Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Terus Mencari


__ADS_3

Menjelang subuh, Nando, Jonathan dan Ricky Papanya kembali pulang ke rumah, setelah mereka mengelilingi kota Jakarta sambil menyebarkan berita anak hilang di media sosial.


Wajah ketiganya nampak lesu karena pencarian mereka belum membuahkan hasil.


Setelah sampai di rumah, Nando langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Sandra terlihat duduk terpekur di sudut kamarnya sambil menangis.


Melihat Sandra yang kelihatan sangat terpukul karena kehilangan Kia, Nando langsung maju dan memeluknya erat, di benamkannya kepala Sandra di dada Nando.


"Jangan menangis terus sayang, percaya saja Kia akan baik-baik saja!" ucap Nando sambil mengecup kening Sandra.


"Di mana Kia Do? Biasanya dia sudah berapa kali menyusu, biasanya pagi-pagi Kia sudah bangun dan minta susu, sekarang Kia di mana??" tangis Sandra sambil memukul dada Nando.


"Kita akan cari Kia sayang, aku sudah mengumumkan di media sosial, di televisi, Kia akan di temukan!" Hibur Nando. Padahal hatinya juga sangat galau.


"Ayo cari Kia Do! Ayo Do! Kita cari Kia! Dadaku sudah bengkak karena tidak menyusui Kia! Ayo Do!" ajak Sandra sambil menangis, dia mengguncang tubuh Nando.


"Mana sini dadamu aku akan menghisap susu Kia, supaya dadamu tidak sakit lagi!" Nando lalu mulai membuka kancing daster Sandra dan mengeluarkan dadanya yang terlihat bengkak dan padat.


Kemudian Nando langsung menghisap dan menelan ASI yan keluar di dada Sandra.


Sementara Sandra membiarkan Nando menghisap ASI nya, dia terus menangis, seluruh pikirannya kini hanya pada Kia.


"Nando, Kia pasti sekarang lapar, dia belum menyusu Do! Dia pasti kehausan sekarang! Ayo Do! Kita cari Kia!" tangis Sandra.


"Tapi kita akan cari kemana San? Saat ini jalan yang paling efektif adalah menyebarluaskan hilangnya Kia di media sosial, nanti sore baru kita bisa melapor ke kantor polisi!" jelas Nando.


"Tapi kasihan Kia Do! Bagaimana kalau dia lapar, haus ...apakah Kia akan bisa tidur! Kia!!" Sandra menangis di pelukan Nando.


Nando hanya bisa mengusap lembut rambut Sandra, tanpa bisa lagi mengucapkan apapun.


Nando tau semalaman Sandra tidak tidur, sudah mulai ada lingkaran hitam di matanya.


Perlahan Nando mulai membaringkan Sandra di tempat tidur, sambil terus memeluknya Nando mengusap-usap kepala Sandra hingga wanita itu tertidur karena kelelahan menangis.


Setelah Sandra tertidur, Nando kemudian menyelimuti tubuh Sandra, kemudian dia keluar dari kamarnya.


Nando menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga, dia menjambak rambutnya frustasi.


"Aaarkkh!!"

__ADS_1


Nando memukul sofa itu dengan kepalan tangannya.


Jonathan yang kebetulan mendengar teriakan Nando langsung bergegas menghampirinya.


"Sabar Do! Jangan panik, jangan emosi!" ujar Jonathan sambil menepuk bahu Nando.


"Aku kalut Bang! Anakku Hilang! Istriku terpukul! Lalu aku harus bagaimana??" tanya Nando putus asa.


"Saat ini kan kita sedang berupaya mencarinya, kau sabar dulu, semuanya butuh proses!" ujar Jonathan.


"Aku pusing Bang! Pikiranku selalu ingat Kia, di mana dia sekarang? Apalagi Sandra kalau sudah bangun dia pasti terus menanyakan Kia!" kata Nando.


Lika keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati mereka.


"Nando, kau tidak tidur? Kalian begadang kan sejak semalam?" tanya Lika.


"Iya Bu, tapi aku sama sekali tidak mengantuk!" sahut Nando.


"Tapi tetap tubuhmu butuh istirahat Nando! Ayo sekarang masuk ke dalam kamarmu!" titah Lika.


"Tapi Bu ..."


"Masuk!"


"Den Nando ada telepon dari Mbak Vania!" ujar Mbok Narti.


"Katakan pada Vania Mbok, aku sedang ingin sendiri!" sahut Nando.


"Tapi ..."


"Katakan saja begitu Mbok, aku memang sedang tidak ingin bicara atau bertemu dengan siapapun di sini!" seru Nando.


"Biar Ibu saja yang bicara pada Vania!"


Lika langsung beranjak dati tempatnya menuju ke meja telepon, dia langsung mengangkat telepon yang sedang menunggu itu.


"Halo Vania, Ini Ibu Lika!" kata Lika.


"Bu, apa kabar?" tanya Vania.


"Baik Van, kau sendiri sehat kan?"

__ADS_1


"Sehat Bu!" sahut Vania.


"Ada apa kau menelepon Nando? Apa kau tau dia baru kehilangan bayinya?" tanya Lika.


"Tau Bu, makanya aku ingin datang ke sana, aku ingin menghibur suamiku itu, saat ini dia pasti sedang terpuruk?" jawab Vania.


"Nando tidak apa-apa, kau juga butuh istirahat Van!" kata Lika.


"Tidak Bu, aku akan ke sana sekarang, aku sangat ingin menemui Nando!" tukas Vania.


"Baiklah Vania, silahkan kau datang kesini, nanti Ibu akan menyampaikannya pada Nando!" sahut Lika akhirnya.


****


Pagi-pagi Tante Rina sudah membuka butiknya.


Dia duduk menunggu di kursi kerjanya.


Ceklek!


Pak Wiryo masuk ke dalam butik Tante Rina.


Tante Rina lalu melemparkan amplop berisi uang ke arah Pak Wiryo, dengan cepat Pak Wiryo menangkapnya.


"Sudah kau pergi sana! Nanti ada orang datang melihatmu!" cetus Tante Rina.


"Apa kau tidak mau tau di mana keberadaan bayi itu? Barangkali kau mau menjenguknya!" ujar Pak Wiryo.


"Aku tak sufi melihat anak itu, pokoknya kau urus saja dia! Ingat, kau jangan muncul lagi di hadapanku, dan jangan sampai polisi tau mengenai bayi yang kau ambil itu!" kata Tante Rina.


"Kau tenang saja! Pokoknya rahasia terjamin! Kalau begitu aku pergi, dan aku akan kembali lagi untuk meminta uang padamu lagi!" ujar pak Wiryo sambil tertawa.


Kemudian dia segera pergi meninggalkan butik yang masih sepi itu.


****


Sementara itu di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Jakarta, terdengar suara tangisan bayi.


Seorang wanita nampak kerepotan menimang bayi itu.


"Duh! Rewel sekali anak ini, kalau bukan karena Pak Wiryo kasih uang untuk ngurusin bayi ini, mana Sudi aku mengurusnya, mengurus diri sendiri saja sudah repot!" gumam wanita itu.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2