Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Sandra Mulai Sadar


__ADS_3

Sudah hampir lima hari Sandra menjalani perawatan di rumah sakit, namun kondisi Sandra tetap seperti semula, tidak sadar alias koma.


Selama itu pula Nando selalu berada di sampingnya, melihat sikap Nando terhadap Sandra, Ricky dan Lika baru sadar tenyata mereka dahulu pernah berbuat kesalahan pada Nando, putra mereka itu.


"Aku menyesal Pa, seandainya dulu aku tidak meminta Nando untuk menikahi Vania, tentu Nando tidak akan menderita seperti sekarang ini!" ucap Lika sedih saat mereka melihat dari pintu kaca, Nando yang dengan telaten menyeka tubuh Sandra.


"Nasi sudah menjadi bubur sayang, sudah terlambat jika kita menyesalinya sekarang, saat ini yang bisa kita lakukan hanya memberikan support untuk Nando, bukan yang lain!" balas Ricky.


"Iya Pa, menyesal pun sudah tak ada gunanya lagi, biarkan Nando terus menjaga Sandra, bagian kita adalah menjaga Kia, cucu kita!" ucap Lika.


Tak lama kemudian, Roy muncul lalu berjalan ke arah Lika dan Ricky yang masih berdiri melihat Nando dari balik pintu.


"Roy? Kau ada di sini? Bukankah kau ijin akan ke Surabaya untuk melamar pacarmu itu?" tanya Ricky.


"Tidak jadi Tuan besar, pacar saya yang akan datang ke Jakarta, sekalian menjenguk Mbak Sandra!" jawab Roy.


Ricky dan Lika hanya menganggukan kepala mereka.


"Saya boleh di ijinkan masuk ya Tuan? Saya mau menghibur Tuan Nando, biasanya dia selalu senang kalau saya bercanda dengannya!" pinta Roy.


"Silahkan Roy!" sahut Ricky.


Roy kemudian masuk ke dalam ruangan itu, Nando tetap tak bergeming, dia masih menatap lekat pada wajah istrinya itu.


"Tuan, kangen saya tidak?" tanya Roy yang beringsut mendekati Nando.


Nando tidak menjawab pertanyaan konyol Roy.


"Tuan ini sombong sekali, saya tau dunia cuma milik anda berdua dengan istri anda ini, saya hanya ngontrak, tapi perhatikan juga dong yang ngontrak, tanpa ada yang ngontrak Tuan tak akan dapat uang!" celoteh Roy.


"Tutup mulutmu Roy! Aku sedang tidak ingin bercanda!'' cetus Nando.


"Siapa bilang saya bercanda Tuan, apa Tuan tidak menanyakan saya mengapa tidak jadi melamar neng Mirna?" tanya Roy.


"Itu bukan urusanku!" sahut Nando.


"Ya memang bukan urusan Tuan, kurang kerjaan sekali Tuan mengurusi urusan saya, saya cuma mau kasih tau, gara-gara Tuan saya jadi batal bertunangan deh!" ujar Roy.


"Kenapa kau menyalahkan aku??" tanya Nando.


"Coba saja Tuan tidak di sini, dan Mbak Sandra tidak kecelakaan, saat ini saya sedang menikmati saat-saat indah dengan neng Mirna, tapi sayang ... neng Mirna datang ke Jakarta untuk menengok Mbak Sandra, dia lebih mementingkan teman dari pada saya pacarnya!" sungut Roy.

__ADS_1


Nando tidak menjawab celotehan Roy, saat ini dunianya adalah Sandra dan Sandra, tidak perduli dengan yang lain.


Tiba-tiba jari jemari Sandra mulai bergerak, Nando terkesima melihatnya.


"Roy!! Sandra sadar Roy! Dia mulai bergerak!!" seru Nando histeris.


"Tuan norak amat sih, seperti tidak pernah melihat tangan yang bergerak saja!" cetus Roy.


Nando segera bangkit dari posisi duduknya dan berlari keluar untuk memanggil Dokter.


Ricky dan Lika yang melihatnya terkejut.


"Papa! Ibu! Sandra sudah sadar! Tangannya sudah bergerak!!" seru Nando senang.


"Oya? Benarkah?" tanya Ricky.


"Iya Pa! Aku mau panggilkan Dokter! Dokter! Dokter! Istriku sudah sadar Dokter!!" seru Nando.


Sontak semua perawat dan Dokter keluar mendengar teriakan Nando.


"Ada apa Pak Nando teriak-teriak??" tanya Seorang suster.


"Istriku sudah sadar Sus! Ayo lihat, Dokter!! Kenapa kalian diam saja! Ayo lihat, periksa istriku!!" teriak Nando.


Dokter lalu memeriksa kondisi Sandra, mulai dari detak jantung, bola mata, dan kondisi tubuh yang lainnya.


Sandra yang masih terbaring nampak sedikit mengerjapkan matanya.


"Kondisinya stabil dan ada kemajuan, syarafnya mulai merespon, ini pertanda baik!" kata Dokter.


"Benarkah Dok! Sandra, buka matamu San, aku dan Kia merindukanmu!" seru Nando.


"Pak Nando tenang dulu, jangan terburu-buru, segala sesuatu kan ada prosesnya, pak Nando harus sabar ya!" ujar Dokter.


"Iya Dokter, saya sangat bahagia akhirnya istri saya sadar juga!" ujar Nando.


Wajah Nando terlihat berbinar, padahal sebelumnya terlihat sangat mendung.


"Tuan harus berterimakasih sama saya dong, gara-gara saya jenguk Mbak Sandra, dia langsung sadar!" cetus Roy tiba-tiba.


"Kau tenang saja Roy, aku akan memberimu gaji dua kali lipat dan aku ijinkan kau melamar pacarmu itu!" sahut Nando senang.

__ADS_1


"Assyyiiikk!! Prikitiwww! Gitu dong Tuan!" ujar Roy tak kalah senang.


Perlahan Sandra mulai membuka matanya, samar-samar dia melihat wajah Nando tepat berada di depan wajahnya.


"Ini ... Nando suamiku?" tanya Sandra lirih.


Nando menangis menahan haru, di kecupnya jemari Sandra berkali-kali dengan berurai air mata.


"Iya sayang, ini suami mu, yang selalu berada tepat di sampingmu!" jawab Nando.


Sesaat wajah semua orang yang ada di ruangan itu berubah menjadi cerah.


****


Pagi itu Vania membereskan pakaiannya dan memasukannya ke dalam koper, pikirannya sudah mulai tenang dan jernih, setelah beberapa hari lamanya Adi terus menghiburnya dan memberikan motivasi kepadanya.


"Kau mau kemana Vania??" tanya Adi saat Vania keluar dari kamar dengan membawa kopernya.


"Aku mau cari tempat kos, setelah itu aku mau mencari pekerjaan, aku tidak mungkin tinggal lebih lama lagi di rumahmu Adi!" jawab Vania.


"Dari pada kau mencari tempat kos, kau bisa tinggal di kamar itu, anggap saja kalau kau kos di rumahku!" tawar Adi.


"Tidak Adi, kita tidak boleh tinggal dalam satu atap, walau bagaimana, aku ini wanita yang masih bersuami!" tukas Vania.


"Ya, aku paham, tapi bukankah kau akan menggugat cerai suamimu? Aku ini pengacara, aku bisa mengurus semuanya, lagi pula aku tidak rela melihatmu terus menderita seperti ini!" ujar Adi.


"Terimakasih Adi, kau sudah cukup banyak membantuku, sekarang pikiranku sudah agak tenang, biarkan aku pergi!" sahut Vania.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi Vania, aku mohon, jangan tinggalkan rumah ini!" pinta Adi.


"Mengapa kau melarang ku pergi?" tanya Vania sambil menatap ke arah Adi.


"Karena ... aku mulai jatuh cinta padamu!" ucap Adi.


Seketika lidah Vania terasa Kelu, tidak bisa dia berkata-kata lagi, dia tidak menyangka, Adi akan secepat ini mengungkapkan perasaannya, Vania sungguh tidak siap.


"Maafkan aku Adi, aku bukan wanita yang layak untukmu, selain tidak perawan lagi, rahimku sudah di angkat, aku tidak akan bisa punya anak, dan kau akan sangat menyesal nantinya, lagipula kau juga tau, aku sangat mencintai Nando suamiku!" ucap Vania.


"Vania, cinta yang sesungguhnya adalah cinta tanpa syarat, aku bisa menerima segala kekuranganmu, aku hanya butuh kau percaya padaku, ijinkan aku untuk mencoba belajar membahagiakanmu!" ucap Adi sambil menggenggam hangat tangan Vania.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2