.


Tante Rina tertegun beberapa saat lamanya, namun kemudian dia langsung maju dan memeluk Sandra.


"Sandra, setiap orang punya masa lalu, walau kau punya masa lalu buruk, tapi kau adalah teman anakku, aku senang kau jujur dan mengakui semuanya, tetaplah bekerja di sini!" ucap Tante Rina.


"Terimakasih Tante, saya banyak berhutang pada Tante!" lirih Sandra sambil mengusap air matanya.


Tak lama kemudian, Nando dan Vania sudah tiba di butik, mereka heran melihat Sandra dan Tante Rina yang saling berpelukan sambil menangis.


"Mama! Apa yang terjadi?" tanya Vania cemas.


"Tidak ada apa-apa sayang, kami cuma saling berpelukan karena Sandra rindu ibunya!" sahut Tante Rina.


"Oooh!" gumam Vania.


"Kalian tumben datang kemari pagi-pagi?" tanya Tante Rina.


"Itu Ma, Nando mau traktir aku dan Sandra makan, karena dia berhasil menyelesaikan ujian nya pagi tadi! Sandra di ijinkan kan Ma?" jawab Vania.


"Pergilah sayang, sekali-kali kalian kan perlu refreshing, Sandra, kau ikutlah bersama mereka, biar Tante dan Yuna yang menjaga butik untuk hari ini!" ujar Tante Rina.


"Terimakasih Tante!" ucap Sandra.


Mereka lalu keluar dari butik itu, mereka langsung menuju ke sebuah mall yang tidak jauh dari butik Tante Rina.


Wajah Vania terlihat amat gembira, namun wajah Sandra terlihat murung, bahkan sepanjang perjalanan dia tidak banyak bicara.


Sampai kemudian mereka sudah sampai di mall besar itu.


Vania dengan penuh semangat jalan mendahului Nando dan Sandra.


Nando lalu menarik tangan Sandra mendekat kearahnya.


"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu?" tanya Nando.


"Lepaskan Nando, jangan kau pegang tanganku, aku beritahu, tadi aku bertemu dengan Windi, teman sesama wanita malam saat di rumah Mami Vero, dan karena Windi, Tante Rina sudah tau, siapa aku sebenarnya!" jawab Sandra.


Nando terkesiap mendengar ucapan Sandra.


"Lalu, bagaimana tanggapan Tante Rina?" tanya Nando.


"Tante Rina sangat baik, dia sama sekali tidak marah atau benci padaku, dia memberikan aku kesempatan untuk berubah, aku banyak berhutang padanya!" jawab Sandra.

__ADS_1


"Kalian sedang membicarakan apa? Seru sekali kelihatannya!" kata Vania yang kini berjalan mensejajari mereka.


****


__ADS_2