
Sandra nyaris tidak percaya pada apa yang di lihatnya. Nando, laki-laki yang amat di rindukannya kini berdiri di hadapannya.
Senyum manisnya yang begitu menawan membuat Sandra tak berkedip menatapnya.
Rasanya ingin sekali dia menghambur dalam pelukan pria di hadapannya itu, namun seketika itu Sandra sadar, dia tidak memiliki hubungan apapun pada Nando, hanya sekedar Papa dari anak yang di lahirkannya.
"Bolehkah aku menggendong Kia anakku?" tanya Nando membuyarkan lamunan Sandra.
"Eh, tentu saja, silahkan!" Sandra segera menyodorkan Kia dalam gendongan Nando, ada perasaan menghangat diantara mereka.
"Ah, aku tidak terbiasa menggendong bayi, takut Kia tidak nyaman, pernah sih dulu, mengendong si Thomas keponakanku, tidak di sangka, sekarang aku malah punya anak sendiri!" ucap Nando dengan wajah yang berbinar.
Tak henti-hentinya Nando memandang wajah putrinya itu, senyum kebahagiaan tersungging dari bibirnya yang kemerahan.
"Wah, aku sampai lupa mengajak kalian masuk, ayo masuklah, kalian mau minum apa?" ajak Sandra yang mulai sadar akan lamunannya.
Roy yang sedari tadi hanya berdiri langsung masuk dan duduk di ruang tamu itu, Nando juga menyusulnya sambil menggendong Kia.
Sandra beranjak ke dapur, hendak membuatkan minuman hangat untuk Nando dan Roy.
"Tuan Nando, kepala saya pusing, sepertinya saya harus keluar beli rokok! Ijin ya Tuan, lagian juga Neng Mirna masih kerja belum pulang!" ujar Roy.
"Awas kau jangan dekat-dekat anakku! Aku tidak mau ada sedikit pun asap rokok yang mengenainya!!" cetus Nando.
"Tenang aja sih Tuan, saya juga bakal jauh-jauh juga kali, segitunya mentang-mentang punya anak!" sungut Roy.
Kemudian Roy segera keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah mobil yang terparkir di halaman rumah itu.
"Lho, Roy kemana?" tanya Sandra yang baru keluar dari dapur sambil membawa minuman.
"Dia keluar! Biarkan saja!" sahut Nando.
Sandra kemudian duduk di hadapan Nando, ada rasa canggung diantara keduanya.
"Ehm, Kia anteng sekali ada dalam gendonganmu Nando!" ujar Sandra.
"Mungkin dia masih kangen sama Papanya, aku pun juga begitu, sangat ingin menyentuh dan membelainya, aku sangat menyayangi anakku ini, dia adalah buah cinta kita San!" ucap Nando.
"Jangan katakan itu Nando, kau harus ingat kalau kini kau adalah suami Vania, Oya, bagaimana kabar Vania? Apakah dia baik-baik saja? Vania sehat-sehat saja kan Nando??" tanya Sandra.
"Ya, Vania sehat!" jawab Nando.
__ADS_1
"Apakah kau sudah ijin padanya untuk datang ke sini? Apa kau pergi diam-diam darinya?" tanya Sandra lagi.
"Sandra, kini semua orang sudah tau yang sesungguhnya, Vania, Mama Vania, juga Ibu dan Papa ku!" jawab Nando.
Sandra terhenyak mendengar ucapan Nando.
"Benarkah? Lalu, bagaimana tanggapan mereka? Aku malu Nando, mereka semua pasti menganggap aku murahan, mudah jatuh dalam pelukan laki-laki!" ucap Sandra menunduk.
"Tidak! Ibuku tidak pernah mengatakan hal itu padaku, apalagi sekarang dia tau kalau dia punya cucu dari aku!" jawab Nando.
Tiba-tiba Kita menangis, Nando mulai panik.
"Cup cup cup sayang, kau kenapa? Maafin Papa ya, Papa tidak bermaksud membuat Mamamu sedih, maafin Papa ya!" Nando segera berdiri dan berusaha menenangkan Kia yang menangis.
Nando terus menimang dan menciumi Kia, namun bayi mungil itu tetap menangis.
"Dia haus Nando, berikan padaku, aku akan menyusuinya!" ucap Sandra.
Perlahan Nando menyerahkan bayi mungilnya itu pada Sandra.
Sandra mulai menimang bayinya dan melangkah menuju ke kamarnya.
"Kau mau kemana San? Aku masih kangen sama Kia, jangan bawa dia jauh dariku!" tanya Nando.
"Kenapa kau tidak menyusui di sini saja, tidak ada orang lain selain kita!" ujar Nando.
Sandra menoleh ke arah Nando.
"Maaf Nando, kau bukan suami aku, kau hanya Papa dari Kia, jadi aku tidak bisa menyusui Kia di depanmu!" ucap Sandra.
Nando terdiam mendengar ucapan Sandra, dia baru menyadari kalau Sandra memang bukanlah istrinya. Sandra hanya Ibu dari anaknya.
"Jangan lama-lama San, aku masih kangen sama Kia!" ujar Nando akhirnya.
Sandra masuk ke dalam kamar untuk menyusui Kia, sementara Nando duduk menunggu di ruang tamu.
****
Menjelang sore, Tante Tatik dan Mirna terkejut saat melihat kehadiran Nando.
Sebelumnya mereka tidak menyangka bahwa Nando akan benar-benar datang.
__ADS_1
"Jadi ini yang namanya Nando, yang membuat keponakanku mabuk kepayang?? Pantas saja, tampan begini!" ujar Tante Tatik.
"Terimakasih Tante!" ucap Nando tersipu.
"Hmm, wajahmu mirip sekali dengan Kia, bagaimana Sandra bisa melupakanmu? Sudahlah, aku mau masak dulu untuk makan malam!" Tante Tatik segera beranjak ke dapur.
"Nando, Roy di mana?" tanya Mirna.
"Di depan! Aku melarangnya masuk karena dia habis merokok, kau temui saja dia di depan atau di mobil!" jawab Nando.
Mirna langsung berjalan ke arah depan rumah untuk menemui Roy yang juga telah lama di nantinya.
Nando terlihat masih terus menggendong Kia, rasanya dia tidak ingin lepas dari bayi mungil itu.
"Nanti kau akan menginap di mana Nando?" tanya Sandra.
"Di hotel dekat sini!" sahut Nando.
"Lalu kau akan berapa lama tinggal di sini? Kasihan Vania Nando, pasti dia sangat cemas menunggumu, istri mana yang akan tenang saat suaminya pergi jauh!" ucap Sandra.
"San, ikutlah pulang Bersamaku!" kata Nando tiba-tiba.
"Apa? Kau jangan bercanda Nando, aku sudah nyaman di sini, apa kau tidak memperhatikan perasaan Vania?" tanya Sandra.
"Aku ... aku tidak bisa jauh dari Kia, aku tidak bisa jauh dari anakku!" jawab Nando.
"Kalau kau hanya ingin melihat anakmu, aku akan banyak mengirimkan foto padamu, juga video Kia, aku janji akan banyak memfoto dan merekam setiap pertumbuhannya!" ucap Sandra.
"Tapi San ... ikutlah pulang bersamaku, kau bisa tinggal di rumah orang tuaku, mereka pasti senang!" ujar Nando.
"Tinggal di rumah orang tuamu?? Kau ingin aku menumpang hidup lagi? Tidak Nando, aku akan tetap di sini, kalau hanya membesarkan Kia, aku juga mampu dengan jerih payahku sendiri!" tukas Sandra.
Nando terdiam beberapa saat lamanya, dia mulai berpikir sesuatu, Sandra pasti tidak akan mau jatuh ke lubang yang sama, pengalamannya dulu cukup membuat dia mengenal Sandra.
"Aku akan menikahimu Sandra!" ucap Nando tiba-tiba.
Seketika itu juga Sandra terperanjat kaget, dia membulatkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Bersambung ...
****
__ADS_1
Hai hai guys ... jika suka kisah ini jangan lupa dukungannya selalu ya ...
Trimakasih ...