Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Belajar Mandiri


__ADS_3

Malam itu Sandra nampak sibuk menyelesaikan jahitan beberapa pakaiannya. Dia kembali pada aktifitas lamanya, dengan sebuah mesin jahit mini yang dia bawa, membuat beberapa pakaian wanita, kemudian dia akan menjual nya secara online.


Ucapan Tante Rina tadi membuat pikirannya terusik, Sandra tidak mau menumpang begitu saja di rumah ini.


Walaupun dia merasa dirinya begitu tidak berharga dan kurang percaya diri, tapi setidaknya dia masih memiliki sedikit harga diri.


Sandra tidak mau dirinya selalu di hina dan di remehkan orang lain, hanya karena dia bekas seorang wanita malam.


Ceklek!


Suara pintu kamarnya di buka dari luar, Mirna masuk dengan wajah yang berbinar cerah, meskipun malam sudah larut.


"San, kau belum tidur? Kau tau tidak, batu saja Roy mengungkapkan perasaannya padaku, aku senang sekali San, baru kali ini ada laki-laki yang benar tulus padaku, tanpa melihat latar belakangku!" celoteh Mirna yang langsung duduk di samping Sandra.


Sandra menatap tajam ke arah Mirna.


"Jadi dari sore tadi kau mengobrol dengan Roy?? Pantas saja Tante Rina menegurku, mengatakan aku dan kau adalah wanita penggoda!" cetus Sandra.


"Hei, kau kenapa San? Kenapa tiba-tiba kau jadi berubah seperti ini?" tanya Mirna heran.


"Mirna, maafkan aku, bukannya aku tidak suka kau dekat dengan Roy, tapi Tante Rina selalu berpikiran negatif tentang kita, aku harap kau bisa sedikit jaga jarak dengan Roy, aku tidak mau kau di anggapnya sebagai wanita murahan atau wanita penggoda!" ucap Sandra.


"Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu San?" tanya Mirna.


"Tante Rina sudah tau, kalau bayi yang aku kandung ini adalah anak Nando!" jawab Sandra menunduk.


Dia sudah tak dapat menyembunyikan lagi perasaannya pada Mirna.


"Lalu, apa tanggapan Tante Rina?" tanya Mirna yang mulai berwajah serius.


"Tante Rina memintaku untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupan keluarga Nando, saat bayi ini lahir!" jawab Sandra.


Tersirat kesedihan yang dalam dari wajah Sandra.


"Mirna, mereka menginginkan bayiku, tapi tidak diriku, lalu aku harus bagaimana?" Sandra mulai meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Sandra ... apa tidak sebaiknya, kita pergi saja dari rumah ini, toh aku juga bisa bertemu dengan Roy di manapun, kami sudah bertukar nomor ponsel!" usul Mirna.


"Aku juga sangat ingin pergi sejauh mungkin, tapi ... Saat ini Vania sedang sakit, apa aku tega pergi begitu saja darinya, apalagi aku sudah janji padanya, akan menyerahkan bayiku padanya!" ungkap Sandra.


"Kau bodoh San! Vania bisa mendapatkan bayi dari mana saja, kau berat meninggalkan tempat ini karena kau tidak ingin jauh dari ayah bayimu kan, iya kan??" tanya Mirna. Sandra semakin terpojok.


"Bu-bukan seperti itu ..." tukas Sandra.


"Kau tak usah menyangkalnya lagi, aku cukup lama mengenalmu, aku maklum kalau kau masih sangat mencintai Ayah dari bayimu San, tapi ... kau akan makin tersiksa dan menderita!" ucap Mirna.


Sandra kemudian langsung memeluk Mirna, menumpahkan segenap isi hatinya pada Mirna, menangis dalam pelukan teman seperjuangannya itu, ada kesedihan yang dalam dari hatinya.


"Sakit rasanya Mir, mencintai orang yang tidak mungkin di miliki! Entah kenapa ada rasa damai dan bahagia saat aku berada dekat dengan Nando, tapi itu salah, itu dosa, karena Nando sudah jadi milik orang lain!" Isak Sandra.


Mirna menepuk-nepuk lembut punggung sahabatnya itu, seolah dia juga turut merasakan apa yang Sandra rasakan.


****


Sementara itu di rumah sakit. Nando masih nampak duduk di samping ranjang Vania, dia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya, setiap kali dia beranjak, Vania pasti akan bangun dan mencarinya.


"Halo Roy!"


"Ada apa Tuan? Lagi-lagi kau mengganggu tidurku!" sungut Roy.


"Tolong belikan aku vitamin atau suplemen makanan yang bagus! Kepalaku mulai pusing Roy!" titah Nando.


"Sekarang Tuan? tanya Roy.


"Tahun depan! Ya sekarang lah!!" sahut Nando kesal.


"Jangan marah-marah Tuan, nanti cepet tua lho, tuh jidat makin keriput kebanyakan mikir!" cetus Roy.


"Jangan mengguruiku! Cepat kau cari apotik 24 jam! Belikan pesanan ku!" sengit Nando.


"Iya iya, sabar dikit kek, kau tidak tau saja Tuan, hati saya sedang berbunga-bunga, saya baru nembak si Mirna!" ujar Roy.

__ADS_1


"Apa?? Kau tembak Mirna? Berani sekali kau menembak dia tanpa seijinku!!" seru Nando.


"Lah ngapain ijin Tuan? Itu kan urusan pribadi saya, bilang saja Tuan itu iri dengan saya kan? Karena dulu Tuan Nando susah nembak Sandra!!" ledek Roy.


"Tutup mulutmu Roy! Pergi sekarang juga ke apotik, atau kau ku pecat sekarang juga!!" berang Nando yang langsung menutup ponselnya.


"Aduuh!! Sakiiit!! Sakit sekali perutku!!" Tiba-tiba terdengar suara rintihan Vania.


Nando yang terkejut langsung mendekati Vania.


"Vania, ada apa? Apa yang kau rasakan?" tanya Nando cemas.


"Perutku Nando! Perutku sakit sekali, berkali-kali lipat dari nyeri datang bulan!!" jawab Vania sambil meringis menahan sakit.


"Tenang Van, kau tunggu sebentar! Aku akan panggilkan Dokter!" ujar Nando sambil setengah berlari keluar dari ruangan itu.


Tak lama kemudian, seorang Dokter dan perawat masuk ke ruangan Vania.


Nando kembali duduk di samping Vania sambil menggenggam tangannya.


"Suster! Berikan suntikan obat pereda nyeri!" titah Dokter.


Perawat itu langsung menyuntikan obat pereda nyeri ke dalam infusan Vania.


"Setelah melalui tes darah dan beberapa observasi, diagnosa kami adalah kanker rahim yang sudah mulai menyebar hingga menimbulkan rasa sakit, menurut usia penyakitnya, sebenarnya sudah sejak lama Vania memiliki kista di rahimnya, namun karena selalu di abaikan, akhirnya berkembang menjadi kanker, seandainya dulu Vania operasi kista, mungkin tidak akan terjadi seperti sekarang ini!" jelas Dokter.


"Tapi setelah operasi pengangkatan rahim, Vania akan sembuh kan Dok?" tanya Nando.


"Kesembuhan itu hanya Tuhan yang menentukan, tugas kami hanyalah berupaya semaksimal mungkin, Oya, besok sebelum operasi Vania harus puasa pagi, jangan makan apapun, mohon di perhatikan!" jawab Dokter.


"Baik Dokter!"


"Kalau begitu saya tinggal dulu, Vania sudah di beri sedikit obat penenang, jadi dia akan tidur selama beberapa jam ke depan, anda juga harus beristirahat Pak Nando, perhatikan juga kesehatanmu!" ujar Dokter.


"Baik Dokter, terimakasih!" ucap Nando sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


****


__ADS_2