Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Melihatmu Dari Jauh


__ADS_3

Sore itu Mirna mengguncang lembut punggung Sandra yang tertidur di ranjangnya.


"Sandra, ayo sini San, coba lihat!" ujar Mirna sambil menarik tangan Sandra keluar dari kamar itu, tangannya menunjuk siaran langsung yang di tayangkan di televisi.


"Ada berita apa Mir?" tanya Sandra sambil mengucek matanya.


"Pernikahan putra pengusaha properti terbesar se Asia, acaranya di siarkan langsung di televisi dan media sosial lainnya lho, ini salah satu pernikahan Akbar selain artis!" jelas Mirna.


"Nando? Itu Nando kan?" tanya Sandra sambil matanya menatap lurus ke arah televisi yang ada di ruangan itu.


"Iya benar, itu Nando!" sahut Mirna.


Sandra terkesima melihat Nando yang terlihat duduk di pelaminan bersama dengan Vania, juga orang tua mereka.


Semua prosesi pernikahan Nando bahkan di liput di beberapa televisi swasta, di siarkan secara langsung sore ini, tiba-tiba ada yang sesak dalam dada Sandra.


Perlahan Mirna merengkuh bahu Sandra.


"Kalau kau ingin menangis, menangis saja San, kalau itu bisa membuatmu lega!" ucap Mirna.


"Mir, di mana Nando melangsungkan pernikahannya?" tanya Sandra.


"Di Hotel Gold, salah satu hotel bintang lima di Jakarta, pestanya sangat mewah, yang hadir semua orang-orang penting, ternyata Papa Nando itu bukan orang sembarangan!" jawab Mirna.


"Mirna, aku sangat ingin melihatnya, sangat ingin!" ucap Sandra sambil mengelus perutnya, ada setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.


"Bagaimana caranya San? Katanya kau sudah ikhlas Nando menikah dengan orang lain?" tanya Mirna.


"Iya Mir, aku memang sudah ikhlas, aku tidak ada niat untuk mengganggu mereka, tapi hatiku sangat ingin melihatnya, walaupun dari kejauhan ... mungkin bayiku menginginkannya!" bisik Sandra.


"Baiklah kalau begitu, mungkin kau ngidam ingin lihat Ayah dari bayimu itu, sekarang lebih baik kita ganti baju, kita datang ke sana!" sahut Mirna.


Mereka kemudian bersiap akan berangkat ke hotel itu.


Setelah mereka berganti pakaian dengan rapi, mereka lalu berangkat dengan naik taksi yang sudah di pesan Mirna.


Untuk menutupi wajahnya agar tidak di kenali, Sandra mengenakan gaun bercadar.


Tidak sampai satu jam mereka sudah sampai di hotel yang di maksud, sebuah hotel yang terbentang dengan megah dan mewah, di mana resepsi pernikahan Nando dan Vania berlangsung.


Banyak para wartawan dan awak media yang meliput acara itu, mereka tidak bisa dengan mudahnya masuk ke ballroom di mana Pestanya berlangsung.


"Apakah kalian punya undangan? Di sini yang hadir wajib menunjukan undangan, untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan!" ujar seorang security saat Sandra dan Mirna memasuki hotel itu.


"Pak, kami hanya ingin masuk sebentar saja, ada teman kami di dalam, kami janji tidak lebih dari lima menit!" sahut Mirna.


"Maaf! Kalian tidak bisa masuk!!" cetus security itu.


Mirna kemudian menarik tangan Sandra untuk menyingkir sejenak dari situ.

__ADS_1


"San, itu ada televisi besar yang menayangkan acara di dalam, kau lihat Nando dari situ saja, kita tidak bisa masuk San!" ujar Mirna.


Sandra menganggukan kepalanya walau di hatinya ada sedikit kesedihan.


Mereka akhirnya duduk di sudut lobby hotel itu dan melihat acara pernikahan Nando melalui sebuah televisi besar.


Sandra tak henti-hentinya menatap rindu pada sosok Nando yang dilihatnya itu.


"Nak, lihatlah, Papamu tampan sekali!" gumam Sandra sambil mengelus perutnya.


Mirna hanya melirik ke arah Sandra dengan prihatin dan kasihan.


Tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri mereka. Dia adalah Roy, asisten Nando yang bertugas untuk mengawasi keamanan.


"Maaf, sepertinya aku mengenalmu, kau temannya Sandra bukan?" tanya Roy pada Mirna. Mirna menoleh terkejut.


"Eh, mas ini supirnya Nando kan?" tanya Mirna. Roy menganggukan kepalanya.


"Rupanya kau masih hidup, di mana Sandra? Apa dia juga masih hidup?" tanya Roy.


Sandra yang mendengar langsung mendekati Roy.


"Sssst, aku Sandra, aku mohon jangan beritahu kehadiranku pada siapapun!" ucap Sandra sambil sedikit membuka cadarnya.


Roy terperangah, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Hah?? Sandra?? Kami pikir kau sudah ..." Roy menghentikan ucapannya.


"Tuan Nando pasti akan kaget saat melihatmu!" ujar Roy.


"Kau jangan beritahu dia! Sebentar lagi kami juga akan pulang!" cetus Mirna.


"Kalian tinggal di mana?" tanya Roy.


"Maaf, aku tidak bisa memberitahumu, tapi bolehkan aku minta nomor ponselmu?" tanya Sandra balik.


Roy langsung memberikan secarik kartu namanya pada Sandra.


"Sepertinya kau bisa di percaya Roy, aku harap kau tidak membocorkan rahasia kedatangan kami pada orang lain!" ujar Mirna.


Kemudian Mirna segera menarik tangan Sandra untuk keluar dari tempat itu, mereka berjalan keluar dari lobby.


Roy yang masih terperangah langsung buru-buru masuk ke dalam ballroom.


Sementara Nando masuk duduk di pelaminan bersama Vania, para tamu kini sedang menikmati hidangan makan malam, wajah semua orang terlihat bahagia, terlebih kedua orang tua mempelai.


"Nando, aku deg deg an, tidak menyangka kini aku sudah sah jadi istrimu!" bisik Vania.


Nando hanya tersenyum menanggapinya.

__ADS_1


"Iya Vania!" sahut Nando.


"Malam ini kita akan tidur di hotel, entah mengapa aku sangat berdebar sekali, aku deg degan untuk malam pertama kita Nando!" lanjut Vania.


"Aku juga Vania, aku grogi!" sahut Nando.


"Terimakasih Nando ..." ucap Vania.


"Terimakasih untuk apa?"


"Sudah mau menikahi ku, menjadi suamiku, dan ... mencintai aku!" bisik Vania.


Nando menggenggam tangan Vania yang masih mengenakan sarung tangan putih itu.


"Terimakasih juga sudah mencintaiku dengan amat besar dan tulus!' ucap Nando.


Tak lama kemudian Roy datang menghampiri Nando.


"Tuan Nando, bisa ikut saya sebentar? Ada yang mau saya sampaikan ke Tuan, mumpung belum terlambat!" bisik Roy.


"Kau ini Bicara apa? Tidak sopan!" sungut Nando.


"Tapi ini penting Tuan, menyangkut hati Tuan!" tukas Roy.


Nando kemudian berpaling pada Vania.


"Aku ijin sebentar Van, ada urusan dengan Roy!" kata Nando.


"Iya sayang, jangan lama-lama ya!" sahut Vania yang mulai melepaskan genggaman tangannya.


Kemudian Nando berjalan mengikuti Roy.


"Kenapa kita lewat jalan belakang Roy?" tanya Nando.


"Supaya tidak di lihat wartawan Tuan!' sahut Roy.


"Sebenarnya kau mau mengajak aku kemana sih!! Jangan coba-coba mempermainkan aku!" sentak Nando.


Roy lalu menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Tuannya itu.


"Tuan pasti tidak percaya kalau Sandra masih hidup!" ujar Roy. Nando melotot.


"Apa? Sandra masih hidup? Dari mana kau tau?? Cepat katakan!!" Nando mencengkram kerah baju Roy.


"Sabar dulu Tuan, tadi dia dan temannya yang bernama Mirna itu datang, katanya Sandra hanya ingin melihatmu sebentar saja, walau dari kejauhan, sekarang mereka sudah keluar dari hotel ini, mungkin menunggu taksi di pinggir jalan!" jelas Roy.


Tanpa banyak bertanya lagi Nando segera berlari ke arah jalan raya yang malam itu nampak ramai, mencari sosok itu, sosok yang selalu di rindukannya belakangan ini.


Roy mengejar Nando dari belakang. Nando terus mencari, matanya menatap ke setiap sudut jalanan, hingga dia melihat di bawah sebuah lampu merah, dua orang wanita sedang berdiri di sana.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu Nando segera berlari mendapati mereka.


****


__ADS_2