
Sandra yang mulai sadar namun masih terlihat lemah, kepalanya begitu pusing, pandangannya juga kabur, tubuhnya terasa sakit jika di gerakan.
Nando selalu berada di samping Sandra, dari hari ke hari, bahkan dia tidak masuk ke kantornya, juga tidak mengontrol perusahaannya.
"Nando, ini laporan keuangan di perusahaanmu, aku mendapat ini dari bagian HRD, belakangan omset perusahaanmu turun Do, kalau begini terus kau bisa terancam bangkrut!" ujar Jonathan yang siang ini datang mengunjungi Nando.
'Iya Bang, trimakasih sudah membantu melihat perusahaanku!" ucap Nando.
"Kau harus bangkit dari keadaanmu Do, kau jangan larut dalam suasana mau sampai kapan kau di sini terus?" tanya Jonathan.
"Tapi Sandra membutuhkan aku Bang! Aku tidak bisa meninggalkan dia!" tukas Nando.
"Aku tau Do, tapi bagaimana nasib perusahaanmu kalau begini terus!" sahut Jonathan.
"Nando ..." tiba-tiba suara Sandra memanggilnya lirih.
Nando langsung beringsut mendekati Sandra. Lalu di genggamnya tangan wanita itu.
"Ada apa sayang? Apa yang kau rasakan?" tanya Nando cemas.
"Pergilah urus perusahaanmu, aku tidak apa-apa, setelah itu, kau carilah Vania, dia masih istrimu Nando!" ucap Sandra lirih.
"Tapi San, aku ..."
"Aku tau kau sayang padaku, tapi Vania juga istrimu, aku sedih jika dia pergi tanpa ada harapan, pergi dalam keputus asaan!" potong Sandra.
"Sandra ... bagaimana aku bisa meninggalkanmu dengan tenang? Kau masih lemah seperti ini!" kata Nando.
"Tidak, Nandoku kuat tidak lemah, kau juga harus pikirkan pekerjaanmu, jangan karena aku semuanya jadi hancur, aku mohon Nando, aku bisa menjaga dirimu sendiri!" pinta Sandra.
"Kau dengar itu Do, Sandra saja sudah memintamu pergi, kau mau jadi apa di sini terus tidak produktif! Cinta sih cinta, tapi realistis dong!" sambung Jonathan.
"Baik! Kalau begitu aku akan pergi, Sandra, cepatlah pulih sayang, nanti sore aku akan datang lagi menjengukmu!" kata Nando.
"Nah, ini baru Nando ku, pergilah urus perusahaanmu, setelah itu aku mohon kau carilah Vania!" ucap Sandra sambil memaksa tersenyum, walaupun wajahnya masih terlihat pucat.
"Ayo Do, kita ke kantor sekarang aku antar, mumpung masih pagi!" ajak Jonathan. Nando menganggukan kepalanya.
Setelah bersiap-siap, Nando kemudian berjalan meninggalkan Sandra yang masih berbaring lemah.
__ADS_1
Sebenarnya dalam hati Nando sangat tidak ingin meninggalkan Sandra sendirian, tapi dia juga harus memikirkan nasib perusahaannya yang kini berada di ujung tanduk.
"Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu Do, mungkin kau harus memilih salah satu dari mereka!" ujar Jonathan.
"Sejak awal aku sudah punya pilihan Bang, tapi takdirku mengharuskan aku untuk memilih keduanya!' jawab Nando.
"Mungkin itu dulu, tapi sekarang, sepertinya semuanya harus di akhiri, kau tidak mungkin terus berpoligami, kau akan menyakiti keduanya! Kecuali kalau kau bisa seimbang!" ucap Jonathan.
"Iya Bang!" sahut Nando.
Jonathan kemudian mengantar Nando dengan mobilnya menuju ke kantor Nando yang sudah beberapa lamanya di tinggalkan Nando.
"Semoga melalui kejadian ini, kau bisa semakin matang dan dewasa Do, aku tau kau masih sangat muda, di usiamu yang sekarang ini, kau bukan hanya menikah muda tetapi langsung berpoligami, aku saja menikah di usia 26 tahun!" ungkap Jonathan.
"Iya Bang!" sahut Jonathan.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di kantor Nando, semua orang yang berpapasan dengannya menunduk hormat padanya.
"Selamat pagi Pak Nando, lama tidak kelihatan kok makin kurus saja!" sapa seorang resepsionis di meja lobby kantornya.
Nando hanya tersenyum kecut menanggapinya.
"Iya Bang, terimakasih Bang!" ucap Nando.
"Kau semangat ya Do, ingat, masa depan perusahaan ini ada di tanganmu!" ujar Jonathan sambil menepuk bahu Nando.
Nando kemudian kembali berjalan menuju ke ruangannya yang sudah lama dia tinggalkan itu.
****
Sementara itu di rumah besar Ricky, Lika batu saja selesai memandikan dan menjemur Kia, setelah itu dia mulai membuatkan susu di botol Susu, lalu mulai menyusui Kia.
Lama kelamaan Kia terbiasa juga dengan susu botol, padahal sebelumnya dia tidak mau kalau bukan ASI.
"Selamat pagi Bu, di depan ada yang mau bertemu Ibu, tapi dia tidak mau masuk!" kata Pak Jono yang tiba-tiba datang menghampiri Lika yang sedang memberi susu Kia.
"Siapa Pak?" tanya Lika heran.
"Itu Bu, besannya Ibu, Bu Rina!" jawab Pak Jono.
__ADS_1
"Apa?? Jeng Rina??" Lika terkesiap kaget.
"Iya Bu, tapi dia tidak mau masuk!" sahut Pak Jono.
"Baiklah Pak, saya ke depan sekarang!" kata Lika.
Dia lalu berjalan ke depan gerbang dengan menggendong Kia.
Tante Rina sudah berdiri di depan gerbang, rambut dan pakaiannya berantakan, di benar-benar terlihat kacau.
"Jeng Rina??" Lika tertegun melihat Tante Rina yang terlihat acak-acakan itu.
Tiba-tiba Tante Rina langsung berlutut di depan Lika.
"Mbak Lika, aku minta maaf Mbak, aku minta ampun! Aku salah! Aku berdosa!" ujar Tante Rina sambil menangis.
"Jeng Rina, aku tidak mengerti mengapa kau bisa punya pikiran untuk menculik cucuku, bukankah kau tau kalau Kia ini anak Nando, menantumu sendiri!" seru Lika.
"Maafkan aku Mbak Lika, aku khilaf, aku hanya ingin membuat Vania anakku bahagia, aku tidakifak tahan melihat dia menangis setiap hati hanya karena Nando, apalagi sejak Nando punya anak, Vania semakin tersingkir!" ungkap.Tante Tina sambil menangis dan bersimpuh di depan Lika.
"Bangunlah jeng Rina, tidak pantas orang melihatmu berlutut seperti itu di depanku! Aku tau kau salah, dan kau sendiri yang bisa menebus kesalahanmu itu!" ujar Lika.
"Ya, setelah ini aku akan menyerahkan diriku ke kantor polisi, tetapi asalkan Mbak Lika mau memaafkan aku, karena perbuatanku ini, aku ampah kehilangan Vania, saat ini dia pasti sangat membenciku!" tangis Tante Rina.
"Aku dan suamiku sudah memaafkanmu jeng Rina, asal kau tau saja, karena perbuatanmu kini Sandra terbaring di rumah sakit, Kia jadi kehilangan ibunya, dan mungkin Vania juga akan kehilangan Nando!" ucap Lika.
"Maafkan aku Mbak Lika, kalian boleh membenciku, tapi aku mohon, jangan salahkan Vania, Vania sama sekali tidak bersalah dan tidak tau apa-apa!" kata Tante Rina.
"Kau tenang saja Jeng Rina, kami tidak ada yang membenci Vania, apalagi menyalahkannya, semoga melalui kejadian ini, ada hikmah yang bisa kita ambil!" ujar Lika.
Tak lama kemudian sebuah mobil polisi berhenti tepat di depan mereka.
Dua orang polisi turun dari dalam mobil dan langsung menangkap Tante Rina tanpa perlawanan.
"Mbak Lika! Aku titip Vania! Hanya Vania yang aku punya!" teriak Tante Rina sebelum mobil polisi itu melaju meninggalkan rumah itu.
Bersambung ...
****
__ADS_1