
Pagi itu di butiknya, Tante Rina nampak termenung duduk di kursi kerjanya.
Belakangan ini banyak hal yang menjadi beban pikirannya, salah satu nya adalah masalah putri semata wayangnya, Vania.
Dulu Vania adalah gadis yang ceria dan enerjik, memiliki banyak teman dan pintar.
Namun sejak menikah dengan Nando, dunianya seperti berubah, Vania menjadi sosok yang pemurung dan sensitif, di tambah lagi dengan masalah Nando yang tidak bisa mencintai Vania, dia menikah hanya demi memenuhi janji pada Ibunya.
Belum lagi soal sakit yang di derita Vania, apalagi saat rahimnya di angkat, dia harus menerima kenyataan bahwa dia akan kesulitan memiliki anak, dan itu sangat mustahil.
Vania semakin terpuruk dan putus asa, hal itulah yang membuat Tante Rina sedih melihat anak satu-satunya bersedih.
Brak!!
Tiba-tiba pintu butik di buka dengan kasar dari luar.
Tante Rina terkejut saat melihat siapa orang yang datang tiba-tiba itu.
"Kau?? Mau apa lagi kau datang kesini??" tanya Tante Rina garang.
"Beritahu aku sekarang, di mana Sandra??" tanya orang itu yang tak lain adalah Pak Wiryo, ayah tiri Sandra.
"Kau cari saja sendiri! Aku tak lagi mengurusinya!" cetus Tante Rina.
"Bohong!! Kau pasti tau di mana keberadaannya! Katakan padaku sekarang!" ujar Pak Wiryo tak percaya.
"Memangnya apa yang mau kau lakukan terhadapnya?" tanya Tante Rina.
"Aku butuh uang, selama ini Sandra yang menjadi pohon uangku, tapi sejak dia menghilang, aku kehilangan juga pundi-pundi uangku!" sahut Pak Wiryo.
Tante Rina terdiam, tiba-tiba ada terlintas sesuatu di pikirannya.
"Kau perlu uang??" tanya Tante Rina.
"Ya, aku perlu uang, aku baru kalah berjudi, makanya aku mencari Sandra!" sahut Pak Wiryo.
"Kalau kau memang butuh uang, aku bisa memberikanmu sejumlah uang, asal kau memenuhi permintaanku!" ujar Tante Rina.
"Katakan padaku, apa yang kau inginkan? Aku akan melakukannya demi uang!" sahut Pak Wiryo.
"Bagus! Sekarang kau mendekatlah padaku!" Tante Rina melambaikan tangannya dan mengatakan sesuatu pada Pak Wiryo dengan suara lirih dan nyaris tak terdengar.
Pak Wiryo nampak mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah itu Tante Rina mengeluarkan uang dari dalam laci mejanya, dan memberikannya pada Pak Wiryo.
__ADS_1
Pak Wiryo tersenyum senang dan melangkah keluar dari dalam butik Tante Rina.
****
Sementara itu, Nando sudah bersiap-siap akan pulang ke rumah orang tuanya, setelah semalam dia tidur di rumahnya.
Tidak sabar dia ingin bertemu dengan Kia dan Mamanya.
"Kau buru-buru sekali Nando, bahkan ini masih pagi! Sarapan mu juga belum selesai!" Ujar Vania saat melihat Nando yang makan dengan terburu-buru.
"Ah, ya ya ... aku kangen pada Kia!" sahut Nando.
"Kia? Kan baru semalam kau tidak bersama Kia dan Sandra, masa sudah kangen saja!" gumam Vania sedih.
"Kenapa kau sangat risau Vania? Kan semalam aku tidur bersama mu!" ujar Nando.
"Tapi setelah itu, kau buru-buru pergi dari sini, tidakkah kau bisa tinggal sebentar lagi di sini??" tanya Vania.
Nando terdiam dari perdebatan pagi itu, semakin di lanjutkan semakin tidak ada selesainya.
Vania juga terdiam, sejak pagi Tante Rina sudah berangkat ke Butik, Nando juga akan pergi meninggalkannya.
"Kalau kau mau pergi, pergi saja!" ujar Vania.
"Terimakasih!" sahut Nando yang langsung menyambar jaketnya dan pergi keluar dari dalam rumahnya itu.
"Ini sarapannya sudah selesai? Kok masih banyak?" tanya Mbok Karsih saat hendak membereskan meja makan.
"Iya Mbok, Suamiku makan sedikit sekali!" sahut Vania.
"Punya Nyonya Vania juga masih utuh!" kata Mbok Karsih.
"Iya Mbok, aku juga tidak berselera makan, Mbok Karsih makan saja!" sahut Vania yang kemudian mulai beranjak dari tempat itu.
Vania terus berjalan ke arah depan, Pak Tejo nampak sedang mengelap mobil yang ada di garasi itu.
"Selamat pagi Pak Tejo!" sapa Vania.
"Selamat lagi Nyonya, wah, pagi-pagi sudah rapi mau kemana?" tanya Pak Tejo.
"Pak, tolong antarkan saya ke mall, saya ingin shoping!" sahut Vania.
"Apa? Shoping? Sudah bilang Tuan Nando belum?" tanya Pak Tejo.
"Aku bilang atau tidak, tidak akan ada pengaruh nya, sekarang ayo kita jalan Pak, aku ingin ke mall!" sahut Vania yang langsung membuka pintu mobil yang ada di hadapannya itu dan duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
Mau tidak mau Pak Tejo mengantarkan Vania.
Sesampainya di mall, Vania langsung berbelanja sesuka hatinya, memilih barang-barang yang dia suka, hingga berakhir di sebuah restoran yang baru saja di buka.
Vania duduk dan mulai memesan makanan.
Tiba-tiba nampak ada seseorang yang datang menghampirinya.
"Hai, bolehkah aku duduk di sini?" tanya seorang laki-laki yang Vania baru pertama kali melihatnya.
"Duduk saja!" sahut Vania.
"Kau sendirian saja!? Aku mau pesan makanan, tapi kulihat restoran ini begitu sepi karena baru di buka, kau mau pesan apa?" tanya pria itu ramah.
"Apa saja terserah!" sahut Vania cuek.
Pria itu lalu segera memesan makanan yang dia pilih pada seorang pelayan yang ada di situ.
"Oya, siapa namamu? Aku sering ke mall untuk mengerjakan banyak pekerjaanku, tapi aku jarang sekali melihatmu!" tanya Pria itu.
"Nama tidak penting bagiku!" cetus Vania.
"Baiklah, aku saja yang duluan, namaku Adi, aku adalah seorang pengacara yang baru merintis, senang berkenalan dengan anda Nona!" Adi si pria itu menjulurkan tangannya hendak menjabat tangan.
Namun Vania mengacuhkannya.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Adi.
"Hanya ibu rumah tangga biasa!" sahut Vania.
"Ibu rumah tangga? Berati kau sudah menikah? Maafkan aku, nanti suamimu akan salah paham jika melihat aku mengobrol denganmu!" ucap Adi sungkan.
"Dia tidak akan pernah marah!" sahut Vania.
Adi terkesiap mendengarnya.
"Tidak pernah marah? Apakah dia tidak cemburu??" tanya Adi lagi.
"Dia tidak pernah cemburu!" sahut Vania.
"Lalu, apalah dia begitu lembut dan tidak pernah cemburu?!"
"Bukan karena itu, tapi memang dia tidak mencintai aku!" ucap Vania datar.
Bersambung ...
__ADS_1
****