
Malam ini, Vania dan Tante Rina bersiap-siap akan ke rumah Nando, karena keluarga besar Nando mengundang mereka makan malam.
"San, ayolah ikut ke rumah Nando, jarang-jarang lho orang tuanya mengundang keluargaku makan malam!" ajak Vania.
"Kau saja yang pergi Van, aku mengantuk mau tidur!" tukas Sandra.
"Yah Sandra, ayolah temani aku, biar aku ada teman ngobrol!" bujuk Vania.
"Kan ada Nando di sana, kau bisa mengobrol dengannya, sudahlah Van, itu lampu hijau buatmu, keluarganya dan keluargamu bertemu, mau membicarakan apalagi kalau bukan perjodohan kalian!" ujar Sandra.
"San, tapi kau tidak apa-apa sendirian di rumah?" tanya Vania.
"Tentu saja, aku mau tidur cepat malam ini!" sahut Sandra yang langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
"Sandra payah nih, ya sudah deh, kalau kau tidak mau ikut tidak apa-apa!" ujar Vania akhirnya
"Vania!! Kau sudah siap belum?!!" terdengar suara panggilan Tante Rina.
"Sudah Ma!" sahut Vania yang langsung keluar dari kamarnya.
Mereka lalu segera berangkat ke rumah keluarga Nando.
Sementara Sandra berbaring sambil menatap langit-langit kamar Vania.
Ada rasa rindu pada Nando, sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu karena kesibukan Nando belakangan ini.
Sandra juga merasa sangat tidak enak, perlakuan Vania dan Tante Rina yang sangat baik padanya, membuat Sandra semakin sungkan, sampai berapa lama lagi Sandra harus menumpang di rumah Vania.
Drrrt ... Drrrt ... Drrtt
Suara getaran ponsel Sandra membuyarkan lamunan Sandra. Dia melihat ke layar ponselnya, Nando yang menelpon nya, Sandra lalu mengusap layar di ponselnya itu.
"Halo ..."
"Halo Sandra ... kau di mana?" tanya Nando.
"Aku, di rumah Vania, kau pikir aku kemana lagi?" sahut Sandra.
"San, sudah ku duga, pasti kau tidak mau ikut ke rumahku kan, aku ada di depan pintu gerbang, kau keluarlah sebentar!" ujar Nando.
"Hah? Kenapa kau di depan? Bukankah kalian ada acara keluarga??" tanya Sandra bingung.
"Sudah jangan banyak tanya, kau keluar lah Sandra, waktuku tidak banyak!" jawab Nando.
__ADS_1
Sandra lalu keluar dari rumah Vania, dia berjalan menuju ke gerbang yang sudah terbuka itu oleh security.
Nando berdiri di depan gerbang, sementara mobil nya di parkir di luar.
"Nando, cepatlah kau kembali ke rumahmu, nanti orang-orang mencarimu!" ujar Sandra.
"Maafkan aku Sandra, karena kesibukan aku jarang menemui mu!" ucap Nando.
"Tidak apa-apa, hanya saja, aku mulai tidak enak dengan keluarga Vania yang baik itu, aku ingin sekali bekerja mencari kesibukan!" ujar Sandra.
Tiba-tiba Nando maju dan memeluk Sandra, Sandra begitu terkejut melihat perlakuan Nando yang tiba-tiba itu, biasanya jangankan memeluk, menyentuh nya saja begitu sulit.
"Bersabarlah sebentar lagi San, sebentar lagi, aku mau melepaskanmu dari si germo itu, tanpa harus di kejar-kejar oleh anak buahnya lagi, aku mau kau hidup bebas dan normal seperti yang lainnya!" ucap Nando.
"Kenapa kau melakukan itu semua padaku Nando? Kenapa? Aku ini hanya wanita kotor dan nista, tak pantas mendapat perlakuan seperti itu darimu!" lirih Sandra sambil meneteskan air matanya.
"Alasannya cuma satu, karena ... kau wanita spesial dalam hatiku!" jawab Nando.
Sandra terkesima mendengar pernyataan dari mulut Nando, di tatapnya mata hitam yang teduh itu, yang menyimpan segudang kedamaian.
Namun tiba-tiba Sandra teringat Vania, Vania yang memiliki rasa cinta yang besar untuk Nando, Vania yang menuliskan seluruh perasaannya di buku hariannya.
Sandra mendorong lembut dada Nando kemudian menguraikan pelukannya.
Kemudian Sandra segera berlari masuk ke dalam meninggalkan gerbang itu, meninggalkan Nando yang masih berdiri termangu di tempatnya.
Drrt ... Drrrt ... Drrt
Terdengar suata getaran ponsel Nando, Nando lalu segera mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Bu ..."
"Do, kau di mana sih Nak, ini Vania dan Mamanya sudah datang lho, ayo cepat pulang!" titah Lika ibunya.
"Iya Bu!" sahut Nando yang langsung naik ke dalam mobilnya.
****
Aneka hidangan telah siap tersaji di meja makan besar itu, aroma nikmatnya menggugah selera.
Vania dan Tante Rina ibunya sudah duduk di hadapan meja makan itu, juga Ricky, Lika dan keluarga Kezia, Kakaknya Nando.
"Aku tidak menyangka lho, kalau Vania ini ternyata adalah anak Jeng Rina, langganan butik keluarga kami, padahal baru saja aku minta Nando untuk mengenalkan keluarga Vania!" ujar Lika.
__ADS_1
"Sama Mbak, aku juga tidak mengira kalau Mbak Lika punya anak setampan Nando, orang yang sering di ceritakan Vania!" balas Tante Rina.
"Iiih Mama!" lirih Vania dengan semburat merah di wajahnya.
Tak lama kemudian Nando sudah tiba dan dia langsung duduk bergabung di meja makan itu.
"Kau dari mana saja sih Do! Dari dulu sifat cuek mu tidak berubah juga!" kata Ricky.
"Maaf Pa, tadi macet!" sahut Nando beralasan.
"Sudah kumpul semua, kita langsung makan saja ya, nanti malah keburu dingin!" ujar Lika.
Mereka langsung mulai menyantap makanan yang sudah tersedia di meja makan itu.
"Terimakasih Bu Rina dan Vania, atas kedatangan kalian, semoga bisa terjalin hubungan baik antara kita!" kata Ricky.
"Iya lho Jeng Rina, selama ini, cuma Vania yang pernah datang kemari, sebelumnya tidak pernah ada satupun perempuan yang datang, yah, begitulah Nando, cuek dan dingin sama perempuan!" tambah Lika.
"Lho, malah bagus dong Mbak, Nando berarti bukan playboy, dan biasanya yang model begini ini yang setia, iya kan Van!" ujar Tante Rina sambil menyenggol Vania yang tersipu malu.
"Langsung saja, kalau sekiranya mereka cocok, kita satukan saja mereka, Nando, kau cepatlah tembak Vania lalu kau lamar dia!" cetus Ricky.
"Uhukk! Uhukk!" Nando tiba-tiba terbatuk.
Buru-buru Vania mengambilkan segelas air putih lalu di sodorkannya pada Nando.
"Pelan-pelan Do!" ucap Vania.
"Terimakasih!" ucap Nando.
"Tuh coba lihat, Vania saja perhatian sekali sama Nando, rasanya Ibu senang sekali lho bisa punya menantu seperti Vania, iya kan Pa?!" Lika menoleh ke arah Ricky suaminya yang sedang asyik menyantap makanannya.
"Tapi mereka kan masih kuliah Mbak!" ujar Tante Rina.
"Tidak apa-apa dong masih kuliah, Nando kan juga sudah mandiri, punya perusahaan sendiri, dari pada lama-lama!" sahut Lika yang terlihat sangat antusias.
"Kalau aku sih setuju saja, Nando sudah dewasa sekarang, biarkan dia yang memulai, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya saja!" ucap Ricky.
Ada raut kebahagiaan dalam wajah Vania, impiannya selama ini yang sering dia tuangkan di buku hariannya, seolah menjadi nyata.
"Beri aku kesempatan untuk berpikir dulu, aku tidak mau buru-buru!" ujar Nando.
"Oke, tapi jangan kelamaan berpikir Do! Pokoknya kami semua yang ada di sini sedang menunggu keputusanmu, rubahlah sifat cuek mu itu sedikit!" sahut Ricky.
__ADS_1
****