Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Di Rumah Ini


__ADS_3

Nando membuka pintu ruangan perawatan di rumah sakit itu. Vania nampak berbaring lemah dengan selang infus di tangannya.


Sementara Tante Rina duduk di sebelahnya sambil terus memegangi tangannya.


Mereka menoleh ke arah pintu pada saat Nando masuk.


"Eh, menantu ganteng nya Mama sudah datang, Van, ada Nando tuh, pasti kau cepat sehat kalau suamimu ada di sampingmu!" ujar Tante Rina sambil berdiri dari tempatnya.


Nando kemudian melangkah mendekati Vania dan duduk di sampingnya.


"Kau kenapa Vania, sebelumnya kau baik-baik saja!" ucap Nando.


"Kata Dokter kondisinya drop karena terlambat minum obat, asupan makanan juga kurang, jadi badannya lemes deh, Nando kenapa juga di telepon dari siang kok tidak aktif!" ujar Tante Rina.


"Tadi macet Ma, Vania, kenapa kau bisa telat minum obat? Dan kenapa kau juga tidak mau makan? Bukankah kau ingin sehat seperti sedia kala??" tanya Nando.


"Yah, namanya juga istri, pasti kangen lah kalau di tinggal sama suaminya, Oya, Mama tinggal dulu ya keluar, mau cari makanan, pasti Nando lapar kan? Mau makan apa sayang?" tanya Tante Rina sambil mengusap-usap bahu Nando.


"Apa saja Ma!" sahut Nando.


"Oke deh, kalian ngobrol saja ya, Mama keluar dulu!" Tante Rina langsung beranjak keluar dari ruangan itu.


Vania masih diam tanpa bicara apapun, Nando menarik nafas dalam, kemudian menggenggam tangan Vania.


"Nando, kau sudah bertemu dengan Sandra?" tanya Vania lirih.


"Ya ..." singkat Nando.


"Bagaimana kabarnya? Bayinya pasti cantik, iya kan?" tanya Vania lagi.


"Ya, sangat cantik!" sahut Nando.


"Kau bahagia?" Vania menatap Nando, matanya nampak cekung dan sembab, seperti banyak mengeluarkan air mata.


Nando diam saja tanpa menjawab pertanyaan Vania, dia tau saat ini Vania sangat rapuh dan sensitif.


"Kenapa kau diam Do? Kau bahagia kan bertemu dengan Sandra? Selama ini aku sangat tidak menyangka, Kau bisa berbuat serendah itu pada Sandra, aku malu Nando!" ujar Vania.


"Sudahlah Vania, sekarang sudah larut malam, istirahatlah, kau jangan banyak berpikir!" tukas Nando.

__ADS_1


"Seandainya aku tidak sakit, seandainya aku bisa memberimu seorang anak, mungkin aku tidak akan sesedih ini, kau tau kan aku sangat mencintaimu Nando!" Vania mulai terisak kembali.


"Sssst, tidurlah Vania, jangan bicara lagi!" Nando mengusap rambut Vania supaya wanita itu tertidur.


Vania kemudian memejamkan matanya saat Nando mengusap kepalanya, ada rasa nyaman yang dia rasakan.


Setelah Vania tertidur, Nando kemudian menghempaskan tubuh lelahnya di sofa ruangan itu, banyak yang berkecamuk dalam pikirannya.


Seumur hidupnya baru kali ini dia mengalami suatu dilema yang luar biasa.


Padahal Nando sejak dulu tidak pernah mau menjalin hubungan dengan wanita manapun atau siapapun, tapi sekarang malah dia berada di antara dua wanita sekaligus yang sama-sama mencintainya dengan besar dan tulus.


Ceklek!


Pintu ruangan di buka dari luar, Tante Rina masuk dengan membawa tentengan yang berisi makanan.


"Vania sudah tidur ya? Ini makanlah Nando, kau pasti lapar kan, tadi Mama belikan nasi goreng di luar!" kata Tante Rina sambil membuka bungkusan yang di bawanya itu.


"Iya Ma, Trimakasih!' ucap Nando sambil mulai menyantap nasi gorengnya.


"Mudah-mudahan besok Vania sudah di perbolehkan pulang, sejak kau pergi kemarin itu, dia terus mengurung diri di kamar, seolah tanpa mu dia tidak bisa hidup!" ungkap Tante Rina.


****


Pagi datang menjelang, Sandra sudah bangun dari tidurnya, dia membuka tirai jendela kamar itu, hawa segar masuk ke dalam kamarnya.


Setelah selesai menyusui Kia, Sandra lalu mulai memandikan bayi mungilnya itu di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


Kia kelihatan tenang dan anteng sejak berada di rumah ini, entah mengapa, padahal sebelumnya di terus saja menangis saat Papanya hendak pergi meninggalkannya.


Tok ... Tok ... Tok


Terdengar suara pintu kamar itu di ketuk, Sandra langsung beranjak hendak membuka pintu kamarnya itu.


Lika dan Kezia sudah berdiri di depan pintu sambil membawa satu nampan berisi makanan.


"Kau sudah bangun San, ini sarapan untukmu, wanita yang sedang menyusui harus makan makanan yang sehat dan bergizi, untuk kesehatan bayimu!" kata Lika sambil memberikan nampan itu ke arah Sandra.


"Oh, silahkan masuk Ibu, kakak!" ujar Sandra sambil membawa nampan sarapannya.

__ADS_1


Mereka kemudian masuk dan duduk di bangku yang ada di dalam kamar itu.


"Mana bayimu? Sini, Ibu ingin menggendongnya!" tanya Lika.


Setelah menaruh nampan di atas meja, Sandra kemudian mengambil bayinya dan menyerahkannya pada Lika.


"Duh lucunya cucu Ibu, tidak terasa ibu sudah punya dua cucu saja!" ucap Lika sambil memandang lekat ke arah Kia.


"Akhirnya si Thomas punya sepupu juga, tapi sayang, Kau dan Nando bukan suami istri San, kasihan nanti bayimu, dia kan juga butuh status!" timpal Kezia.


Sandra hanya diam mendengar ucapan Kezia, dia juga bingung bagaimana dengan status Kia nanti, walaupun dia tinggal di keluarga Papanya, tetap saja dia dan Nando bukanlah suami istri.


"Nanti malam, Papa mengajak Nando dan keluarga besar berkumpul di sini, kita akan membicarakan serius masalah ini, supaya semuanya dapat keadilan dan tidak ada yang di rugikan!" ucap Lika.


"Hmm, dasar Nando! Aku tidak menyangka dia yang lugu begitu bisa juga membuat anak, padahal dulu boro-boro dia punya pacar, tidak ada satupun teman wanita yang pernah dia ajak ke rumah!' cetus Kezia.


"Hush Kezia! Jaga ucapan mu! Sekarang di sini sudah ada anaknya Nando, siapa namanya ya? Ibu lupa, padahal Nando pernah bilang!" ujar Lika.


"Namanya Kia Bu, Kianandra!" jawab Sandra.


"Kia, kau mirip sekali dengan Papamu Nak, matanya, hidung juga bibirnya, semuanya persis seperti Nando!" kata Lika.


"Sini Bu, berikan padaku, aku juga ingin mengendong keponakan ku ini!" Kezia langsung mengambil Kia dari gendongan Lika.


"Ya sudah kalian mengobrol dulu di sini, Ibu mau siapkan bekal buat adik-adikmu sekolah!" ujar Lika sambil beranjak meninggalkan kamar tamu itu.


"Kau langsung saja makan sarapanmu San, mumpung si Kia ini lagi anteng bersamaku!" kata Kezia.


"Iya Kak!" sahut Sandra yang langsung mengambil sarapannya dan mulai memakannya.


"Kau tau tidak San, walaupun aku jutek, tapi aku ini sangat sayang sama Nando, sejak kecil kami selalu bersama, susah senang sama-sama, seandainya waktu itu Nando jujur padaku saat dia membawamu ke rumahku ..." ungkap Kezia.


"Maafkan aku Kak Kezia, sebelumnya kami memang tidak pernah ada hubungan apapun, Nando datang hanya untuk menyelamatkan dan melindungi aku!" ucap Sandra menunduk.


"Tapi akhirnya, kalian saling jatuh cinta, kalau dari dulu aku tau Nando akan menghamili mu, aku bakal potong itu burungnya Nando!" cetus Kezia.


"Hah!? Jangan kak!" sergah Sandra spontan.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2