
Pagi-pagi sekali Nando sudah memasukan beberapa pakaiannya ke dalam sebuah tas.
Tekadnya sudah bulat, dia harus mencari Sandra dan buah hatinya.
Terlalu lama berada di rumah ini membuat kepalanya semakin pusing, dia sudah tidak dapat lagi membendung rasa rindu nya yang selalu dia simpan dalam hatinya.
"Kau mau kemana Nando?" tanya Vania yang terbangun dan langsung membuka matanya saat melihat Nando sudah berdiri hendak pergi meninggalkannya.
"Aku mau pergi menemui anakku!" jawab Nando.
"Apakah kau akan meninggalkan aku Nando?" tanya Vania yang mulai menangis.
Nando menoleh dan melangkah mendekati Vania, lalu memegang kedua bahu Vania yang kini duduk di ranjangnya.
"Selama aku menjadi suamimu, aku selalu berusaha untuk membahagiakanmu, dengan selalu berada di sisimu, memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami, memberikanmu nafkah lahir dan batin, aku mohon ijinkan aku pergi!" ucap Nando.
"Nando, tapi bukankah aku yang adalah istrimu? Apa kau mau melakukan dosa lagi terhadap Sandra yang bukan siapa-siapamu??" tanya Vania.
"Memang benar kau yang adalah istriku, tapi Sandra adalah ibu dari anakku, apakah salah jika aku memberikan nafkah pada Anakku dan ibunya??" tanya Nando balik.
Vania terdiam, dia tidak dapat lagi menjawab Nando, selama ini Nando tidak pernah sekalipun bersikap buruk terhadapnya, bahkan saat tau Vania tidak dapat memberikan Nando anak, Nando juga tidak pernah sedikitpun menyalahkannya, perlakuannya selalu baik terhadap Vania.
Perlahan Nando melepas pegangan tangannya di bahu Vania, lalu dia membalikan tubuhnya dan melangkah menuju ke pintu kamarnya.
"Nando! Aku akan menunggumu!!" seru Vania sebelum Nando benar-benar hilang di balik pintu.
Hanya tangisan dan air mata yang mengiringi kepergian Nando, rasanya begitu sakit dan pedih, suami yang sangat di cintainya kini menghilang dari sisinya.
"Tuan muda mau kemana?" tanya Mbok Karsih saat Nando sedang menuruni tangga sambil membawa tasnya.
"Aku akan pergi ke luar kota dalam beberapa hari Mbok, titip istriku ya, pastikan dia baik-baik saja, kalau ada apa-apa tolong segera menghubungi aku!" jawab Nando.
"Baik Tuan, jangan khawatir, saya akan menjaga Nyonya muda dengan baik!" ucap Mbok Karsih.
Nando tersenyum lalu melanjutkan langkahnya menuju ke pintu utama.
"Tunggu Nando!!" Tante Rina tiba-tiba memanggil dari arah belakangnya. Nando kemudian menghentikan langkahnya.
"Maafkan aku Ma, aku harus pergi!" pamit Nando.
"Lalu kau tinggal Vania begitu saja??" tanya Tante Rina.
__ADS_1
"Aku sudah ijin pada Vania Ma!" sahut Nando.
"Apa Vania mengijinkanmu??"
Nando terdiam, dia juga tidak tau apakah Vania mengijinkannya atau tidak, tapi yang jelas, Vania sakit dan terluka hatinya saat Nando meninggalkannya.
"Aku pamit Ma, titip Vania!" ucap Nando sambil kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.
Tante Rina hanya berdiri mematung menatap kepergian menantunya itu, dia tidak punya alasan lagi untuk mencegah Nando pergi.
Di parkiran mobil, Roy sudah bersiap menunggu Nando duduk di bangku kemudi.
"Sudah siap Tuan?? Saya tidak sabar Ngin ketemu dengan neng Mirna, pokoknya saya mau ajak dia ke kampung, saya mau lamar dia dan menikahi dia deh, saya minta cuti nikah ya Tuan?" celoteh Roy.
"Jangan banyak bicara! Ayo kita berangkat sekarang, atau kita kan ketinggalan pesawat!" sergah Nando.
Sambil bersiul Roy segera melajukan mobilnya keluar dari rumah besar itu.
****
Sementara Sandra yang kini sudah di rumah Tante Tatik, nampak sedang menimang Kia, buah hatinya dengan Nando.
Tak berkedip dia terus memandangi bayi mungilnya yang wajahnya begitu cantik dan bersih, persis seperti Papanya.
Bayi yang masih berusia beberapa hari itu nampak berusaha menatap Sandra dengan matanya yang bundar dan jernih.
"Bawa Kia masuk kedalam San, dia belum 40 hari jangan sering berada di luar!" ujar Tante Tatik yang nampak akan bersiap berangkat kerja.
"Iya Tante, hanya menjemurnya sebentar!" sahut Sandra.
Tak lama Mirna juga keluar dari rumah itu, mereka akan segera berangkat ke pabrik.
"San, kau baik-baik di rumah ya, kalau butuh apa-apa langsung saja telepon aku!" kata Mirna sambil mencolek pipi Kia yang menggemaskan kemerahan.
"Iya, kalian berangkat saja, aku dan Kia akan baik-baik saja!" ujar Sandra.
"Baiklah, kami jalan dulu ya, Kia sayang, Oma dan Tante Mirna berangkat ya, jangan rewel ya, Mama sendirian tuh!" pamit Tante Tatik sambil mencium Kia.
Mereka kemudian mulai berangkat ke pabrik yang letaknya tidak jauh dari rumah Tante Tatik.
"Tuh Kia, banyak yang sayang sama Kia, walaupun tidak ada Papa di antara kita, nanti Mama yang akan jadi Papa kamu ya! Yang penting Kia tau dan bisa melihat Papa Kia itu sangat tampan dan baik orangnya!" ucap Sandra sambil mengecup kening bayinya.
__ADS_1
Tanpa terasa ada butiran hangat yang menetes di pipinya.
Dari arah pintu pagar, datang dua orang Ibu yang berjalan mendekatinya.
"Sudah lahiran ya Mbak?" tanya seorang Ibu.
"Iya Bu!" sahut Sandra.
"Saya Bu Ira, Bu RT di sini, ini Bu Asih, yang biasa menggerakkan posyandu, biasanya kalau ada bayi yang baru lahir di daerah ini, kami anjurkan untuk ikut posyandu, untuk tumbuh kembang si bayi!" jelas Bu RT.
"Terimakasih Bu, nanti saya akan bawa bayi saya ke posyandu!" ujar Sandra.
"Siapa nama bayinya Mbak?" tanya Bu Asih.
"Namanya Kia Bu, Kianandra!" jawab Sandra.
"Wah, Kia cantik sekali, kulitnya bersih, tidak terlalu mirip sih sama Mamanya!" kata Bu Asih.
"Eh, iya Bu, dia mirip Papanya!" jawab Sandra.
"Oooo, tapi mgomong-ngomong Papanya di mana ya? Kok sejak Mbak Sandra pindah ke sini, saya tidak pernah melihat Papa Kia?" tanya Bu RT.
Sandra terdiam, dia bingung mau menjawab apa.
"Hmm, Papanya ada di Jakarta Bu!" jawab Sandra asal.
"Jarang pulang ya? Padahal dukungan Papa itu sangat penting lho buat si bayi, apalagi baru lahir begini!" ucap Bu Asih.
Sandra hanya menunduk sedih mendengar ucapan Bu Asih barusan.
"Matahari sudah tinggi Mbak, kasihan bayinya nanti kepanasan, bawa masuk saja!" kata Bu RT.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Tante Tatik.
"Itu siapa Mbak Sandra? Lagi ada tamu ya?" tanya Bu Asih.
Sandra tersenyum saat melihat siapa yang turun dari mobil itu.
"Itu Papanya Kia Bu!" jawab Sandra berbinar.
Bersambung ...
__ADS_1
****