
Sandra tertunduk saat setiap orang yang ada di ruang itu menatap lekat ke arah perutnya.
Apalagi di ruangan itu sudah ada Tante Rina, Nando dan kedua orang tuanya.
Dalam hati Sandra menyesal kenapa dia ikut Roy ke rumah sakit.
"Sandra, kenapa kau datang ke sini? Kan Tante sudah bilang agar kau dan Mirna tinggal di rumah!" tanya Tante Rina.
"Maaf Tante, aku hanya ingin menengok Vania sebentar!" jawab Sandra menunduk.
"Jeng Rina, ini kan sahabatnya Vania yang waktu di acara lamaran itu kan, sudah lama tidak melihatnya, kelihatannya sekarang sedang hamil!" tanya Lika.
Sandra semakin salah tingkah, seharusnya dia tidak usah masuk ke dalam ruangan, kalau tau di dalam ruangan ini sudah banyak orang, dia risih jika di tanya-tanya.
"Yah, dia hamil, tapi sayang, dia di tinggalkan begitu saja oleh kekasihnya!" jawab Tante Rina.
"Ya ampun kasihan sekali, biadab sekali laki-laki itu! Sudah berbuat tidak mau bertanggung jawab!" ujar Lika.
"Kalau aku bertemu dengan laki-laki itu, akan ku hajar dia!! Berani menginjak-injak kehormatan seorang wanita!!" dengus Ricky.
Nando hanya menunduk tanpa bicara apapun, dadanya bergemuruh, dia merasa sangat tersentuh dengan ucapan orang tuanya itu.
Nando merasa dirinya begitu berdosa, apa yang sudah di perbuatanya dulu sangat membuatnya tidak tenang, kesalahan sekali dalam satu malam yang berakibat fatal.
Tiba-tiba Nando beranjak dari sisi Vania, dia langsung pergi keluar dari kamar itu.
Vania yang mulai mengerjapkan matanya tersenyum melihat kedatangan Sandra dan Mirna.
"Nando kemana?" tanya Vania saat di sadarinya Nando tidak ada di sampingnya.
"Nando di luar sayang, mungkin sedikit mencari udara segar!" jawab Tante Rina.
"Kau jangan khawatir Vania, di sini semua orang menyayangimu, kau pasti kuat, kau pasti bisa melewati ini semua!" tambah Lika.
"Sandra, mendekatlah, aku mau bicara padamu!" pinta Vania.
Perlahan Sandra beringsut mendekati Sandra. Kemudian Sandra menggenggam tangan Vania.
__ADS_1
"San, walaupun dalam hati aku sedih, tapi aku senang banyak orang yang menyayangiku, kau sudah aku anggap sebagai saudaraku San!" ucap Vania.
"Iya Vania, terimakasih!" jawab Sandra.
"Sandra, aku ingin bayi yang ada dalam kandunganmu memiliki keluarga yang juga menyayanginya, bolehkah aku menganggap bayimu adalah bayiku? Kita akan merawatnya bersama-sama Sandra, aku sangat ingin sekali menjadi seorang Ibu!" ucap Vania.
Sandra terhenyak, tidak pernah menyangka sebelumnya kalau Vania memiliki permintaan seperti itu.
Seandainya Vania tau siapa ayah dari bayi ini, entah apa yang terjadi, Sandra tidak berani untuk membayangkannya.
"Bagaimana Sandra? Kenapa kau diam? Kau tenang saja, kau tetap memiliki bayimu, tapi paling tidak, bayimu akan memiliki aku dan Nando, jadi bayimu memiliki Ayah, dan punya status yang jelas!" tanya Vania membuyarkan lamunan Sandra.
"Kau beruntung Sandra, masih ada orang yang memperhatikanmu dan bayimu, terima saja permohonan Vania, kau tak rugi sama sekali, semua itu untuk kebaikan bayimu juga!" ujar Lika.
"Kau tak usah khawatir mengenai segala biaya dan yang lainnya, semuanya aku yang tanggung!" tambah Ricky.
Sandra semakin terpojok, masalahnya mereka semua tidak tau bahwa Nando adalah Ayah biologis dari bayinya itu, dan dia juga tidak mungkin membeberkan rahasianya itu.
"Bagaimana Sandra? Apakah permohonan ku begitu berat bagimu? Kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan, kau belum menikah, masa depanmu masih panjang, jangan sampai bayi itu menghambat mu, lagi pula, aku sangat ingin sekali memiliki bayi, aku yakin Nando pasti akan setuju!" ungkap Vania.
"I-Iya Vania, boleh saja, bayi ini kau anggap anakmu sendiri!" ucap Sandra akhirnya dengan perasaan yang tak menentu.
"Syukurlah Jeng Rina, kau akan memiliki cucu, semuanya itu adalah demi kebahagiaan Vania!" ucap Lika.
Tante Rina hanya tersenyum menanggapi ucapan Lika, dalam hati sebenarnya Tante Rina mencurigai sesuatu, namun dia berusaha untuk menutupinya.
Tak lama kemudian Sandra dan Mirna pamit keluar dari ruangan itu, sesampainya di luar Sandra menarik nafas panjang.
"Kau tidak salah San? Kau mau begitu saja menyerahkan bayimu pada mereka??" tanya Mirna.
"Mungkin itu jalan terbaik Mir, supaya bayiku ini bisa selalu dekat dengan Papanya!" jawab Sandra.
"Tapi bukan begitu caranya San, kau pasti akan menderita terus, lalu kapan kau akan bahagia??" tanya Mirna.
"Kebahagiaanku adalah melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia, itu sudah cukup Mir, untuk wanita seperti aku, mau bermimpi apa lagi??" sahut Sandra.
"Terserah kamu deh San, aku tidak tau lagi mau bagaimana, aku hanya berharap akan ada setitik cahaya yang akan memberikanmu kebahagiaan!" gumam Mirna.
__ADS_1
Mereka berjalan menyusuri lorong panjang itu hendak berniat kembali pulang ke rumah.
Namun tiba-tiba, Sandra melihat di bangku taman rumah sakit, Nando sedang duduk dengan wajah sedih dan frustasi.
Sekilas dia melirik ke arah Mirna, Mirna menganggukan kepalanya, lalu Sandra perlahan mendekati Nando.
"Nando, Vania menginginkan bayiku untuk dia adopsi, bagaimana menurutmu?" tanya Sandra.
Nando mendongak ke arah Sandra, matanya terlihat merah seperti habis menangis.
"Kau tau San, aku bagai makan buah simalakama, kalau waktu boleh di putar kembali, sudah sejak dulu aku akan membawa pergi dirimu, namun karena kepatuhan dan takdir yang berbeda, aku malah terjebak dalam situasi ini!" ungkap Nando.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Semuanya sudah terjadi!" sahut Sandra.
"Aku yakin seratus persen, bayi yang kau kandung itu adalah milikku!! Aku memang Papa yang bejat dan tak bertanggung jawab!! Aku jahat!!" seru Nando.
"Kau tidak salah, setelah kau menikahi Vania, kau baru tau kan ..."
"Kenapa tidak sejak awal kau bilang padaku kalau kau hamil Sandra?? Kenapa??" tanya Nando.
"Tadinya aku akan pergi jauh dari kehidupanmu, merawat anakku ini sendirian, tapi takdir berkata lain, aku kembali di pertemukan dengan kalian di rumah sakit itu, pada saat aku akan kontrol kehamilanku, ini bukan salah siapa-siapa, seandainya kita tidak pernah bertemu ..." ungkap Sandra.
"Sandra ... kenapa begitu sulit, sekarang Vania sakit, aku tidak ingin lebih membuatnya sakit, aku, kamu dan Vania sama-sama menderita!" kata Nando dengan suara yang mulai bergetar.
"Nando!!" tiba-tiba terdengar suara panggilan dari Tante Rina.
Nando menoleh dan buru-buru mengusap wajahnya.
Sandra tak kalah terkejut, dia mundur dan menjauhi Nando.
Tante Rina berjalan mendekat ke arah mereka.
"Nando, kau kembalilah ke ruangan, Vania mencarimu!" ujar Tante Rina.
"Sandra, kau dan Mirna pulang sekarang juga ke rumah!" titah Tante Rina.
"Baik Tante!" sahut Sandra yang langsung berjalan menggandeng Mirna meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
****