
Ting Tong
Pagi-Pagi di apartemen Nando sudah terdengar suara bel di depan pintu.
Nando baru saja selesai mandi, dia bahkan bertelanjang dada dan belum selesai berpakaian, sementara Sandra masih menyusui Kia di tempat tidurnya.
"San, tolong bukakan pintu depan, siapa sih yang bertamu pagi-pagi?!" seru Nando yang terlihat masih memilih baju untuk di pakainya.
"Eh, kau ini gimana sih? Tidak lihat aku sedang menyusui Kia? Apakah mau tamu itu melihat dadaku?!" sahut Sandra.
"Tentu aja tidak! Enak saja dia melihat aset milik pribadiku!" dengus Nando.
"Ya sudah, kalau begitu cepatlah berpakaian dan bukakan pintu depan!" ujar Sandra.
Nando kemudian langsung memakai kaosnya dan berjalan ke arah depan untuk membuka pintu.
Nando membulatkan matanya saat melihat siapa orang yang kini sudah berdiri di depan pintu apartemennya.
"Pak Wiryo?? Mau apa lagi kau datang ke sini? Apa belum cukup masalah kau kau buat dalam kehidupan Sandra??" sengit Nando.
Sandra yang mendengar suara keras Nando, buru-buru mengancing dasternya dan berjalan ke depan sambil menggendong Kia.
"Ada apa sayang? Siapa yang datang?" tanya Sandra. Dia tertegun sesaat ketika melihat ayah tirinya itu berdiri di depan pintu.
"Ayah? Untuk apa Ayah datang ke sini? Kenapa juga Ayah harus kabur dari penjara??" tanya Sandra.
"Sandra, Ayah minta maaf, minta maaf yang sebesar-besarnya, atas semua kesalahan Ayah, sejak dulu Ayah jahat telah menjual mu, memeras mu, juga menyiksamu, bahkan sampai kau menikah dan punya anak, aku malah menculik anakmu demi keuntungan pribadiku, maafkan Ayah!" Pak Wiryo menangis sambil berlutut.
Dari wajahnya Pak Wiryo, menyiratkan penyesalan yang amat dalam, dia terus menangis.
"Ayah, aku tidak pernah membenci Ayah, walaupun Ayah sudah berniat jahat padaku, aku hanya ingin Ayah bertobat dan berubah, hanya itu Ayah!" ucap Sandra.
Dua orang security dan dua orang polisi nampak berjalan cepat dari ujung lorong menuju apartemen Nando.
"Itu Pak orangnya! langsung tangkap saja Pak!!" teriak security itu dari kejauhan.
"Sandra terimakasih, sekarang ayah tenang di penjara, walaupun harus seumur hidup Ayah di penjara,asalkan kau memaafkan Ayah dan tidak membenci Ayah, itu sudah cukup!" kata Pak Wiryo.
Dua orang polisi itu langsung memborgol kedua tangan Pak Wiryo, tidak ada perlawanan sama sekali dari Pak Wiryo.
"Kami kira dia kabur kemana!! Tidak taunya di sini!!" dengus pak Polisi itu.
"Sandra! Maafkan ayah! Nando, titip Sandra dan anak kalian! Biarlah hanya aku yang menyakitinya, dan aku berharap, Sandra akan bisa menemukan kebahagiaannya!" ujar Pak Wiryo.
__ADS_1
Sandra hanya berdiri sambil menangis melihat Ayah tirinya itu, Ayah tiri yang membuatnya masuk dalam lembah hitam, yang dulu selalu memerasnya bahkan menyiksanya, kini laki-laki tua itu harus menebus semua perbuatannya di penjara.
Dua orang polisi itu mulai menyeret Pak Wiryo untuk meninggalkan tempat itu dan kembali ke sel tahanan.
"Tunggu!!" seru Sandra.
Perlahan dia berjalan mendekat ke arah Pak Wiryo.
"Ayah, tidakkah Ayah ingin menatap dan mencium cucu Ayah?" tanya Sandra.
"Cucu? Aku tak layak di sebut Kakek, kakek yang telah menjual cucunya sediri, aku malu Sandra, aku malu pada suami dan anakmu!" tangis Pak Wiryo.
"Tidak Ayah, Ayah berhak untuk menjadi kakek Kia, Kia juga sudah memaafkan Ayah, tuh lihat, bahkan dia tersenyum pada Ayah!" ucap Sandra.
Dengan penuh tangis dan rasa haru, Pak Wiryo mulai mengecup kening Kia, ada perasaan damai dan hangat yang dia rasakan.
"Pak Polisi, tolong perlakukan Ayah kami dengan baik!!" ujar Nando tiba-tiba.
"Siap Pak Nando!" sahut kedua polisi itu.
"Nando, terimakasih, bahkan kau memanggil aku Ayah, aku benar-benar malu dan menyesal!" ucap Pak Wiryo menunduk.
Kemudian dia orang polisi itu kembali membawa Pak Wiryo berjalan meninggalkan tempat itu untuk kembali masuk ke sel tahanan.
"Sudahlah sayang, kini kau bisa bernafas lega, Ayah tiri mu ternyata sudah benar-benar bertobat!" ucap Nando.
"Aku sedih, Ayah bertobat dan kini di penjara, dia pasti sedih dan kesepian!" lirih Sandra.
"Itu adalah buah dari apa yang sudah di taburnya selama ini, dan aku selalu berharap kebahagiaan akan selalu datang menyertai hidup kita!" kata Nando yang langsung membawa Sandra masuk kembali ke dalam apartemennya.
****
Semenatara itu, Adi tengah bersiap-siap membereskan barang-barang dan pakaian Vania.
Setelah dia berkonsultasi pada Dokter, Vania di ijinkan pulang kerumahnya dengan catatan harus rutin minum obat dan rawat jalan.
Siapa tau suasana di luar membuat pikirannya fresh dan itu bisa menambah imun di tubuhnya.
"Kita mau pulang kemana?" tanya Vania.
"Kita pulang ke rumahku saja ya, walaupun rumahku tidak sebesar rumahmu, tapi cukup nyaman untuk kita berdua, nanti pembantumu suruh pindah saja ke rumah ku, supaya kau juga ada teman!" kata Adi.
"Mumun? Boleh juga usulmu, dari pada kita cari asisten rumah tangga yang lain, lebih baik Mumun saja!" jawab Vania.
__ADS_1
"Kau sudah siap Vania?" tanya Adi yang sudah selesai membereskan semua Barang-barang nya.
"Mulai sekarang, aku tidak akan memanggilmu Adi lagi, kau lebih dewasa dan kau kini suami ku, bolehkah aku memanggilmu ... Mas Adi?" tanya Vania.
Adi tersenyum, wajahnya menyiratkan kebahagiaan.
"Tentu saja sayang, aku sangat senang mendengarnya!" jawab Adi sambil memeluk Vania.
"Mas Adi, aku sudah siap ikut pulang bersamamu!" ucap Vania.
Seorang perawat masuk dan membawakan kursi roda untuk Vania.
"Mari Bu Vania, saya bantu duduk di kursi roda!" kata suster itu.
"Tidak usah suster, biar saya sendiri yang mengangkat istri saya ke kursi roda!" tukas Adi.
"Silahkan Pak!"
Perlahan Adi segera mengangkat Vania dari ranjang itu, kemudian memindahkan nya ke kursi roda.
Setelah itu Adi langsung mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan itu.
Dia terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit itu sambil mendorong kursi roda itu.
Wajah Vania mulai terlihat kemerahan melihat dunia luar yang begitu indah.
"Terimakasih Mas Adi, memberikan aku kesempatan untuk kembali menikmati keindahan suasana yang indah ini!" ucap Vania.
"Mulai sekarang, kau tidak sendiri lagi Vania, kita akan selalu bersama selamanya!" ucap Adi.
Ketika mereka hampir sampai di parkiran. Seorang wanita telah berdiri di depan pintu lobby rumah sakit itu.
Adi menghentikan langkah nya.
"Sita?? Mau apa lagi kau ke sini??" tanya Adi.
"Bodoh kau Adi! Kau lebih memilih wanita penyakitan itu dari pada aku!" sahut Sita matanya merah menyiratkan kemarahan.
Perlahan dia melangkah maju mendekati Adi dan Vania yang kini duduk di kursi roda.
Bersambung ...
****
__ADS_1
Menjelang Episode terakhir guys ... ayok tetap dukung author ... 🙏😊😁😉