Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Berita Tak Terduga


__ADS_3

Nando dan Vania masih nampak duduk mengantri di depan sebuah ruangan praktek Dokter kandungan.


Malam itu tidak terlalu banyak pasien yang mengantri.


Seorang perawat datang menghampiri mereka.


"Ibu Vania? Silahkan masuk!" kata sang perawat.


Nando dan Vania kemudian masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang dokter wanita yang duduk di hadapan meja kerjanya.


"Begini Dok, kami ingin memeriksakan kesuburan kami, sudah sekitar tiga bulan lebih kami menikah, tapi belum ada tanda-tanda kalau saya akan hamil!" ungkap Vania.


"Oh, baiklah saya akan mulai memeriksakan kandungan anda dulu, silahkan berbaring!" ujar sang Dokter.


Vania kemudian berbaring, sang Dokter itu pun segera memeriksakan kandungan Vania dengan sebuah alat USG.


Baru beberapa menit memeriksa, wajah sang Dokter nampak terkejut.


"Bu Vania, apakah anda ada kendala mengenai siklus datang bulan anda?" tanya Sang Dokter.


"Benar Dokter, sudah lama datang bulan saya tidak lancar, terkadang perut saya begitu sakit dan nyeri!" ungkap Vania.


"Sepertinya ada sesuatu di rahim anda, mungkin itu yang menghalangi anda bisa hamil, saya kasih rujukan anda untuk pemeriksaan lebih lanjut!" ujar Dokter itu.


"Benarkah Dokter? Apa yang terjadi dengan rahim saya?" tanya Vania dengan wajah cemas.


"Ini seperti kista, ukurannya lumayan besar, tapi bisa jadi itu juga adalah tumor atau kanker, jika itu benar, berarti memang anda akan kesulitan untuk memiliki anak!" jelas Dokter.


"Tenang Vania, tidak ada yang mustahil di dunia ini, kau jangan terlalu khawatir!" hibur Nando sambil menggenggam tangan Vania.


"Saran saya, kalian harus mengambil tindakan cepat, karena ini sangat cepat perkembangannya, gejalanya sudah mulai nampak, saya akan kasih rujukan Dokter ahli penyakit dalam!" Dokter itu beranjak ke mejanya dan menuliskan sesuatu di sebuah kertas.


Perlahan Vania turun dan dengan lesu duduk di hadapan Dokter, Nando merengkuh bahu Vania untuk menenangkannya.


"Dokter, apakah usia saya tidak akan lama lagi?" tanya Vania.


"Saya bukan Tuhan yang bisa menentukan usia seseorang, Bu Vania harus tetap optimis dan semangat, di saran saya, Pak Nando beritahukan keluarga besar, Bu Vania sangat butuh dukungan dan motivasi, hanya keluarga yang bisa punya andil yang besar!" jelas Dokter.

__ADS_1


"Iya Dokter, tapi ini bisa di sembuhkan kan?" tanya Nando.


"Semua penyakit pasti bisa di sembuhkan, semuanya tergantung kehendak Tuhan, selama ini, mungkin Bu Vania sering ada keluhan, hanya saja tidak memperhatikan, padahal itu penyakit serius, saya akan beri vitamin untuk daya tahan tubuhnya!" jawab Dokter.


Setelah berkonsultasi, Nando lalu membimbing Vania keluar dari ruangan itu.


Mereka kemudian duduk di bangku koridor depan ruangan itu. Vania tiba-tiba menangis dan langsung memeluk Nando.


"Nando, aku sakit ... aku sakit ... maafkan aku Nando, aku tidak bisa memberikanmu seorang anak, maafkan aku!" isak Vania.


"Van, jangan minta maaf padaku, kau tidak salah apapun, aku tidak perduli kau akan bisa punya anak atau tidak, yang penting kau bisa sembuh, tetaplah semangat Van, seperti Vania yang aku kenal dulu!" ucap Nando.


"Nando, setelah kau tau kondisiku seperti ini, apakah kau akan meninggalkan aku?" tanya Vania sambil menatap Nando dengan matanya yang basah.


"Tidak Vania, aku tidak akan meninggalkanmu!" jawab Nando.


"Terimakasih Nando, Nando yang membuatku ingin hidup lebih lama lagi!" ucap Vania.


"Kita akan berobat Vania, bahkan jika perlu berobat ke luar negri, kita cari Dokter yang terbaik, apapun akan ku lakukan asal kau sembuh!" bisik Nando.


Tiba-tiba mata Vania menangkap dua orang yang sedang duduk mengantri di bangku sudut depan ruangan itu, dia langsung melepaskan pelukan Nando.


"Nando, aku tidak salah lihat kan, itu Sandra Nando, Sandra masih hidup!" seru Vania sambil menunjuk ke arah Sandra dan Mirna yang baru sampai dan duduk mengantri.


Matanya tertuju pada perut Sandra yang kini terlihat membukit. Tiba-tiba jantung Nando berdegup sangat cepat, hatinya sangat galau dan sulit di lukiskan dengan apapun.


"Ayo Do, kita dekati Sandra, aku senang akhirnya bisa kembali bertemu dengan sahabatku!" ujar Vania senang sambil menarik tangan Nando menuju ke bangku Sandra dan Vania duduk.


Sandra dan Mirna membulatkan matanya saat Vania dan Nando kini ada di hadapannya, mereka tidak bisa lagi menghindar.


"Sandra! Kau kemana saja! Aku pikir kau sudah yg tiada San, syukurlah akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi!" ucap Vania sambil memeluk Sandra.


Vania tiba-tiba merasakan sesuatu, kemudian dia menatap perut Sandra.


"Sandra, kau sedang hamil?" tanya Vania. Sandra nampak gugup.


"I-Iya Van! Ini kenalkan temanku, Mirna!" singkat Sandra mengalihkan pembicaraan.


Vania dan Mirna kemudian saling menjabat tangan.

__ADS_1


"Kalian tinggal di mana sekarang?" tanya Vania.


"Kami ... kami ..."


"Kami tidak tau mau tinggal di mana lagi, kami sudah di usir oleh pemilik kontrakan karena Sandra hamil di luar nikah!" potong Mirna cepat.


"Apa? Jadi Sandra hamil di luar nikah? Kasihan sekali kalian ..." ujar Sandra.


"Tapi tenang saja, kami sudah terbiasa hidup susah, kalian jangan cemas!" ucap Sandra.


Vania lalu menoleh ke arah Nando yang sedari tadi diam saja.


"Nando, rumah kita kan sangat besar, apakah kau mengijinkan Sandra dan Mirna tinggal sementara di rumah kita, aku juga butuh teman Nando!" pinta Vania.


"Aku ... Aku ... tidak tau Van!" sahut Nando gugup.


"Tidak usah repot, kami akan mencari tempat tinggal sendiri, aku senang melihat akhirnya kalian bisa bersama!" tukas Sandra.


Kemudian Sandra berdiri dan menarik tangan Mirna pergi meninggalkan tempat itu.


"Sandra! Kau mau kemana?? aku masih kangen tau!!" seru Vania.


Sandra dan Mirna terus berjalan, padahal mereka belum sempat masuk ke ruangan Dokter untuk konsultasi.


"Nando, ayo kita kejar Sandra! Nanti dia hilang lagi!! Kau kenapa sih? Dari tadi diam saja!!" ujar Vania yang kemudian menarik tangan Nando.


Sandra dan Mirna nampak berdiri di depan lobby menunggu taksi.


Vania memegang bahu Sandra dari belakang.


"Jangan pergi aku mohon ..." ucap Vania. Sandra menoleh.


"Biarkan aku pergi Van, bukankah kau sudah bahagia dengan Nando!" tukas Sandra.


"Aku mohon San, aku tidak tau lagi berapa lama lagi aku akan bertahan hidup, aku hanya ingin tinggal dengan orang-orang yang menyayangiku!" ucap Vania.


Sandra lalu menoleh ke arah Nando, di tatapnya sekilas wajah yang selalu membuat hatinya bergetar.


"Tinggalah bersama kami, demi Vania!" ucap Nando lirih.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2