Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Restu Vania


__ADS_3

Vania dan Tante Rina pulang ke rumah ketika hari menjelang malam.


Nando nampak duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu mereka.


Melihat kedatangan Vania dan Tante Rina Nando bergegas menghampiri mereka.


"Kalian dari mana? Van, kau dari mana? Memangnya kau sudah bisa jalan jauh?" tanya Nando.


Vania menoleh ke arah Nando.


"Aku mau jalan kemanapun, apa kau masih perduli terhadapku?" tanya Vania balik. Dia lalu segera berjalan menuju ke kamarnya.


Nando termangu menatap Vania yang sikapnya berbeda dari biasanya.


"Kenapa kau bengong Do? Ayo kejar dong Vania istrimu!" ujar Tante Rina.


Nando pun segera melangkah menuju ke kamarnya.


Vania nampak sedang membuka sepatunya sambil menaruh banyak barang belanjaannya di atas tempat tidur.


"Kau dari mana Vania? Jalan-Jalan?!" tanya Nando.


"Kalau aku jalan-jalan keluar, belanja dan ke salon sepuasnya, memang apa perdulimu??" tukas Vania.


"Kenapa sikapmu jadi aneh begini Van?" tanya Nando heran.


"Kau mau aku seperti apa? Seperti Vania yang selalu menangis menghiba-hiba di hadapanmu? Atau Vania yang selalu merengek-rengek minta belas kasihanmu??" Vania menatap tajam ke arah Nando.


Nando hanya diam saja mendengar ucapan Vania, hati wanita di hadapannya sedang tidak stabil.


"Kalau begitu kau istirahatlah Vania!" ucap Nando akhirnya sambil mulai merebahkan tubuhnya.


Vania mulai masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, setelah itu dia membasuh wajahnya dan membereskan barang belanjaannya.


Setelah semuanya selesai, Vania kemudian berbaring di tempat tidurnya membelakangi Nando.


Nando tetap diam tidak berani memulai pembicaraan, dia takut Vania akan sensitif dan kembali tersinggung.


"Nando, kalau kau mau menikahi Sandra kau menikah saja, aku mengijinkanmu!" ucap Vania sambil tetap membelakangi Nando.


"Apa? Kau serius Van? Kau tidak marah kalau Sandra menjadi madu mu?" tanya Nando tak percaya.

__ADS_1


"Aku marah atau tidak, suka atau tidak, tetap saja kau akan menikahi Sandra bukan? Jadi untuk apa kau bertanya lagi!" sahut Vania.


"Terimakasih Van, terimakasih!" ucap Nando senang.


Kemudian terdengar suara isakan Vania, Nando menyentuh bahu Vania.


"Van, maafkan aku, maafkan aku Van!" ucap Nando.


"Untuk apa kau minta maaf?!" tanya Vania dengan suara bergetar.


"Karena ... aku telah menyakiti hatimu, maafkan aku Vania!" ucap Nando lagi.


Dalam hati Nando dia sangat merasa bersalah, dia juga tidak ingin terjebak dalam situasi ini, dalam dilema yang membuatnya selalu tidak damai seumur hidupnya.


"Nando adalah impianku, lebih baik aku di madu dari pada aku kehilangan impianku, apalagi sekarang aku sakit, paling umurku juga tidak lama lagi, aku mau mati di dekat orang yang aku cintai Nando!" ucap Vania sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Van, jangan bilang begitu, kau pasti akan sembuh dan sehat seperti sedia kala, kau jangan putus asa!" hibur Nando.


"Putus asa? Aku sembuh atau tidak tetap saja kau tidak akan pernah mencintaiku kan?? Sudahlah Nando, lebih baik kau tidur, dan persiapkan dirimu untuk memiliki dua istri!" ujar Vania sambil menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya.


****


Pagi itu Nando nampak sudah rapi, dia berniat akan berangkat ke kantornya setelah sekian lama dia off karena banyak masalah soal cinta.


Nando sebenarnya adalah pengusaha muda yang cukup sukses, tidak usah meneruskan kuliah juga tidak masalah, namun dia selalu di teror oleh dosennya untuk segera menyelesaikan skripsinya yang tertunda sekian lama.


Sejak kecil Nando memang tidak terlalu pintar di bidang akademik, namun jiwa pengusahanya terus berkembang hingga mampu untuk mengembangkan perusahaan Ayahnya yang di wariskan kepadanya.


"Kalau kau masih kesulitan untuk membuat skripsi, aku akan membantumu Nando!" tawar Vania saat mereka sarapan bersama di meja makan.


"Terimakasih Van, aku tak ingin merepotkanmu!" jawab Nando sungkan.


Mereka nampak seperti dua orang teman atau sahabat, dari cara bicara atau sikap, sama sekali tidak mencerminkan suami istri.


"Aku mampu menyelesaikan skripsimu dalam satu Minggu Do, jadi kau tenang saja, setelah itu aku jamin kau pasti akan lulus!" ujar Vania.


Nando tersenyum senang, sepertinya Vania sudah legowo atas pembicaraan mereka semalam, padahal sebelumnya Vania kelihatan begitu sedih dan terluka.


Setelah selesai sarapan, Nando kemudian langsung berangkat ke kantornya di temani oleh Roy, asisten pribadinya.


"Minggu depan saya boleh ijin ya Tuan?" tanya Roy pada saat mengendarai mobil menuju ke kantor.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" tanya Nando.


"Saya mau ke Surabaya Tuan, mau ketemu sama neng Mirna, yang tabungan saya sudah cukup untuk melamar Mirna Tuan!" jawab Nando.


"Hebat kau Roy!" gumam Nando.


"Ya hebat dong, namanya juga cinta harus di perjuangkan!" sahut Roy.


"Lalu, siapa yang akan menggantikan mu untuk mengawalku?!" tanya Nando.


"Ya elah Tuan, sudah kayak pangeran saja di kawal segala, Tuan kan sudah besar, bisa kan pergi kemana-mana sendirian!" sahut Roy.


"Jadi apa gunanya aku membayar gajimu selama ini!?" cetus Nando.


"Yah kan cuma sebentar Tuan, paling lama satu Minggu lah, bilang saja Tuan iri kan? Karena saya hanya mencintai neng Mirna, begitu juga sebaliknya, sedangkan Tuan, masih muter-muter saja kayak gangsing!" seloroh Roy.


"Sialan kau Roy!! Berani meledek majikan mu!!" hardik Nando.


Ponsel Nando berdering, Nando lalu mulai mengusap video call dari Lika ibunya.


"Halo Bu ..." sapa Nando sambil melambaikan tangannya.


"Halo Papa Nando, nih Kia katanya mau lihat Papa, tuh Papa Kia, bilang halo Pala!" ujar Lika sambil menyorot ke arah Kia yang berbaring sambil mengerutkan dahi menatap Nando.


"Halo sayang, anak Papa yang cantik, Papa lagi ke kantor nih, cari uang buat beli susu Kia, Kia jangan nakal ya, tunggu Papa, nanti pulang dari kantor Papa langsung ketemu Kia deh!" ucap Nando panjang lebar.


"Nando, nanti hati Sabtu pas acara pernikahanmu dengan Sandra, Papa hanya mengundang beberapa orang saja, tidak apa kan? Oya, kau sudah bilang belum sama Vania?" tanya Lika.


"Sudah Bu!"


"Lalu bagaimana? Vania setuju kau menikah lagi!"


"Iya Bu, Vania sudah merestui aku!" sahut Nando.


"Ah, syukurlah, Nanti kau harus adil ya Do, jangan berat sebelah, ini tantangan buatmu!" kata Lika.


"Siap Bu, aku akan adil memberikan jatah bulanan untuk Sandra dan Vania!" ucap Nando.


"Aduh, maksudnya bukan adil dalam hal itu Nando!" cetus Lika sambil menepuk jidatnya sendiri.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2