
Hari ini Nando tidak berangkat ke kantor, seharian ini dia hanya tidur saja di apartemennya, karena sejak semalam Nando kurang tidur.
Sandra juga sebenarnya mengantuk, tapi dia harus menyusui dan menemani Kia. Apalagi Kia kini sudah mulai aktif dan mulai bisa di ajak main.
Sandra sudah menyiapkan makan siang, untuk mereka di meja makan apartemen itu, Kia nampak tertidur setelah Snafra menyusuinya dan mengajak nya bermain.
"Hmm, Papa dan anak sama saja! Kalau tidur begitu nyenyak dan santai!" gumam Fitri.
"Do, Nando, mau sampai kapan kau tidur terus?" tanya Sandra berusaha membangunkan Nando.
Nando tetap tak bergeming, dia bahkan kembali memeluk gulingnya.
Ting ... Tong ...
Tiba-tiba bel pintu apartemen Nando berbunyi.
Sandra kemudian beranjak dari tidurnya dan melangkah menuju ke pintu depan.
Perlahan dia mulai membuka pintu apartemen itu.
"Selamat siang, maaf mengganggu, apakah Nando ada di dalam?" tanya seorang laki-laki yang ternyata adalah Adi itu.
"Ini, Adi ya ... teman Vania itu kan?" tanya Sandra meyakinkan.
"Yah benar, bukankah kita pernah bertemu sebelumnya? Ah, mungkin wajahku terlaku pasaran!" sahut Adi.
"Masuklah Di, Nando masih tidur!" ajak Sandra
Adi masuk dan langsung duduk di sofa ruang tamu itu.
"Aku minta maaf mengganggu kalian, Nando pasti capek semalaman berjaga di rumah sakit, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan tugasku!" ujar Adi.
Sandra lalu masuk ke kamar hendak membangunkan Nando.
"Do, bangun Do, ada Adi di depan!" ujar Sandra sambil mengguncang lembut punggung suaminya itu.
Mendengar nama Adi, Nando langsung membuka matanya dan melonjak bangun.
"Mau apa dia kesini??" tanya Nando.
"Mana aku tau, dia mencarimu, ayo cepat cuci muka mu dan temui dia!" sahut Sandra.
Nando lalu mencuci mukanya di wastafel, kemudian bergegas menemui Adi yang sudah menunggu di depan, sementara Sandra menggendong Kia menyusul Nando di belakangnya.
"Nando, maaf telah mengganggu tidurmu, aku datang katena ada yang ingin aku bicarakan padamu!" kata Adi.
Sandra membawakan secangkir kopi panas untuk Adi.
"Silahkan Di, minumlah!" tawar Sandra.
"Terimakasih!"
"Sekarang katakan, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Nando yang kini duduk di hadapan Adi.
__ADS_1
"Nando, kau tau kan kini kondisi Vania semakin lemah, Dokter mengatakan kalau dalam kasus penyakit seperti Vania, kemungkinan hidupnya juga tidak akan lama lagi!" kata Adi.
"Ah, itu kan hanya prediksi Dokter, Dokter kan juga manusia, urusan umur itu di tangan Tuhan!" tukas Nando.
"Aku tau Do, tapi intinya Vania sakit, dan saat ini dia terlihat lemah dan ... putus asa!" ujar Adi.
"Apa yang membuat Vania begitu putus asa?" tanya Sandra yang sejak tadi diam saja.
"Entahlah, tapi sepertinya Vania tidak lagi memiliki harapan apapun, padahal seringkali aku memberikan dia semangat dan motivasi, itu yang membuat kondisinya semakin lemah!" ungkap Adi.
Sesaat mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing, Nando dan sandra sebenarnya juga bingung dan belum bisa memberikan solusi, apalagi kini Vania seorang diri tanpa teman yang menemaninya.
"Aku ingin menikahi Vania!" ucap Adi tiba-tiba.
Nando dan Sandra terperangah mendengar ucapan Adi.
"Apa?? Menikahi Vania? Tapi bukankah kau tau saat ini dia sedang terbaring di rumah sakit? Bagaimana bisa kau menikahinya?" tanya Nando.
"Ya kan bisa di laksanakan di rumah sakit upacara pernikahannya, supaya aku bisa lebih leluasa membantunya!" jawab Adi.
"Adi benar Do, selama ini mungkin cuma Adi yang menemani Vania, akan lebih baik jika mereka menikah, jadi tidak ada saling sungkan di antara mereka, tapi ... apa kau benar-benar siap menikahi Vania dengan segala keterbatasannya Di?" tanya Sandra.
Adi nampak menghela nafas panjang.
"Aku siap, karena aku memang mencintai Vania, ingin sekali aku berada di sisa-sisa hidupnya, mengukir kenangan yang indah, dan membuat dia bahagia!" ucap Adi.
"Aku salut padamu, kau pria sejati dan berjiwa besar! Laksanakan niat hatimu itu, aku akan mendukung mu!" kata Nando.
"Terimakasih! Aku akan persiapkan segala sesuatunya, mungkin aku tidak akan mengundang siapapun, kecuali kerabat terdekat dan Ibu asuhku saja!" ujar Adi.
"Aku belajar banyak dari seorang sahabat, katanya hanya cinta yang bisa menyembuhkan luka, aku berharap melalui niatku ini, maka Vania akan sembuh!" jawab Adi.
"Kalau begitu kau harus mengabariku, kapan kau akan melaksanakan niatmu itu!?" tanya Nando.
"Mungkin di akhir pekan ini, semakin cepat semakin baik!" sahut Adi.
"Aku doakan semuanya berjalan lancar Di, jangan sungkan meminta bantuan kami!" ujar Sandra.
"Kalau begitu aku pamit, Trimakasih banyak atas semua dukungan kalian!" kata Adi yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Setelah kepergian Adi, Nando dan Sandra kembali duduk di sofa itu, saling memikirkan perihal rencana Adi yang baru saja di dengarnya.
"Nando, kau ikhlas kalau Adi menikahi Vania?" tanya Sandra.
"Kenapa kau hanya begitu?" Nando balik tanya.
"Ya kan Vania itu pernah jadi istrimu!" sahut Sandra.
"Kalau Adi memang benar-benar tulus, kenapa aku harus tidak ikhlas?" gumam Nando.
Kia mulai rewel, dengan cepat Sandra langsung menyusuinya, Kia akan menangis keras jika Sandra tidak segera memberinya susu.
"Sepertinya Kia mewarisi sifat Papanya!" kata Sandra.
__ADS_1
"Mewarisi apa?"
"Keras kepalanya!" cetus Sandra.
"Kapan kita makan? Perut ku sudah lapar!" tanya Nando.
"Itu di meja sudah sejak tadi aku siapkan!" ujar Sandra.
Nando segera beranjak menuju ke meja makan, dia langsung melahap makanannya itu.
Sandra kemudian menyusulnya dan duduk di hadapannya, masih menggendong Kia.
"Do, kapan-kapan kita jenguk Vania ya, aku ingin bertemu dengannya!" kata Sandra.
"Lalu Kia bagaimana?" tanya Nando.
"Kia kan bisa di titipkan sebentar sama Ibu atau Kak Kezia, aku ingin sekali bicara pada Vania, walau bagaimana, aku dan dia itu kan bersahabat, di saat seperti ini, seharusnya aku bisa ada untuknya!" ucap Sandra.
"Baiklah, nanti aku akan mengantarmu!" sahut Nando.
"Kapan Do?" tanya Sandra tak sabar.
"Nanti sore lah, aku masih mau tidur dulu, ngantuk!" sahut Nando.
"Jiah baru juga bangun, masa mau tidur lagi!!" sungut Sandra.
Setelah makan Nando kembali ke kamarnya dan langsung memeluk gulingnya
"Iiih dasar Nandoo!!" seru Sandra gemas.
Tring ... Tring ...
Terdengar suara ponsel Nando berbunyi, Sandra langsung mengambilkan ponselnya Nando dan menyodorkan pada suaminya itu.
"Angkat Do!" ujar Sandra.
"Malas ah, kau saja yang angkat!" tukas Nando masih dalam posisinya memeluk guling.
Sandra lalu mulai mengusap layar ponsel suaminya itu.
"Halo!"
"Halo, selamat siang, bisa bicara dengan Pak Nando?" tanya suara di seberang.
"Eum, dia sedang ... di toilet, ini dari mana? Apakah ada pesan? Saya istrinya!" tanya Sandra.
"Oh, begini Bu, saya dari kepolisian tahanan pusat, ingin menginformasikan bahwa tahanan Ibu Rina terkena serangan jantung, dan nyawanya tidak bisa diselamatkan, dia meninggal di penjara!" jelas polisi itu.
"A-Apa?? Tante Rina meninggal??" tanya Sandra nyaris tak percaya.
"Benar Bu, kami mengubungi Pak Nando agar pihak keluarga segera mengurus untuk pemakamannya!" jawab polisi itu.
Tubuh Sandra langsung lemas seketika.
__ADS_1
Bersambung ...
****