Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Ricky dan Lika, orang tua Nando sangat terkejut ketika Nando pulang ke rumah dengan wajah babak belur dan memar di sekujur tubuhnya.


"Nando! Apa yang terjadi padamu?? Kenapa wajahmu bonyok seperti itu??" tanya Ricky cemas.


"Biasalah Pa, tadi ada demo di kampus, aku kan membela kebenaran jadi ikut demo deh!" bohong Nando.


"Demo apa? sejak kapan kau suka ikut demo? Jangan bilang kau habis berkelahi, Papa paling benci kekerasan!" hardik Ricky.


Nando terdiam beberapa saat lamanya, selama ini dia tidak pernah sedikitpun membohongi Papanya, kejujuran adalah prinsip hidupnya.


Namun kali ini dia terpaksa berbohong, karena tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya kalau dia habis di keroyok oleh anak buah Mami Vero di tempat prostitusi. Bisa shock Papa dan Ibunya kalau sampai tau kejadian yang sebenarnya.


"Nando, sini Ibu bersihkan lukamu, Ibu mau kompres dengan air hangat!" ujar Lika yang sudah membawa sapu tangan handuk dan sebaskom air hangat.


Dengan telaten dan penuh kasih sayang Lika membersihkan dan mengobati luka Nando.


"Terimakasih Bu!" ucap Nando.


"Lain kali jangan suka ikut-ikutan demo, lebih baik kau cepat selesaikan kuliahmu, supaya kau bisa fokus mengurus perusahaan mu!" ucap Lika sambil terus mengompres luka Nando yang terlihat memar di beberapa bagian wajahnya.


"Kalau kau ada kesulitan, kau kan bisa minta bantuan Papa Do, pokoknya Papa tidak mau lihat kau seperti ini lagi!" ujar Ricky.


"Iya Pa ..."


"Besok kau tak usah datang ke kantor atau ke kampus, kau istirahat saja di rumah!" lanjut Ricky.


"Tapi Pa ..."


"Kali ini kau jangan membantah Papa, walau kau sudah dewasa, tapi kau adalah tanggung jawab Papa, kecuali kalau kau sudah menikah!" cetus Ricky yang kemudian segera meninggalkan tempat itu.


"Nah sayang, sekarang istirahatlah di kamarmu, Ibu antar yuk ke kamar!" Lika lalu memapah Nando masuk ke dalam kamarnya, kemudian membantu Nando untuk berbaring dan menyelimuti tubuhnya.


"Ibu, terimakasih ya, aku beruntung bisa memiliki ibu ..." ucap Nando sambil menatap hangat wajah ibunya itu.


"Iya Nando, istirahatlah, nanti biar Mbok Narti yang mengantarkan makanan dan minuman hangat ke kamarmu, Ibu mau melihat adik-adikmu dulu!" Lika mengecup kening Nando lalu segera beranjak keluar dari kamar itu.


Setelah Ibunya keluar, Nando terus berpikir, bagaimana caranya menyelamatkan Sandra yang kini di kurung oleh Mami Vero di gudang.


Karena saat ini dia tidak mungkin keluar dari rumah, apalagi Papanya sudah bilang kalau besok Nando tak boleh kemana-mana.


Nando kemudian mulai mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi ada di saku bajunya.


Kemudian dia mulai menekan tombol nomor Roy, asistennya.


"Halo Roy!"

__ADS_1


"Tuan Nando? Ada apa telepon, mengganggu mimpi saya saja!" sungut Roy.


"Roy, kita harus menolong Sandra, bantu aku keluar dari rumah ini!" ujar Nando.


"Tuan gila ya! Di rumah Tuan ada Pak Jono security, bagaimana caranya saya bisa membantu Tuan keluar dari rumah?" tanya Roy.


"Kau yang Bodoh! Kau datang, ajak Pak Jono ngobrol apa kek, lalu aku menyelinap keluar, jangan lupa sebelum itu kau parkir mobil agak jauh dari rumah!" sahut Nando.


"Saya takut Ah Tuan, nanti kalau ketahuan Tuan besar, saya bisa di pecat!" kata Roy.


"Hei, selama ini siapa yang menggajimu??" tanya Nando.


"Tuan Nando!" sahut Roy.


"Nah, jadi kau harus patuh pada orang yang menggajimu, lagi pula kau ini kan asistenku, tugas asisten adalah membantu bos nya, kau paham!!" cetus Nando.


"Baiklah Tuan, apa boleh buat lah!" ujar Roy.


"Bagus! Sekarang kau ke gerbang depan, bilang saja kau mau beli makanan, ajak Pak Jono ngobrol sampai aku keluar gerbang, oke?!"


"Oke deh Tuan!" sahut Roy.


Nando lalu segera mengganti bajunya, dia bersiap untuk keluar dari gerbang rumahnya yang besar itu.


****


Tok ... Tok ... Tok


Terdengar suara ketukan pintu gudang itu, Sandra beringsut mendekat ke arah pintu.


"Sandra, ini Mirna, kau bisa dengar suaraku??" tanya Mirna dari luar pintu gudang.


"Iya Mir!" sahut Sandra.


"San, aku sudah beritahu pemuda itu tentang keberadaanmu di gudang ini, semoga dia bisa mengeluarkanmu dari sini!" ujar Mirna.


"Nando? Kau bertemu dengan Dia Mir?" tanya Sandra.


"Iya San, aku diam-diam menemui dia saat dia di pukuli oleh anak buah Mami, kasihan dia San, tadi dia kesini untuk membawamu pergi, tapi kau tau sendiri Mami!" jawab Mirna.


"Kasihan Nando, Mir, kau pergilah, nanti kalau anak buah Mami melihatmu di sini, kau bisa dalam masalah!" ujar Sandra.


"Iya San, kau baik-baik ya San! Jaga dirimu, kalau kau ada kesempatan pergi kau pergi saja, jadilah wanita baik-baik seperti yang kau inginkan!" kata Mirna.


Kemudian dengan mengendap-endap Mirna pergi meninggalkan gudang itu.

__ADS_1


****


Waktu sudah menunjukan pukul 1 dinihari, suasana di rumah prostitusi itu terlihat sunyi dan lengang.


Sandra meringkuk di lantai gudang itu dengan tubuh gemetar, dinginnya lantai itu seolah meremukkan tulang-tulangnya.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu gudang itu di buka dari luar, cahaya lampu masuk menyinari ruangan gelap itu.


"Sandra!" terdengar suara panggilan seorang pria.


"Nando? Kau Nando kan?" tanya Sandra yang langsung bangun dan beringsut mendekat ke arah pintu.


"Ssst, kecilkan suaramu, ayo ikut aku!" Pria itu yang ternyata Nando langsung menarik tangan Sandra keluar dari gudang itu, kemudian mereka berjalan ke arah kebun belakang rumah itu.


"Kau jangan nekad Nando, mereka tidak akan melepaskanmu kalau kau berurusan denganku!" ujar Sandra.


"Sudah jangan cerewet! Sekarang kau naik ke punggungku, di balik tembok ini ada tangga, kau bisa turun ke bawah, ada Roy asistenku yang menjaga di bawah!" titah Nando.


"Lalu kau bagiamana?" tanya Sandra.


"Sudah kau jangan pikirkan aku, aku laki-laki bisa melompat ke atas, ayo cepat! Waktu kita tidak banyak!" Nando langsung membungkukkan tubuhnya.


Sandra lalu mulai naik ke punggung Nando, kemudian dia naik ke atas tembok, lalu turun melalui tangga yang sudah tersedia di balik tembok itu.


"Hei!! Siapa di situ??!!" teriak seorang dari arah rumah besar itu.


Dengan cepat Nando langsung melompat ke tembok, lalu segera turun ke bawah dengan tangga.


Tanpa membuang waktu lagi mereka segera naik ke dalam mobil yang terparkir di situ.


"Tancap gas Roy!" titah Nando.


Mobil itu kemudian melesat pergi menembus gelapnya jalan itu.


"Roy, untuk keamanan, Sandra aku bawa pulang ke rumahku, sambil berpikir bagaimana supaya dia tidak lagi di temukan oleh anak buah germo itu!" kata Nando.


"Wah, Tuan cari masalah saja, bagaimana kalau Tuan dan Nyonya besar tau?" tanya Nando.


"Kalau kau tutup mulutmu pasti mereka tidak akan tau, ini sudah jam berapa?? Mau sembunyi di mana lagi Sandra? Tak mungkin kan aku ke rumah kakakku jam segini??" sahut Nando.


Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di rumah Nando, Roy langsung masuk dan memarkirkan mobil nya di depan pintu utama rumah itu.


"Sandra, ayo ikut aku, sementara kau tidur dan bersembunyi saja di kamarku, semua orang sudah tidur, ayo cepat!" Nando langsung menarik tangan Sandra naik ke lantai atas dan langsung menuju kamarnya.

__ADS_1


****


__ADS_2