Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Harus Menikah


__ADS_3

Setelah memeriksakan Kia ke Dokter, Nando dan Sandra kemudian segera kembali pulang ke rumah.


Lika menunggu mereka di ruang tamu dengan perasaan cemas.


"Bagaimana? Apa tadi kata Dokter? Kia tidak kenapa-napa kan?" tanya Lika beruntun.


"Kia tidak apa-apa Bu, kata Dokter Kia hanya butuh Papa Mamanya tidur bersama dengan Kia!" jawab Nando jujur. Sandra mencubit tangan Nando.


"Nando!" sergah Sandra.


"Lho, memang benarkan tadi Dokter bilang Begitu!!" cetus Nando.


"Hmm, itu Dokter kok aneh amat sih, masa menyarankan tidur bersama, mereka kan bukan suami istri!" gumam Lika.


"Bu, Dokter mana tau kalau aku dan Sandra bukan suami istri, kan kita datang bertiga seperti satu keluarga kecil, semua orang juga akan berpikir kalau aku dan Sandra itu suami istri!" sahut Nando.


"Ya sudah kalian menikah saja, lebih cepat lebih baik, ingat, Sabtu siap-siap!" ujar Ricky yang tiba-tiba muncul dari arah kamarnya.


"Yeaaaay, yuhuuuu, prikitiwww!! Akhirnya!!" Nando melompat kegirangan.


Orang tuanya hanya menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Pa, kalau tau begini, dulu kita tidak usah menjodohkan Nando dengan Vania, Hmm aku jadi menyesal!" bisik Lika pada suaminya.


"Iya, anak kita jadi punya istri dua deh, belum pernah dalam sejarah keluarga kita, punya istri dua!" ucap Ricky.


Sandra kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk menyusui Kia, sementara Nando duduk sambil santai menikmati acara televisi.


Ricky dan Lika nampak pergi ke luar rumah untuk menghadiri acara pernikahan kerabat mereka.


Sejak pagi Nando sengaja mematikan ponselnya, dia sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Tiba-tiba Mbok Narti datang mendekati Nando.


"Ada telepon Den!" kata Mbok Narti.


"Dari siapa Mbok?" tanya Nando.


"Dari Bu Rina, katanya ponsel Den Nando tidak aktif!" sahut Mbok Narti.


Dengan malas Nando beranjak dari tempatnya menuju ke meja telepon.


"Halo!"


"Halo Nando, kau tidak pulang ke rumah?" tanya Tante Rina.


"Anakku lagi sakit Ma, nanti sore saja aku pulang!" sahut Nando.


"Nanti sore? Kau ini bagaimana sih do? Sejak semalam kau pergi, sekarang kau mau pulang sore! Memangnya kau tidak kasihan pada istrimu!! Dia terus menunggumu di kamarnya, malah dia diam saja lagi, tidak mau bicara sama Mama!" ujar Tante Rina.

__ADS_1


"Tapi kan anakku memang sedang sakit Ma!" tukas Nando..


"Halah! Kau selalu bisa beralasan, sudahlah! Mama cepek mengurus kalian! Terserah mau pulang atau tidak!" sungut Tante Rina sambil menutup keras panggilan teleponnya.


Nando hanya termangu setelah menerima telepon dari mertuanya itu.


Kemudian dia segera masuk ke kamar Sandra.


"Nando? Kau masih di sini?" tanya Sandra heran.


"Ya iya lah, anakku kan di sini!" sahut Nando.


"Tapi Do, kan Vania juga istrimu, dia pasti menunggumu, pulanglah Do, kasihan Vania!" kata Sandra.


"Tapi Kia juga butuh aku, aku kan Papanya!" sahut Nando.


"Tapi Vania istrimu, sudah kau pulang saja, Kia sudah tidak demam, kau jangan khawatir lagi!" sergah Sandra.


"Tapi San ..."


"Aku akan marah padamu, dan tidak akan mengijinkan mu menyentuh Kia kalau kau tidak mau pulang!" cetus Sandra.


"Baiklah San, aku pulang deh, tapi berjanjilah kalau Kia mencariku kau langsung meneleponku!" ucap Nando sedih.


"Iya iya, sekarang pulanglah Nando, Vania menunggumu!" balas Sandra.


Nando lalu mendekati Kia yang masih tertidur di atas tempat tidur, lalu Nando mulai menciumi wajah Kia yang kemerahan.


Nando kemudian berdiri dari posisinya, dia menatap ke arah Sandra.


"Kau tunggu apa lagi! Pergilah Nando, aku dan Kia baik-baik saja!" ujar Sandra.


"San, aku kan sudah cium Kia, aku boleh ya cium Mamanya?" pinta Nando.


"Jangan!" sahut Sandra cepat.


"Kenapa? Sebentar lagi kan kau calon istriku!" Nando maju dan langsung mengecup bibir Sandra sekilas tanpa ijin lagi.


"Nando ah!!" sungut Sandra sambil mengusap bibirnya dengan tangannya.


"Rasanya manis San! Aku suka!" ucap Nando terkekeh sambil keluar meninggalkan kamar itu.


****


Sementara itu, Vania nampak duduk di depan meja rias kamarnya, dia mulai menyisir rambutnya dan memberikan bedak pada wajahnya, kemudian memoleskan sedikit lipstik pada bibirnya.


Terlalu memikirkan Nando membuat hidupnya makin terpuruk.


Perlahan Vania berjalan tertatih keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga.

__ADS_1


Tante Rina yang sedang duduk di sofa ruang keluarga melihat Vania terheran-heran menatapnya.


"Vania? Tumben kau keluar kamar, sini duduk sama Mama!" ajak Tante Rina.


"Ma, Pak Tejo di mana?" tanya Vania.


"Pak Tejo? Tumben kau mencari Pak Tejo!" gumam Tante Rina.


"Aku mau minta di antar Pak Tejo Ma!" jawab Vania.


"Memangnya kau mau kemana Vania? Kau belum pulih betul lho!" kata Tante Rina.


"Aku mau ke mall Ma, mau refreshing!" sahut Vania sambil terus melangkah ke depan mencari Pak Tejo.


Tante Rina mengerutkan keningnya heran.


Pak Tejo nampak sedang menggunting tanaman di halaman depan, melihat Vania melambaikan tangannya dia cepat-cepat menghampirinya.


"Pak Tejo, tolong sntarkan aku ke mall terdekat, aku mau makan, mau ke salon dan shoping!" kata Vania.


"Nyonya sendirian?" tanya Pak Tejo.


"Iya Pak saya sendiri, yuk jalan sekarang!"' ajak Vania.


"Vania! Mama ikut ya!" seru Tante Rina yang muncul dari dalam.


"Terserah Mama!" sahut Vania.


Mereka akhirnya naik ke dalam mobil yang sudah terparkir di situ, Pak Tejo mulai mengendarainya dan keluar dari rumah itu menuju ke sebuah mall terdekat.


Sesampainya di mall, Tante Rina heran melihat Vania yang begitu antusias makan di restoran, lalu memotong rambutnya di salon, kemudian dia mulai berbelanja apa saja.


Kartu untuk kebutuhan Vania yang di berikan oleh Nando baru hari ini dia pergunakan.


Vania belanja sepuasnya hari itu.


"Van, ini sudah mau magrib, kita pulang yuk, nanti Nando mencarimu kalau melihat kau tidak ada di rumah!" kata Tante Rina.


"Dia tidak akan pernah mencariku Ma, sekalipun aku pergi ke ujung dunia!" ucap Vania. Sorot matanya nampak putus asa.


"Jangan bilang begitu Van, ayo kita pulang, kalau kau kecapean, nanti bisa drop lagi!" ujar Tante Rina.


Tiba-tiba Vania menangis, Tante Rina kaget dan langsung memeluk Vania.


"Semuanya sia-sia Ma! Nando tidak pernah mencintai aku! Berada di dekatnya membuat aku semakin sedih dan menderita, aku harus bagaimana?" tanya Vania sambil menangis tersedu-sedu.


Tante Rina tidak menjawab, dia hanya terus memeluk Vania sambil menghapus air mata putrinya itu yang terus mengalir di pipinya.


"Mama, aku sangat mencintai Nando, seumur hidupku, aku ikhlas jika harus berbagi dengan wanita lain, Mama, aku ikhlas di madu oleh Nando!" ucap Vania sambil terus terisak.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2