Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Susu Hamil


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam ketika Sandra selesai memeriksakan kehamilannya di Dokter kandungan.


Wajah Sandra dan Nando terlihat berseri-seri saat mereka berjalan beriringan menuju ke mobil yang sudah terparkir di parkiran rumah sakit itu.


Roy yang sejak tadi mengobrol dengan Mirna langsung masuk ke dalam mobil lalu segera menyalakan mesin mobilnya.


Merekapun kemudian masuk ke dalam mobil.


"Kau kenapa Tuan? Kenapa wajahmu terlihat senang? Apa kau habis menang lotre??" tanya Roy kepo.


"Ini lebih dari sekedar lotre Roy, bayi itu sangat lucu dan menggemaskan!" jawab Nando.


"Oh my God!! Bisa gawat ini, yang tau ayah bayi itu siapa kan cuma kita berempat!" cetus Roy.


"Sudahlah Roy! Kau jangan banyak bicara! Sekarang kita pergi ke minimarket!! Aku mau membeli susu hamil untuk bayiku!!" ujar Nando.


"Siap Tuan! Yuhuuu ... baby Tuan Nando junior akan segera launching!" seru Roy.


"Tutup mulutmu Roy!! Bisa bahaya kalau kau keceplosan ngomong!" hardik Nando.


Sementara Mirna dan Sandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang pria di depan mereka.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah minimarket yang masih buka.


Nando dengan antusias banyak membeli susu hamil beraneka rasa untuk Sandra, dia memasukan berdus-dus susu hamil itu ke dalam sebuah troli.


"Kau jangan berlebihan begitu Nando, aku tidak mungkin menghabiskan semuanya susu itu!" sergah Sandra.


"Aku ingin bayiku sehat, tidak apa-apa untuk stok!" sahut Nando.


"Kau ini, bagaimana kalau Vania atau Tante Rina melihatnya? Mereka akan berpikir apa??" tanya Sandra.


"Sudahlah Sandra, aku sudah pasrah jika mereka harus tau, aku sudah lelah, lelah ... seolah aku hidup dalam kepalsuan! Aku capek Sandra!" sahut Nando.


Wajahnya nampak frustasi, padahal batu saja dia tersenyum senang.


"Maafkan aku Nando, saat ini kita ikuti saja takdir mau membawa kita kemana, ayo kita pulang, ini sudah malam!" ujar Sandra.


Nando kemudian membayar semua belanjaannya, kemudian mereka kembali naik ke mobil dan kembali pulang ke rumah.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Nando berbunyi, Nando lalu merogoh ponselnya dan mulai mengusap layar ponselnya itu. Vania meneleponnya.


"Halo Van!"


"Sayang, kau di mana? Lama sekali periksa kandungan Sandra, apa tadi mengantri?" tanya Vania terdengar cemas.


"Ini sudah selesai, kita lagi jalan pulang Van!" jawab Nando.


"Baiklah sayang, aku tunggu ya di rumah, hati-hati ya!" sahut Vania sebelum menutup panggilannya.


Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di rumah, Vania dan Tante Rina nampak duduk di ruang keluarga saat mereka masuk ke dalam rumah.


Nando terlihat banyak membawa tentengan belanjaan susu hamil.


"Nando, kau lama sekali! Kenapa kau yang membeli susu! Kan Sandra bisa membeli kebutuhannya sendiri!" tanya Tante Rina.


"Tadi Dokter bilang, dia harus banyak minum susu hamil untuk nutrisi bayi, karena selama ini dia belum pernah minum susu hamil!" sahut Nando.


"Itu kan urusannya, bukan urusanmu, urusanmu adalah Vania, karena Vania adalah istrimu, ingat itu!" cetus Tante Rina.


"Mama, apa salahnya Nando membelikan Sandra susu hamil? Bukankah bayi itu akan jadi anak kita bersama?? Mama jangan seperti itu dong!!" protes Vania.


"Maafkan saya Tante, jangan khawatir, ini tidak akan terulang kembali!" ucap Sandra menunduk.


"Itu bukan salahnya Ma, itu salahku! Aku yang mengajaknya belanja susu hamil, kalau mau marahi, marahi saja aku, bukan Sandra!" bela Nando.


"Nando! Kau sudah berani membela dia?! Lihat Vania Nando! Dia istrimu!! Dia yang lebih berhak di bela dari pada perempuan itu!! Perempuan yang bahkan tidak jelas!!" sungut Tante Rina.


"Cukup!! Kenapa kalian jadi bertengkar?? Hanya karena masalah susu hamil? Kenapa juga Mama terlihat tidak menyukai Sandra, kenapa Ma??" tanya Vania.


Mereka semua menoleh ke arah Vania.


Nando langsung mendekati Vania dan mengelus bahunya untuk menenangkannya.


"Vania, sudah malam, kita istirahat ya!" ucap Nando sambil mengangkat Vania dalam gendongannya, mereka kemudian langsung naik keatas menuju ke kamar mereka.


Tante Rina menatap tajam ke arah Sandra.


"Taruh Barang-barang belanjaan itu ke kamarmu! Mulai besok, kau tinggal saja di butik lagi seperti dulu, aku tidak mau kau satu atap dengan Nando, Nando itu hanya milik Vania putriku, kau paham??" tanya Tante Rina.

__ADS_1


"Paham Tante!" jawab Sandra.


"Ajak sekalian temanmu si Mirna itu, kerjaannya tiap hari hanya berpacaran dengan si Roy! Dasar wanita penggoda!!" cetus Tante Rina sambil berlalu dari hadapan Sandra.


Sandra kemudian mengambil belanjaan yang di belikan Nando tadi, kemudian membawanya ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Sandra duduk di tepi tempat tidurnya itu, sambil mulai berpikir sesuatu.


"Anakku, sepertinya kita harus menjauh dari Papamu, kasihan keluarga papamu hanya karena kehadiran Mama, kamu yang kuat ya Nak, Mama sayang padamu, Papa juga, tuh dia membelikanmu banyak sekali susu, supaya kamu sehat sayang!" gumam Sandra sambil kembali menitikkan air matanya.


Ceklek!


Pintu kamar di buka dari luar, Mirna masuk dan tercengang melihat Sandra yang duduk sambil menangis.


"San, apa yang terjadi padamu?" tanya Mirna sambil duduk di sebelah Sandra.


"Mirna, sekarang tekad ku sudah bulat, besok subuh kita pergi dari rumah ini!" jawab Sandra.


"Apa? Kau serius San? Apa kau sudah siap berpisah jauh dengan Ayah anakmu itu??" tanya Mirna.


"Aku siap Mir, mungkin itu lebih baik, apakah kau mau ikut denganku??" tanya Sandra.


"Aku ikut San, sejak dulu kita susah dan senang selalu sama-sama!" sahut Mirna.


"Besok pagi kita ke stasiun, aku ingin pergi sejauh mungkin dari sini Mir!" kata Sandra.


"Stasiun? Kita mau pergi kemana San?" tanya Mirna.


"Ke suatu tempat yang tidak seorangpun mengenal kita sebagai wanita malam!" jawab Sandra.


"Tapi ..." Mirna mengehentikan ucapannya, tiba-tiba dia ingat Roy yang baru menjalin hubungan serius dengannya.


"Kalau kau berat, aku tidak masalah pergi sendiri!" ujar Sandra.


"Tidak San, aku tetap ikut denganmu, aku bisa berhubungan dengan Roy jarak jauh, kau tenang saja!" sahut Mirna.


"Baiklah, sekarang kau siapkan barang-barangmu, aku juga, besok subuh aku akan pesan taksi online!" ucap Sandra sambil bergegas membereskan barang-barangnya.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2